Aleks Ofong Beri Perhatian Khusus pada Pengeboman Ikan di Selatan Lembata

Aleks Ofong Beri Perhatian Khusus pada Pengeboman Ikan di Selatan Lembata
Aleksander Take Ofong, anggota DPRD Provinsi NTT saat berbicara di hadapan warga Desa Seranggorang, Kecamatan Lebatukan, dalam kegiatan reses, Senin, 18 Oktober 2021.

 

Lembatanews.com – Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi Partai NasDem Aleksander Take Ofong memberikan perhatian khusus terhadap kerusakan biota laut yang disebabkan penangkapan ikan menggunakan bom oleh para nelayan. Ia tidak menduga perilaku buruk para nelayan itu masih ada, di tengah larangan dan ketatnya patroli perairan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bekerja sama dengan Polairud Polda NTT.

Hal itu ditegaskan Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Provinsi NTT Aleksander Take Ofong menjawab keluhan warga saat reses di Dusun Lewota’a, Desa Seranggorang, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Senin, 18 Oktober 2021.

Aleks Ofong menegaskan, pemeri tah sudah secara tegas melarang penggunaan bom dalam menangkap ikan. Adanya larangan itu, seharusnya nelayan sudah tidak lagi menggunakan bom.

“Pikirnya sudah berkurang bahkan sudah tidak ada lagi (penangkapan ikan menggunakan bom) mengingat Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten melalui Polisi Perairan sudah awasi ketat perilaku menyimpang nelayan,” tegas Aleks Ofong.

Dikatakannya, penggunaan bom untuk menangkap ikan akan sangat merusak biota laut, merusak rumah ikan, dan keindahan dasar laut menjadi berkurang. Akibatnya, ikan tak bisa berkembang biak secara baik karena rumah ikannya sudah dirusak.

Penggunaan bom, lanjutnya, juga menyebabkan keindahan terumbu karang dan keindahan bawah laut yang merupakan daya tarik wisatawan menjadi hilang. Hal itu akan membuat orang enggan datang ke wilayah Lembata.

“Informasi ini akan saya sampaikan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan NTT agar kerja sama dengan Polair perketat pengawasan di selatan Lembata,” kata Aleks Ofong.

“Saya akan cek ke Dinas Perikanan dan Kelautan dan koordinasi dengan Polair. Saya heran nih masih ada nelayan yang gunakan bom untuk tangkap ikan. Kalau masa Menteri Ibu Susi sudah ditenggelamkan nih,” katanya.

Dalam reses kali lalu di Lembata, katanya, ia juga sempat memfasilitasi penyelesaian masalah penangkapan ikan di Teluk Lewoleba antara nelayan tradisional dan nelayan penangkap yang menggunakan alat tangkap modern.

Selain itu, ia juga turun tangan dalam seteru penangkapan Pari Manta oleh masyarakat nelayan di Solor. Waktu itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menunjuk Balai Besar Konservasi Laut di Bali turun ke Lamakera, Solor, Kabupaten Flores Timur guna menyelesaikan persoalan penangkapan pari manta oleh para nelayan.

Di satu sisi, pemerintah melarang penangkapan pari manta yang dilindungi pemerintah karena terancam punah. Namun, di sisi lain, masyarakat nelayan sudah terbiasa menangkap pari manta untuk kehidupannya karena sangat diminati dan masyarakat sudah menggantungkan hidupnya dari penangkapan dan penjualan pari manta.

Karena itu, lanjutnya, saat memfasilitasi penyelesaian, ditawarkan solusi pengadaan kapal dan alat tangkap sebagai kompensasi nelayan mengubah cara penangkapan dan beralih dari menangkap pari manta ke menangkap ikan jenis lainnya.

Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) Seranggorang Theodorus Tanda Kotan dalam sesi dialog mengungkapkan fakta maraknya pengeboman ikan di laut Selatan Lembata. Pengeboman dilakukan oleh nelayan asal Kabupaten Alor.

Terkait persehatian batas kabupaten di pantai selatan, kata Kotan, banyak aktivitas pencarian ikan menggunakan bom oleh nelayan dari Alor yang sebabkan kerusakan terumbu karang.

“Nelayan Alor bukan mencari ikan pakai pukat tapi pakai bom. Masyarakat saat turun melaut di sana menemukan fakta tak gunakan pukat tapi pakai alat peledak. Karena itu, kalau bisa kami minta ada Posko pengaman/pemantauan laut kabupaten di wilayah pantai selatan agar jaga laut tak dirusak nelayan dari luar,” tegas Kotan. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *