Anak Dianiaya dan Ditelanjangi, Ibu Kandung Korban: Saya Tidak Akan Mau Berdamai

Anak Dianiaya dan Ditelanjangi, Ibu Kandung Korban: Saya Tidak Akan Mau Berdamai

Korban Mohamad Rizal Saputra (kanan duduk di lantai) saat istirahat menjalani pemeriksaan di Unit PPA Polres Lembata, Jumat (29/11).

Lembatanews.com – .Kasus kekerasan terhadap anak di bawah umur kembali terjadi di Kabupaten Lembata. Kali ini menimpa Muhamad Rizal Saputra, seorang anak berusia 17 tahun lima bulan yang masih duduk di bangku kelas X SMAN 2 Nubatukan. Korban dianiaya oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata Abdul Syukur Wulakada dan istrinya Iswanti Rahayu, bersama Ali Betan, pada Rabu (27 November 2019) malam di kediaman orangtua pelaku.

Wiwik Astuti Lubis, ibu Rizal, korban penganiayaan kepada wartawan saat mendampingi anaknya diperiksa di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Lembata mengaku sangat menyesalkan tindakan penganiayaan terhadap anaknya.

Akibat penganiayaan itu, anaknya kesulitan tidur. Saat tidur dia selalu gelisah. Demikian pula saat makan, ia sudah membuka lebar mulutnya.

Penganiayaan itu juga mengakibatkan anaknya mengalami memar dan luka di bagian muka dan hidung, kedua belah telinganya terdapat bekas sulutan rokok, dan lututnya juga sakit karena dipukuli dengan batu. Perutnya juga sakit karena diinjak para pelaku

“Sebagai ibu, saya tidak terima kalau anak saya dipukul seperti itu. Tidak ada kata damai. Harus diproses terus,” kata Wiwik Lubis.

Kasus ini juga mendapat respons positif Polres lrmbata. Setelah dilaporkan, polisi sigap dan langsung melakukan penyelidikan. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Lembata Iptu I Komang Sukamara kepada wartawan, Jumat (29 November 2019) menjelaskan kronologi kasus penganiayaan itu.

Dia menjelaskan, kejadian penganiayaan itu bermula dari ayah pelaku tahu anaknya berada bersama korban di rumahnya saat ia dan istrinya tak berada di rumah. Saat itu, tersangka pelaku mengusir korban dan memarahi anaknya kenapa.membawa anak laki-laki masuk rumah saat pelaku dan istrinya tak berada di rumah.

“Karena anaknya ketakutan, lalu berdalih HP-nya dicuri korban, sehingga bapaknya mau koordinasi lapor polisi. Dan karena niat baik, tersangka hadirkan korban di rumahnya dan pihak keluarga tersangka terima dan korban bersama keluarga menghadap tersangka,” terang Sukamara.

Namun, saat korban dan ayahnya tiba di rumah pelaku, korban langsung dipukuli oleh tersangka bersama.isti dan pelaku lain. Bahkan, ada pelaku yang memukul, menyulut rokok, dan memasukan pasir ke telinga korban.

Polisi, lanjutnya, sudah membawa korban untuk divisum dan pemeriksaan saksi korban dan saksi-saksi lainnya sudah dilakukan.

Pelaku, lanjutnya, juga sudah datang pada Kamis (28 November 2019), namun belum diperiksa karena belum dilakukan pemeriksaan korban dan saksi.

“Tersangka pelaku baru dapat diperiksa setelah pemetiksaan korban dan saksi,” kata Sukamara.

Penyidik menetapkan pasal 170 ayat 1 KUHP dan UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Polisi Unit PPA Polres Lembata pada Jumat (29 November 2019) telah memeriksa korban dan ayahnya Mahmud Doni serta empat orang saksi lainnya. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *