Bedah Buku EYS Sang Fenomenal, ini Tinjauan Filsafat, Ekologis, Etnologis dan Sastrawi dari Pembedah

Bedah Buku EYS Sang Fenomenal, ini Tinjauan Filsafat, Ekologis, Etnologis dan Sastrawi dari Pembedah
Acara launching dan diskusi buku EYS Sang Fenomenal, di LSM Pondok Perubahan, Minggu, 5 November 2021.

 

Lembatanews.com – Buku EYS Sang Fenomenal dan Gagasan Sang Fenomenal yang ditulis Frederikus Wahon dibedah dari empat tinjauan, yakni tinjauan Filsafat, Ekologis, Etnologis, dan Sastrawi. Hadirnya buku ini pun telah menimbulkan diskusi hangat netizen di dunia Maya. Buku ini mengisahkan perjalanan Bupati Lembata dua periode almarhum Eliaser Yentji Sunur.

Seperti apa tinjauan para pembedah dalam launching dan diskusi buku ini pada Minggu, 5 November 2021 malam yang digelar di markas LSM Pondok Perubahan dan dipandu Aleksander Paulus Taum, berikut catatannya.

Fransiskus Limawai Koban dalam diskusi buku dari tinjauan etnologis mengatakan, saat dimintai penulis untuk menulis tentang EYS, ada banyak hal yang ada di otak, hanya saja tidak ada hal positif tentang EYS. Ia akhirnya dikirimi pertanyaan oleh penulis untuk dijawab secara tertulis. Setelah mengirimkan tulisan kepada penulis, ia katakan jika tulisan terlalu keras, jangan dimuat karena dikhawatirkan membuat penggemar EYS kecewa.

Ketika membaca buku tersebut, ia membandingkan tulisan Charles More yang menulis tentang Margareth Thatcher, Perdana Menteri Inggris. Ternyata, penulis menulis fenomena EYS selama berkuasa. Penulis mengurutkan fenomena EYS selama berkuasa hingga dijuluki fenomenal.

“Ketika kata ini muncul pertama konsep saya dia yang hadir menampilkan di luar dari biasa, akibatnya baik dirasakan banyak orang dan manfaatnya dirasakan banyak orang. Lalu Fredy tulis Yance fenomenal ini apa yang ditampilkan Yance. Fredy mengurutkan hal fenomenal ada tiga hal penting bagaimana Yance tempatkan pariwisata jadi leading sektor padahal ini urusan pilihan. Apakah yang ini disembunyikan kenapa begitu getol urus pariwisata. Kenapa tidak lihat kehidupannya di Jakarta. Ketika membaca ini menurut saya Yance ini sang ilusif. Duduk membayangkan sesuatu yang menyenangkan, menghibur hati dia. Apakah Fredy yang mau sembunyikan ini atau malu hati dengan Yance sehingga tidak ditulis,” kata Koban.

Terkait ketidakhadiran EYS di KPU saat Pilkada, Koban menikai karena EYS tak mampu berdebat. Hal itu juga tampak saat di Dewan, ketika ditanya pun ia sulit menjelaskan.

Sedangkan terkait konsep Uyelewun Raya, kata Koban, sebenarnya sudah muncul saat Jhon Lake maju calon bupati untuk membangun rasa orang Kedang untuk bersatu. Jhon Pati Atarodang pun menurut Koban, sering pula menyebut Uyelewun Raya.

Terkait penulisan buku EYS Sang Fenomenal, secara etnologis, meneliti perbedaan perilaku dan cara orang dan perbedaan pola pikir dan pola perilaku.

“Menulis ini bagi saya menulis sesuatu yang kontroversial yang ketika didengar langsung bereaksi. Fenomenal dihubungkna satu figur yang sangat sensitif di Lembata. Bagi saya bung Fredy juga tidak fenomenal tapi kontroversial. Dia menulis seorang yang fenomenal tapi dia sendiri kontroversial. Melihat judulnya saja orang bilang dia menulis puji Yance,” katanya.

Penulis buku EYS Sang Fenomenal Fred Wahon menyerahkan buku kepada Dinas Kominfo Lembata selaku penerbit buku.

 

Menulis tentang Yance, lanjutnya, bukan soal Yance tetapi soal siapa yang menulis. Dan penulis kontroversialnya keluarnya buku ini mengganggu banyak orang dengan menampilkan satu tokoh yang fenomenal.

“Bagi saya Yance seorang tokoh yang ilusif. Alfred Serma memuji Margareth Thatcher sebagai seorang wanita yang memiliki keyakinan bukan gagasan. Bung Fredy menampilkan Yance dengan seluruh gagasannya. Tapi tidak yakin Yance dikenang sebagai pemimpin yang baik,” tandasnya.

Yurgo Purab, jurnalis muda dari tinjauan sastrawi mengawali dengan berangkat dari kecurigaan Filsuf Paul Ricouer. Dalam teologi Feminis, Paul bicara mengenai Hermeneutika. Ada hermeneuitika kecurigaan dan hermeneutika kenangan.

Di dalam hermeneutika kecurigaan, lanjutnya, patut curiga pada teks yang disodorkan penulis, ada apa di belakang tulisan. Sementara itu, harus pula melihat kenangan- kenangan dahulu sebagai komparasi untuk mengetahui secara jelas keutuhan gagasan sang pemimpin dan sepak terjangnya dalam membangun Kabupaten Lembata.

“Untuk itu, dalam kritik sastra dikenal ada istilah rekuperasi (perebutan makna). Setiap pembaca berlaku sebagai rekuperasi. Makna karya direbut oleh pembaca. Artinya, pembaca harus memberi pemaknaan terhadap karya itu bagi dirinya,” kata Purab.

Sebelum masuk lebih jauh ada beberapa catatan terhadap buku tersebut. Pertama, ia membedah buku yang memuat tulisan dan gagasan EYS bukan membedah sosok EYS. Perlu dibuat sebuah distingsi atas dua cermatan di atas. Meski, di dalamnya akan bicara juga terkait sosok EYS sebagai pejabat publik, dalam hal ini Bupati Lembata. Kedua, apa intensio dantis( intensi penulis) atas terbitnya anak sulung karya ini.

“kita bisa bertanya, apakah ada usaha “pengkultusan” terhadap sosok EYS sehingga dijuluki sebagai Sang Fenomenal. Atau penulis mau menggambarkan siapa itu sosok EYS yang seabrek kisah hidupnya belum diketahui banyak orang,” kata dia.

Dari situ, lanjutnya, bakal memahami siapa itu EYS , sosok yang cukup kontroversial di jagat maya karena gagasan-gagasannya yang kerap menembus kaca/melanggar tembok.

Secara konvensional, lanjut Purab, tulisan itu terlepas dari pandangan subjektif penulis. Penulis cukup banyak menyertakan narasumber dan ulasan mengenai tiga waktu, masa lalu, sekarang, dan yang akan datang. Ada historisitas yang dibangun dalam cerita contoh dulu SMA St. Ignasius, lalu berubah nama SMA Negeri 468 Larantuka dan sekarang SMA Negeri 1 Larantuka. Lalu kisah mengenai pelayaran di Balauring -Makasar tempo itu lebih dekat ketimbang ke Jawa dan sekitarnya hingga perdagangan semasa Yen memilih melanjutkan kuliahnya. Juga, tentang Yen, yang begitu akrab dengan sesama pemeluk agama lain. Di situ tampak sekali penulis cukup aktif menggali historisitas kehidupan EYS.

Kedua, soal kisah Maria yang ditulis penulis amat banyak. Gambaran itu amat luas. Gambaran awal dari beberapa sumber Wikipedia, dsb itu cukup luas. Bahkan beberapa halaman memang, ketimbang bicara tentang Yen yang selalu ke mana-mana membawa pigura Maria. Karena gambaran Maria itu sudah ada dalam keempat injil Sinoptik juga dalam alquran itu bisa dibaca dalam surat Al-Mariam juga sebagai pembanding lain kita bisa baca pada surat Al-quran, Ali Imran. Sehingga sedapat mungkin sebagian kisah Maria dalam dua agama tadi boleh dihilangkan. Karena saya menilai terlalu banyak dan bisa jadi semacam “kuliah” singkat Islamologi. Kedua, saya lihat ada beberapa kalimat yang tersambung meski sebenarnya tidak sambung. Dan saya yakin itu soal pengaturan saja.

“Tema yang dibangun dari setiap tulisan amat menarik semisal, ditolak banten berteduh di beringin, selata: bumbu literasi yang kandas,” terangnya.

Penulis, kata dia, berusaha membentangkan Kekayaan diksi-diksi, berusaha membangun kedalaman dari setiap alur cerita yang biasa, dan menjadikannya luar biasa. Di situ, ia melihat ketegasan penulis. Ia mengacuhkan realitas biasa dan menjadikannya luar biasa. Bukan sekadar tulisan yang dianggap membesarkan EYS, tetapi juga beberapa tulisan yang justru berbeda haluan. Ada antithesis yang dibangun, seperti wawancara ekslusif dengan Fery Korban lawan politik EYS sendiri. Juga beberapa soal semacam pemakzulan, demonstrasi, juga beberapa soal tak lupa dimasukan penulis. Inilah jembatan penulis menghubungkan ide-ide.

“Tulisan ini, bagi saya amat kaya. Karena mencounter berbagai perspektif seperti humanitas, historisitas, religiusitas, hospitalitas, sosialitas, pendidikan dan juga ekososbud. Secara umum, penulis hemat saya berhasil mengunci rasa lapar pembaca dengan diksi-diksi yang terpilin, mengalir dan renyah,” kata Purab.

Penulis, lanjutnya, bisa jadi menghantar pada kisah EYS semasa kecil tanpa disadari. Emosi dibuatnya ikut terlibat di dalamnya.

Bentangan tema pertama hingga akhir tak ada repitisi/pengulangan yang berarti. Hampir sebagian tulisan dikemas dengan ringan dengan gaya cerita sehingga pembaca seperti dihantar masuk pada realitas hidup EYS.

Selanjutnya dalam buku gagasan EYS, sedikit tidaknya tercebur masuk juga dalam biografi hidupnya. Tapi, ada perbedaan yang mencolok. Gagasan itu dikemas lebih mendalam sedang biografi hanya menyentil sedikit gagasan EYS.

Di dalam diskusi-diskusi lain, lanjut ya, ia pernah bicara mengenai Roland Barthes, dengan dalil Ekserkusi (kematian penulis), “Om Fred, dkk sudah menulis, dan penulis mati. Kami pembaca berusaha mengalami rekuperasi, berusaha merebut makna tulisan tersebut. Dalam karya sastra penulis harus memiliki tiga hal, yakni decore (memberikan sesuatu kepada pembaca), delectare (memberikan kenikmatan melalui unsur estetika), dan movere (mampu menggerakan kreativitas pembaca),” terang Purab.

Dalam buku ini, juga termuat tiga hal tersebut. Pertama unsur estetika, atau menyuguhkan kenikmatan bagi pembaca. Ia masuk. Di dalamnya termuat beberapa puisi milik EYS dan puisi anak muda.

“Soal memberikan sesuatu kepada pembaca. Setiap pembaca mengambil beban merah tulisan masing-masing. Saya bisa belajar, seorang tokoh Yance, yang begitu kurus tidak dianggap pada masanya, bahkan sering dibuli bisa jadi orang besar berkat kegigihan dalam melakoni dunia politik. Pembaca juga bisa belajar dari sosialisasi seorang Yance, yang bergaul tidak pilih-pilih semasa dia belum jadi Bupati,” kata Purab.

Musisi Flores Timur Fiano Watu saat tampil menghibur di acara launching dan diskusi buku EYS Sang Fenomenal.

 

Multi Tafsir

Antonius Suban Kleden yang akrab disapa Toni Kleden dalam paparannya dari kajian filosofis mengatakan, EYS Sang Fenomenal melahirkan banyak tafsiran, kisah, dan cerita. Ada yang bernada minor, miring, tapi ada pula yang bernada positif. Hal itu menurutnya biasa, karena tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang benar semua, ada baik dan buruknya yang dalam falsafah China dikenal dengan Yin dan Yang.

“Konsep ini mendeskripsikan setiap kekuatan yang selalu berlawanan, bertentangan. Konsep ini orang China mau katakan segala sesuatu yang ada selalu punya kekuatan yang selalu bertentangan, ada siang ada malam, ada baik ada buruk. Itu konsep Yin dan Yang. Kita bisa mengerti pisau bagus untuk potong babi, tapi tidak bagus untuk potong manusia. Saya pikir EYS ini bagus kalau pahami dia dari perspektif sudut pandang Yin dan Yang,” kata Kleden.

Ia mengatakan, falsafah Yin dan Yang sangat kuat melekat pada EYS. Karena itu kebijakan yang kontroversial memperlihatkan visinya jauh ke depan. EYS ingin melihat Lembata 50 tahun ke depan dan ingin melihat Lembata berjaya setelah meninggal.

Suka tidak suka, lanjutnya, orang Lembata akan mencatat nama EYS sebagai bupati yang pada masanya mendongkrak banyak hal terutama pariwisata yang merupakan pilihan namun dijadikan utama dan leading sektor pembangunan di Lembata.

Apalagi, saat menjabat, Lembata baru selesai dengan isu menolak tambang. Sehingga EYS muncul dengan industri pariwisata, industri tanpa asap dan menginginkan agar suatu saat nanti, punya kiblat di sektor pariwisata.

Sementara Petrus Pulang, seorang akademisi yang membedah dari tinjuan ekologis mengemukakan, EYS sang fenomenal menjelaskan leader-nya dan gagasan fenomenal menjelaskan leadership-nya.

Berdasarkan risetnya pada 2017 atas permintaan KPU, ia menegaskan bahwa berdasarkan tabulasi kualitatif, EYS masih berpeluang menang. Yang memenangkan EYS bukan opini tetapi yang memenangkan dia adalah kasih. Ia berkeliling dari kampung ke kampung dan di belakang ia memeluk semua orang.

Menjelaskan kefenomenalan EYS tidak bisa dijelaskan tanpa melihat, mereviu kont KS gerakan sosial di Lembata yang kurang asosiatif dan terlalu distributif. Karena, ada dua hal berbeda antara konteks leader dan leadership dan sebagai orang lingkungan, ia merangkum dua buku dalam konteks ekoleadership, kepemimpinan lingkungan.

Ia menegaskan pula bahwa ketika melihat beberapa RPJMD, ia melihat perbedaan pada EYS. “Yance memiliki sistem thinking yang berbeda. Cara berpikir yang berbeda. Di otaknya itu golmap. Tidak bicara soal output, tidak bicara soal outcome, intermediate dan mediate. Apa gol besar yang ditawarkan. Ia bicara pariwisata,” kata Pulang.

Data BPS dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kontribusi sektor primer di Lembata sangat tinggi dan menjadi penghambat proses pengentasan kemiskinan. Oleh EYS, harus didorong dari sektor swasta dan sektor sekunder.

Karena itu, EYS mendorong pariwisata seperti membabat pandan di Mingar untuk membangun pariwisata. Mumcul pertanyaan, apakah bisa tidak membangun tanpa menebang. Untuk NTT, agak sulit. Bisa membangun dengan tetap memperhatikan ekologinya.

“Ketika menebang pandan di Mingar semua orang berteriak. Tapi dua minggu lalu saya membuat riset, semua orang Idalolong dan Mingar terbantu secara ekonomi ketika ada pariwisata didorong ke sana. Pariwisata ini anak yang lahir tanpa kandungan, kalau saya menyebutnya,” kata Pulang.

Frederikus Wahon di awal acara mengatakan, buku itu diterbitkan oleh Dinas Kominfo bekerja sama dengan LSM Pondok Perubahan. Ada tiga buku yang diterbitkan, dua buku yang ditulis yakni EYS Sang Fenomenal dan Gagasan Sang Fenomenal, serta buku satunya merupakan foto buku.

“Ide menulis buku ini lahir dari saya. Saya pingin menulis buku karena ada bupati yg aneh di Indonesia dan ada di Lembata. Ia aneh karena di luar pakem. Walau didemo, dihujat, dibully, tapi menang Pilkada dua kali,” kata Wahon.

Dalam buku itu, kata Wahon, ada tiga gagasan yang diangkat, pertama soal keberanian EYS menjadikan pariwisata yang merupakan urusan pilihan menjadi urusan wajib, bahkan menjadikan pariwisata sebagai leading sektor pembangunan di Lembata. Di mana-mana, lanjutnya, pemerintah mengambil urusan wajib, tetapi ia mengambil urusan pilihan hal mana tidak banyak bupati yang lakukan, tetapi EYS mengambilnya.

Ia juga mengaku tak begitu dekat dengan EYS. Bahkan, ketika di lembaga DPRD, ia bersama sejawatnya Fransiskus Limawai Koban justru sering berseberangan dengan EYS, dan kebijakan tak pro rakyat sering mereka protes dan protes selalu dilakukan di depan-depqn dan tidak muncul dengan akun palsu untuk melakukan protes.

Gagasan ketiga soal kemenangan EYS dalam ajang pilkada walau tidak menghadiri debat di KPU. EYS selalu tampil apa adanya, ia tidak menjaga image, dan ia memenangkan kontestasi pilkada.

EYS, kata Wahon, merupakan tipe pemimpin yang mampu memanfaatkan sudut sempit. Dalam situasi sesulit apapun, ia mampu melahirkan gagasan sebagaimana menerbitkan gagasan Uyelewun Raya ketika ia berada di sudut sempit Pilkada, saat ini dihujat dan dihajar habis-habisan dan akhirnya ia menang.

“Terakhir dia (EYS) bilang, saya punya gagasan juga harus ditulis tentang pariwisata. Tapi saya bilang mau ditulis apanya karena belum ada keberhasilan. Tapi dia minta ditulis gagasannya tentang pariwisata,” kata Wahon.

Di awal acara, seniman asal Flores Timur Fiano Watu melantunkan lagu Sang Fenomenal.

Usai diskusi buku, Frederikus Wahon selaku penulis menyerahkan buku kepada Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Lembata. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *