Bencana Waiteba dan Kenangan bagi Para Korban

Bencana Waiteba dan Kenangan bagi Para Korban

Lembatanews.com – 18 Juli 1979 dini hari atau 19 Juli 1979 menjadi cerita kelam bagi masyarakat Waiteba, Kecamatan Atadei, Kabupaten Flores Timur (saat itu). Betapa tidak, gemuruh patahan dan gempa yang menimbulkan tsunami telah membawa petaka bagi Waiteba yang dihuni lebih dari seribu jiwa itu. Korban yang meninggal dilaporkan mencapai 539 jiwa, yang dilaporkan hilang sebanyak 364 orang, dan korban yang menderita dilaporkan sebanyak 470 orang.

Diceritakan bahwa dalam sekejap tanah longsor di atas Waiteba (Batanamang Bauraja) terempas menurun disambut gelombang pasang setinggi 50 meter. Air selanjutnya menggenangi hampir seluruh permukaan teluk dan tanjung yang membujur sepanjang 12 km pantai dengan lebar 500 – 600 meter.

Korban yang berada di daerah rendah seperti Waiteba adalah yang terbanyak. Seluruhnya mencapai 539 orang tewas dan 364 orang hilang, dan 470 orang lainnya menderita. Angka yang sangat besar karena mestinya hal itu sudah bisa diantisipasi.

Setengah tahun sebelum kejadian, Peter Apollonarius Rohi, wartawan Sinar Harapan sudah menyusuri Lembata hanya demi membawa kabar bahwa Waiteba akan dilahap bencana. Tujuan utama kehadiran Rohi pada bulan November itu sebenarnya untuk ibadah 40 hari kepergian sang ibunda tercinta JANSE KATHIE ROHI BALENDOR yang wafat pada 31 Oktober 1978. Tetapi tulisan yang kemudian dijadikan berita utama di Sinar Harapan itu ditanggapi sepeleh oleh Gubernur NTT, Ben Mboi. Kepada masyarakat ia sampaikan agar ‘jangan percaya apa yang dikatakan wartawan, melainkan yang dikatakan para ahli).

Camat Atadei, Yusuf Dolu BA sebagai orang lapangan justeru lebih gesit mengambil sikap. Ia memindahkan Ibu Kota kecamatan dari Waiteba ke Karangora, hal mana membuat gubernur sangat marah. Di depan rakyat ia membentak dan menghardik sang camat dan mengatainya “banci’ karena tidak berani tinggal dengan masyarakat melainkan lari. Juga ia tidak setuju karena sekolah SD (SD Inpres) dan SMP Budi Bhakti dipindahkan. Tetapi hal itu tidak membuat sang camat mundur selangkah. Justeru saat terjadi bencana, keberanian itu diacungi jempol.

Untuk keberanian itu, ia harus dihardik sang gubernur, Ben Mboi. Ia tunduk merendah tetapi sesudah itu ia merasa lebih bertanggungjawab atas hidup dan mati warganya dan secara gigih dengan hanya didukung bupati, memindahkan warga ke Karangora.

Dolu punya keyakinan, para 3 geolog dari Bandung yang datang pada bulan Juni saat itu, salah seorang berasal dari Perancis begitu seram memberikan gambaran. Mereka bahkan tidak mau tinggal di darat dan hanya bermalam di atas kapal motornya karena tahu bahwa bencana tinggal tunggu hari.

Namun suara itu tidak didengar. Masyarakat ada yang sangat menentang camat. Dikisahkan Dolu, di hari yang nahas itu, ada seorang bapak yang ditemukan pertama sebagai korban meninggal. Di depan mayat ia masih marah: “Bapak telah bunuh diri sendiri karena begitu menentang supaya dipindahkan”.
(Robert Bala. Pemerhati Sosial. Tinggal di Jakarta, Bertoamigo.wordpress.com)

Memori 40 tahun lalu itu hari ini kembali mengemuka setelah pada Rabu (17 Juli 2019) Uskup Larantuka Mgr. Frans Kopong Kung, Pr hadir dan memimpin misa di Waiteba yang saat ini sudah dihuni sekitar 12 kepala keluarga dengan jumlah jiwa sekitar 69 jiwa. Kenangan duka 40 tahun lalu itu kembali terungkap dan dikenang para kerabat dan keluarga yang orang kesayangan mereka meninggal maupun selamat dari peristiwa nahas itu.

Di media sosial seperti Facebook pun kenangan bencaba Waiteba kembali dimunculkan. Manto Matarau dan Luis Lajar misalnya, menghadirkan kenangan petaka Waiteba dari sudut pandang masing-masing dan mendapatkan tanggapan dan interaksi beragam.

Luia Lajar dalam postingannya menulis meminjam harta tak ternilai harganya kaka Thonas Ataladjar (memposting foto cover Buletin Keniri-Kenepar edisi No. 2/Tahun 1983 dengan judul Mengenang Bencana Waiteba) untuk mengenang dalam diam, hening doa, sekalian orangtua, bapa dan mama, saudara dan saudari sekalian, keluarga serta alam yang hilang rupa. Waiteba pada kira-kira pukul 02.00 Wita di Julu 17, 40 tahun yang lalu. Tahun 1979 kota kecamatan Atadei itu luluk lantah oleh longsoran, patahan yang memicu tsunami dasyat.
Tetapi merindukan moment ini dikenang secara kecamatan bukab pre vilese (karena pembiaran) Desa Atakore dan Lewigrama sendiri.

Kenangan Luis Lajar ini sontak mengungkit memoria sejumlah warga media sosial. Lusia Lajar misalnya menuliskan kenangannya akan peristiwa itu. Ia menulis, kejadian itu pas tengah malam jam 1 malam. Saya masih ingat kuat karena waktu itu ada opa sekeluarga dari Belanda yang kebetulan libur mau pulang ke Belanda. Maka itu, sekitar jam 1 malam bunyi gemuruh menggelegar dan gempa yang dasyat. Pagi-pagi sudah ada berita dari orang-orang Karangora dan sekitarnya kalau tadi malam ada taunami du Waiteba. Waiteba sudah rata. Saudaraku semua meni ggal dunia.

Nobertus Boli juga menulis mengomentari status Luis Lajar. Ia menumis, saya masih ingat. Pagi-pagi kami sedang berbaris di halaman sekolah sebelum masuk kelas di SDK Karangora. Datang Pak Sipri Sorong, penjaga sekolah SD Inpres Waiteba dan seorang bapak lagi berteriak histeris di depan para guru kami ‘Waiteba tenggelam tadi malam’. Mereke terus ke kantor camat yang sementara ada di kantor Desa Ilekimok memberi laporan.

Sementara Manto Matarau dalam status FB-nya menulis, 40 tahun telah berlalu. Kisah tragis yang terjadi kala itu pukul 01.30. Terjadi ledakan yang begitu dasyat dan berakibat pada tsunami yang menelan korban jiwa sekitar 900.an. tepat 17 Juli 1979. Waiteba kini sudah berpenghuni sekitar 12 KK dengan sekitar 68 jiwa.

Postingan Manto Matarau ditanggapi Ursula Ina Yosep dengan menulisa menulis, semoga yang kuasa selalu menfhindari segala cobaan hidup. Percayalah Tuhan selalu mendampingi hidup kita. Salam bahagia selalu. Buat Wauteba semoga aman dan damai selalu.

Merujuk postingan Manto Matarau bahwa saat ini di lokasi merah bencana itu sudah berpenghuni sekutar 12 KK, maka hal itu harus menjadi perhatian serius pemerintah baik di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Betapa tidak, peringatan para pakar geologi, mantan camat Atadei Yusuf Dolu dan wartawan senior Peter Rohi bahwa jalur tersebut rawan bencana harus menjadi perhatian serius dan menjadi peringatan bagi warga untuk semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana dalam rangka mengurangi risiko bencana. Karena, bencana selalu datang di saat orang sudab melupakan peristiwa masa lalu. (lembatanews.com/berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *