Buka Festival Desa Wisata, Apol Mayan: Kelola Pariwisata Ibarat Menanam Tanaman Keras, Butuh 20-30 Tahun Baru Panen Hasil

Buka Festival Desa Wisata, Apol Mayan: Kelola Pariwisata Ibarat Menanam Tanaman Keras, Butuh 20-30 Tahun Baru Panen Hasil
Peserta FGD penyusunan road map desa wisata Kabupaten Lembata di aula Anissa Hotel and Resto, Senin, 1 November 2021 saat mengikuti acara pembukaan.

Lembatanews.com – Pemerintah Kabupaten Lembata dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022, telah menempatkan pariwisata sebagai leading sektor pembangunan. Pariwisata menjadi lokomotif penggerak sektor-sektor lain, baik pertanian, perikanan, dan peternakan di Kabupaten Lembata.

“Pembangunan pariwisata tidak seperti menanam tanaman umur pendek. Tetapi ibarat menanam pohon atau tanaman keras yang 20-30 tahun baru bisa dipanen. Pariwisata butuh proses. Namun itu tidak mengendorkan semangat mengembangkan pariwisata karena merupakan sektor unggulan di Kabupaten Lembata,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata Apolonaris Mayan saat membuka kegiatan forum grup diskusi penyusunan road map desa wisata Kabupaten Lembata di aula Anissa Hotel and Resto, Senin, 1 November 2021.

Kegiatan yang dilakukan secara virtual ini bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (Politeknik Pariwisata Bali) dan menampilkan tiga narasumber yakni Deea Gde Ngurah Byomantara, I Wayan Mertha, dan I Putu Eka Nila Kencana.

Apol Mayan mengatakan, seharusnya Bupati Lembata Thomas Ola Langodai hadir membuka kegiatan, namun karena harus menghadiri sejumlah kegiatan seperti pelantikan Pat kepala sekolah, maka ditugaskan Sekda dan Asisten. Akan tetapi, karena kesibukan lain, maka ia yang didaulat membuka kegiatan.

Apol Mayan mengatakan, Kabupaten Lembata dalam RPJMD 2017-2022 menempatkan pariwisata jadi sektor unggulan dan leading sektor pembangunan. Pariwisata dipandang dapat menjadi lokomotif penggerak semua sektor pembangunan di Lembata.

“Lembata memiliki khasanah, karakter, dan keunikan alam budaya yang sangat kuat dan luar biasa untuk kepentingan pariwisata. Selama ini pemerintah sudah berupaya membangun, namun belum mendapatkan sentuhan maksimal untuk dijual demi peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Apol Mayan.

Ia mengatakan, pengembangan pariwisata di Lembata melahirkan desa desa wisata dengan karakteristik alam dan budaya didorong menata desanya untuk kepentingan pariwisata.

Desa tidak berdiri sendiri dan perlu sentuhan dan perhatian pemerintah dan stakeholder yang punya kapasitas dan perhatian dalam pengembangan pariwisata.

Karena itu, Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (Politeknik Pariwisata) dipilih menjadi stakeholder dalam memberikan pikiran konstruktif dalam pembangunan pariwisata, mengingat dalam pembangunan pariwisata, peran pemerintah, pengusaha, masyarakat lokal, media, dan akademisi sangat diperlukan dan bersinergi dalam membangun pariwisata.

Para narasumber dari Politeknik Pariwisata Bali memotret semua potensi pariwisata dan membuat road map, sebagai pedoman dalam pengembangan pariwisata di desa.

Kegiatan dimaksud, lanjutnya, sesuai rencana menghadirkan pembicara ke Lembata. Hanya saja, karena kondisi dan eskalasi peningkatan kasus Covid-19, mqka pemateri tak datang ke Lembata. Pemaparan materi dari para narasumber dilakukan secara virtual.

Kepada para peserta dari berbagai unsur dari desa-desa wisata di antaranya Desa Waijarang, Bour, Pasir Putih, Lolong, dan Desa Tewaowutung diharapkan berpartisipasi aktif, dan berdiskusi secara baik untuk menemukan hal baik demi pengembangan pariwisata di desa masing-masing.

Sehingga, kata dia, dapat memetakan potensi dan daya tarik berupa keunikan serta kekhasan budaya dan alam demi pengembangan wisata desa yang nantinya akan bermuara pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat Kabupaten Lembata terkhusus masyarakat desa melalui sektor pariwisata. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *