Bupati Thomas Ola Tantang Komunitas Bonsai Lembata Hijaukan Taman Swaolsa Titen

Bupati Thomas Ola Tantang Komunitas Bonsai Lembata Hijaukan Taman Swaolsa Titen
Bupati Lembata Thomas Ola Langodai memantau bonsai yang dipamerkan di arena pameran Taman Swaolsa Titen, Kota Lewoleba usai membuka pameran bonsai yang digelar Komunitas Bonsai Lembata, Minggu, 17 Oktober 2021 malam.

 

Lembatanews.com – Komunitas Bonsai Lembata (KBL) yang menggelar pameran bonsai di Taman Kota Swaolsa Titen, Lewoleba mendapatkan tantangan dari Bupati Lembata Thomas Ola Langodai. KBL ditantang menghijaukan taman kota dan menginisiasi rekonsiliasi manusia dengan alam pada 7 Maret 2022 yang bertepatan dengan hari pendeklarasian “taan to’u” dengan kembali menggelar pameran bonsai.

Hal itu disampaikan Bupati Lembata Thomas Ola Langodai saat membuka kegiatan pameran bonsai yang digelar KBL di Taman Kota Swaolsa Titen, Kota Lewoleba, Minggu, 17 Oktober 2021.

“Saya terkesima ketika mendapatkan WA komunitas Bonsai Lembata ikut ambil bagian dalam HUT ke-22 Otonomi Lembta. Otonomi Lembata peringatannya selalu diwarnai semangat “taan to’u” dan sebelum organ pemerintah melakukan aksi nyata dalam semangat “taan to’u”, KBL sudah melakukan aksi bagaimana semangat taan to’u dipraktikkan dalam kehidupan nyata,” kata Langodai.

Dikatakannya, 300-an orang bisa bersatu dan melakukan pameran dalam waktu yang tidak singkat dari 12 Oktober sampai 28 Oktober, namun itu mampu dilakukan oleh KBL.

“Saat masuk saya lihat kiri kanan ada banyak bonsai, saya lihat isi dompet saya, pikiran saya kacau. Saya minta pimpinan OPD kosongkan pikiran dulu untuk konsentrasi menikmati yang indah-indah dulu. Kalau pikir dompet pikiran jadi kacau,” kata Thomas Ola berseloroh.

Di awal pembukaan pameran, dua orang senior bonsai Lembata melakukan demonstrasi merawat bonsai. Hal itu menurut Thomas Ola, KBL sedang mempraktikkan spirit “taan to’u” dan menyatu dengan alam. Ketika masuk hutan, dan mengambil tanaman, lanjutnya, tentu tidak diambil tanpa kata-kata. Pastinya meminta permisi kepada alam. “Mohon maaf kami mau selamatkan engkau. Minta izin kami mau menggali, mudah-mudahan engkau mau, akarmu lembut dan mau kami bawa pulang. Jadi harus menyatu dengan alam. Kedua mencintai. Kalau kalian tidak mencintai, tidak akan seindah yang ada di depan kita. Kalau kalian tidak menyatu ia tidak akan tumbuh indah seperti yang kita amati saat ini,” katanya

Ia juga berterima kasih kepada KBL yang sudah mengedukasi semua ya g hadir dan memberi kesempatan kepada masyarakat menikmati yang indah-indah selama 16 hari. Karena itu, ia juga meminta anggota kosongkan pikiran soal berapa yang laku. Tetapi, yang terutama adalah mengedukasi pengunjung bahwa sesuatu yang indah yang tak terpisahkan dengan rumah dan kantor dan menghiasi hidup dengan bonsai.

Kepada Plt Kepala Dinas Pendidikan, ia juga minta untuk mendorong para kepala sekolah mengajak para guru dan siswa berkunjung ke lokasi pameran dan belajar membuat bonsai. KBL siap mengedukasi dan harus mulai dari anak, bagaimana praktikkan semangat taan to’u, menyatu dengan alam dan mencintai alam.

Pada kesempatan itu, Thomas Ola juga menantang KBL agar setelah pameran lokasi taman kota tak dibiarkan kosong namun tetap hijau dan menciptakan taman bermain yang indah agar setiap orang yang ke Lewoleba wajib mengunjungi Taman Swaolsa Titen karena kenikmatan ada di sini.

“Ini sebuah rekonsiliasi manusia dengan alam, dan apakah rekonsiliasi hanya kepada alam. Semangat taan to’u didengungkan di mana-mana tanpa bosan. Rekonsiliasi tidak saja pada alam, tapi juga rekonsiliasi kepada manusia, rekonsiliasi dengan Allah, rekonsiliasi kepada arwah leluhur, rekonsiliasi dengan adat dan budaya. Saya lalu terinspirasi, bisakah KBL menginisiasi rekonsiliasi manusia dengan alam di 7 Maret 2022 bertepatan dengan hari deklarasi taan to’u,” tegas Thomas Ola.

Herman Koli, Koordinator Pameran Bonsai mengatakan, KBL menjadi bagian masyarakat Lembata yang terpanggil meriah rayakan HUT ke-22 Otonomi Lembata dengan menggelar pameran bonsai.

Ia juga mengisahkan awal berdirinya kelompok pecinta bonsai di Lembata yang ha ya beranggotakan 12 orang namun terus berkembang hingga mencapai 300-an anggota di tahun ini.

Dikatakannya, ketika pandemi Covid-19 melanda, para pecinta bonsai masuk hutan mencari bahan bonsai. Ketika masuk hutan, pecinta bonsai tidak merusak hutan, karena bakal bonsai yang diambil merupakan tanaman yang dikucilkan, mati enggan hidup enggan.

Selain itu, ketika masuk hutan, para pecinta bonsai juga bisa Berti dak sebagai pemantau kebakaran dan menghalau orang-orang yang berniat membakar hutan.

“Sebagai koordinator harapkan bukan hanya pamerkan tapi ada nilai tertentu di dalam komunitas yang diisi dari berbagai macam profesi, ada tentara, polisi, ASN, ojek, supir, petani. Kami galang semuanya untuk gelar kegiatan. Jangan lihat untuk jual tapi rasa mencintai terlebih dahulu,” kata Herman.

Pameran bonsai dimeriahkan HLF, Lembata Akustik, dan sejumlah stand pameran produk khas Lembata. Ratusan bonsai dipamerkan di Taman Swaolsa Titen.

Usai pembukaan pameran, Bupati Thomas Ola didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Lembata Maria N Sadipun, Asisten Sekda, dan para pimpinan OPD berkeliling arena pameran melihat bonsai yang dipamerkan.(tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *