Dinas Pertanian Lembata Sigap Hadapi Hama Ulat Grayak

Dinas Pertanian Lembata Sigap Hadapi Hama Ulat Grayak
Petugas Dinas Pertanian Tanaman Pangan saat memantau lahan di Lobi, Desa Balauring, Kecamatan Omesuri yang diserang hama ulat grayak.

 

Lembatanews.com – Hama ulat grayak selama dua pekan terakhir menyerang jagung dan sorgum di sembilan kecamatan di Kabupaten Lembata menyebabkan pucuk dan daun muda habis dimakan ulat. Menghadapi serangan hama ulat grayak ini, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Lembata sigap mengantisipasi serangan hama agar tidak meluas.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan drh Mathias AK Beyeng kepada lembatanews.com menjelaskan, ulat grayak menyerang tanaman jagung baik jagung lokal maupun jagung hibrida, juga menyerang sorgum. Kasus pertama tercatat dua minggu lalu di Nubatukan yang dilaporkan seorang ibu. Laporan kedua terjadi di Desa Lamatuka, Baopana.

Langkah pertama yangg diambil adalah mencari tahu sebaran kasus, karena, sebelum memerangi kasus harus tahu dulu sebarannya. “Minggu lalu, pada Jumat langsung perintahkan petugas kecamatan untuk monitoring ke semua desa,” katanya.

Dari monitoring tersebut, data awal menunjukkan bahwa hampir semua kecamatan terdampak serangan hama grayak. Dan dari upaya teknis mulai tahu intensitas dan tingkat kerusakan. Intensitasnya masih ringan dan hanya beberapa daerah saja yang masuk kategori sedang.

Petugas Dinas Pertanian Tanaman Pangan Lembata sedang menjelaskan metode pengendalian hama ulat grayak. 

 

Dijelaskannya, setelah pengendalian yang sudah dilakukan pekan lalu, menurut rencana pada Selasa, Rabu, dan Kamis pekan ini akan dilakukan pengendalian secara besar-besaran di sembilan kecamatan. Tim teknis, lanjutnya, sudah rapat dan kecamatan menentukan tiga titik untuk dilakukan pengendalian secara terpadu.

Pengendalian sebaran hama ulat grayak, lanjut Beyeng, dilakukan dengan metode pengendalian mekanis, metode ilmiah, dan metode biologis. Untuk metode pengendalian secara mekanis, luas lahan ada yang kisarannya satu hektar dan ada yang kecil sehingga bisa mengambil ulat dan buang. Metode tersebut sebenarnya yang paling efektif kalau dari awal sudah diatasi.

Namun, dengan  tak terkendalinya hama ulat grayak dari awal dan menuju ke peningkatan intensitas maka dilakukan pengendalian dengan metode ilmiah. Sedangkan metode biologi belum.bisa karena ketiadaan alat. (tim Lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *