Emanuel Soro, Anak Timor Bermain Bentor

Emanuel Soro, Anak Timor Bermain Bentor
Emanuel Soro, pemilik becak motor yang masih beroperasi di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata.

 

Lembatanews.com – Usianya sudah tidak muda lagi. Namun, prinsip hidupnya kerja, kerja, kerja, membuatnya tak bisa tinggal diam untuk terus bekerja mencari nafkah.

Secara tidak sengaja, kami bertemu di bengkel saat hendak memperbaiki motor. Ia sedang meminta dibersihkan karburator sepeda motornya yang susah distarter.

Pria kelahiran Atambua tahun 1967 silam ini adalah satu-satunya pemilik becak motor di Kota Lewoleba yang masih beroperasi hingga saat ini.

Dialah Emanuel Soro, pria beranak tiga dan dua cucu yang kini tetap setia mengendarai becak motor miliknya keliling Kota Lewoleba.

Hanya saja, becak motor yang lebih dikenal dengan nama bentor ini kini sudah tak lagi digunakan untuk mengantar jemput penumpang. Bentor miliknya itu kini sudah beralih fungsi sebagai kios sayur berjalan miliknya.

Setiap hari Emanuel berkeliling melayani warga Kota Lewoleba yang sudah jadi pelanggan tetapnya. Sekali berkeliling, ia bisa menjangkau dari Woloklaus, Walangkeam, Wangatoa, hingga Lamahora. Pokoknya setiap sudut Kota Lewoleba ia jelajahi guna memenuhi kebutuhan aneka sayuran para pelanggannya.

Kepada media ini, Jumat, 29 Oktober 2021, ia mengisahkan, 1 Juni 1990, ia pertama kali menginjakkan kakinya di Pulau Lembata. Saat itu, bujang dari Pulau Timor ini dibawa oleh Pater Ben Atok. Ia dibawa ke Lewoleba untuk membantu Pater Ben di kebun sayur Rumah Lepra Damian.

Selama tiga tahun, ia mengabdikan diri sepenuh hati di kebun sayur Damian, ia kemudian memutuskan untuk keluar dari kebun mencoba peruntungan di luar kebun. Ia bekerja serabutan hingga jadi pembantu tukang. Gedung Olimpic lama waktu dibangun ia ikut sebagai pembantu tukang dengan upah Rp3.000 per hari.

Enam tahun berada di Lembata, ia lalu menjatuhkan hati pada gadis pilihannya dan pada 1996, ia pun menikah. Setelah menikah, ia mulai berpikir bagaimana caranya untuk bisa bertahan hidup dan menafkahi keluarga barunya itu.

Ia akhirnya memilih beralih profesi ke pedayung becak.

Becak pertama miliknya ia peroleh dari Om Lois, salah satu anak angkat Mama Isabela. Waktu itu, ia melihat becak milik Om Leo parkir begitu saja dan ia berniat membeli becak bekas itu untuk menyambung hidupnya di tanah rantau Lembata.

Namun, ia akhirnya diberikan begitu saja becak bekas itu oleh Om Luis.

“Daripada parkir lebih baik Ama dayung untuk kehidupan Ama,” kenang Emanuel pada kata-kata Om Luis saat ia hendak membeli becak bekas itu.

Akhirnya, kepada Om Luis, ia memberikan satu ekor ayam jantan untuk dijadikan bibit. Ia merasa beruntung karena sebuah becak hanya dibarter dengan satu ekor ayam jantan.

Ia kemudian mulai menjalani hari-hari hidupnya sebagai pedayung sepeda. Setiap hari ia mulai berkeliling Kota Lewoleba menawarkan jasa kepada setiap warga yang membutuhkan.

“Waktu itu satu penumpang Rp500. Kalau satu hari keliling bisa dapat Rp10 ribu. Padahal waktu jadi pembantu tukang, satu hari saya dapat Rp3.000. Jadi akhirnya saya jalani terus urus becak,” kenangnya.

Waktu itu, ia sempat berkenalan dengan dr Nina Keraf yang bertugas di Puskesmas Hadakewa dan juga praktik di Hotel Rejeki. Setiap sore hari, ia diminta mengantar jemput dokter Nina dari puskesmas ke tempat praktik

“Waktu itu dokter Nina tanya saya, apa yang kurang saya bilang becak saya punya ini terlalu kecil tidak bisa angkut barang terlalu banyak. Muat semen juga tidak bisa. Akhirnya dokter Nina beli saya becak yang lebih besar. Harga waktu itu kalau tidak salah Rp500 ribu,” kenang Emanuel.

Semenjak itu, ia pun mulai memanfaatkan becak pemberian dokter Nina dan pendapatannya pun mulai meningkat. Sehari ia bisa mendapatkan rejeki sampai Rp20 ribu.

Namun, seiring perjalanan waktu, ia melihat pemasukan dari usaha becaknya semakin menurun. Selain persaingan antar pedayung becak karena menjamurnya becak di Lewoleba era itu, jasa angkut pun tak kunjung naik

Akhirnya ia pun melepas profesinya itu dan kembali masuk kebun jadi petani.

Sekitar awal tahun 2000, orang mulai datangkan becak motor alias bentor ke Lembata. Ia pun merasa tertarik melihat hadirnya bentor yang bisa menghemat energi saat mencari nafkah.

Ia lalu berpikir untuk memiliki bentor. Karena belum bisa membeli bentor sendiri, ia lalu mencoba memodifikasi sepeda motor miliknya yang baru lunas kredit untuk dijadikan bentor.

Bermodalkan tekad, akhirnya, sepeda motor Honda FitX pun disulap jadi bentor. Maka mulailah ia menafkahi keluarganya dari menjual jasa bentor.

Waktu terus berjalan. Pendapatannya setiap hari pun terbilang meningkat. Jika saat mengayuh becak, penghasilannya per hari mentok di angka Rp20 ribu, maka saat menggunakan bentor, pendapatannya bisa naik sampai Rp100 ribu dalam sehari.

“Tapi itu harus taksi sampai malam. Orang suruh antar ikan, antar ini, antar itu jalan saja,” kata Emanuel.

Prinsipnya, ia bisa mendapatkan uang untuk menafkahi keluarganya, apalagi ia sudah dikaruniai tiga orang anak.

Namun ia kemudian merasa semakin diperhamba oleh pelanggannya. Disuruh sana sini, disuruh buang air ikan, disuruh macam-macam.

“Tiga tahun jalan dengan bentor lihat ini harga diri seperti tidak ada. Orang main perintah buang air ikan ini, angkat ini, pikul ini,. Akhirnya saya tanya istri, mama ada uang berapa di situ. Istri saya bilang ada uang arisan kemarin Rp900 ribu” kenangnya.

Ia lalu memutuskan kerja sama menjual jasa bentor dengan semua pelanggannya. Dengan sedikit uang dari istrinya, ia lalu kembali ke Atambua.

Sekembalinya dari Atambua, ia tak lagi menjual jasa antar jemput pelanggan dengan bentornya.

Ia lalu kembali ke kebun sayur dan memanfaatkan bentor, ia mulai keliling menjual sayur dan hasil dari berkebun. Ada pisang, ubi dan sayur dari kebunnya yang ia jual kepada warga Lewoleba.

Perlahan, ia mulai memiliki pelanggan. Kadang jika mengantar dan belum ada uang, ia bilang nanti baru bayar juga tak mengapa. Yang penting, semua sayur yang ia bawa bisa habis terjual dan terdistribusi ke para pelanggan.

Waktu ditanya penghasilannya dari berjualan sayur, diplomatis ia menjawab, yang penting saya bisa lunasi pinjaman, anak-anak bisa sekolah, dan saat ini dua anak perempuan sudah menikah walau belum diresmikan secara adat dan gereja.

Pekerjaan rumah menikahkan kedua anaknya itu yang masih menjadi beban baginya. Biar bagaimanapun, hidup serumah tanpa ikatan perkawinan sah dalam gereja, tidak dibenarkan dan menjadi beban baginya.

Karena itu, ia belum bisa duduk diam di usianya yang tidak muda lagi ini untuk terus mengejar rupiah untuk menuntaskan tugas utamanya sebagai orangtua itu.

“Saya tidak mau duduk tinggal diam. Harus kerja, kerja, kerja. Jadi saya harus kerja terus,” kata Emanuel.

Teruslah berjuang Om Emanuel Soro. Tuhan tak tutup mata atas niat hatimu. I now The Lord to Make Away to You. (Hiero Bokilia/koresponden wilayah Lembata HU Victory News/tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *