Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok Meningkat, Ile Ape Bagai Kampung Mati

Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok Meningkat, Ile Ape Bagai Kampung Mati
Warga mengungsi meninggalkan kampung halaman, saat erupsi Gunung Api Ile Lewotolok, Minggu, 29 November 2020.

 

Lembatanews.com – Gemuruh bergelora di seantero Ile Ape hingga Kota Lewoleba dan sekitatmya. Hembusan asap tebal membubung tinggi membelah langit. Ile Lewotolok, gunung api di Kabupaten Lembata ini mengamuk setelah tertidur 100 tahun lamanya.

Gunung Api Ile Lewotolok bergemuruh, menebar kepanikan, kecemasan, dan ketakutan. Segenap anak Ile Ape berhamburan mencari selamat. Gelombang pengungsian pun tak terhindarkan.

Warga 25 desa yang selama ini berdiam di lereng Gunung Api Ile Lewotolok beramai-ramai mencari aman demi keselamatan jiwa. Mereka mengungsi di tengah hempasan debu abu vulkanis yang dilontarkan Ile Lewotolok.

Para lansia diutamakan saat pengungsian. Tampak anggota TNI membantu seorang warga lansia di Desa Lamagute, Kecamatan Ile Ape Timur.

 

Pintu rumah, jendela terkunci rapat. Sepi, lengang, tanpa penghuni. Ternak-ternak piaraan pun seakan ikut berkabung, tanpa ringkikan, tanpa kotekan, tanpa kokok ayam, tanpa ngembik kambing yang terdengar. Semuanya terdiam, seakan ikut bersedih melihat tuannya pergi meninggalkan kampung halaman.

Kampung-kampung di lereng Gunung Api Ile Lewotolok bagaikan kampung tanpa penghuni. Walau di titik-titik kumpul tertentu masih tampak sejumlah pemuda dan bapak-bapak paruh baya yqng berkumpul, tapi mereka pun seakan terbawa dalam kegalauan gemuruh di perut Ile Lewotolok yang terus bergelora.

Ile Ape bagai kampung mati setelah ditinggal penghuninya, yang selama ini hidup dan kehidupannya tercurah di tanah ini. Ile Ape ibarat kampung yang tak berpenghuni.

Warga Aulesa saat berkumpul di titik kumpul menunggu dijemput ke Lewoleba.

 

Gelombang pengungsian besar-besaran terjadi pada Minggu, 29 November 2020. Arus pengungsian sudah mulai terjadi sejak letusan pertama pada pukul 09.00 dan terus terjadi hingga siang hari.

Hilir mudik kendaraan truk dan mobil pemerintah, TNI, Polri, NGO dan pengusaha Lembata bolak-balik mengangkut warga keluar dari titik rawan menuju titik aman di Kota Lewoleba.

23 dari 28 desa yang selama ini hidup di.lereng gunung itu terpaksa pergi dari tanah mereka dilahirkan dan dibesarkan. Mereka melarikan diri dari tanah yang telah menghidupi mereka selama ini. Gelombang pengungsian tak bisa dihindari. Mereka harus selamat dan diselamatkan dari ancaman bencana dan terpaan lahar panas dan abu vulkanis Ile Lewotolok.

Perempuan dan anak-anak saat mengantre makan di lokasi pengungsian posko utama eks kantor bupati.

 

26 ribu warga harus diselamatkan. Kini, mereka telah mengungsi. Kini, mereka telah mendiami d kapan rumah pengungsian yang tersebar di delapan tempat, yakni eks kantor bupati sebagai posko utama, eks rumah jabatan Bupati yang saat ini digunakan sebagai kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, gedung baru Perpustakaan Daerah Lembata, aula kantor Bupati Lembata, gedung baru kantor Badan Kepegawaian Daerah dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, aula kantor Camat Nubatukan, aula kantor Lurah Lewoleba Tengah, dan aula Kopdit Ankara. Sebagiannya memilih bersama keluarga di Kota Lewoleba.

Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur saat memantau keberadaan para pengungsi di tempat pengungsian posko utama, Minggu siang sangat prihatin d Ngan kondisi yang dialami warganya. Ia meminta kepada ima, Ama, para pengungsi agar walau dalam situasi bencana, namun warga pengungsi harus tetap mematuhi protokol kesehatan, d Ngan taat menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan menggunakan sabun pada air mengalir.

Bupati Sunur juga meminta kepada petugas kesehatan yang telah membuka posko kesehatan di eks Rujab Bupati untuk melakukan pemeriksaan kesehatan warga pengungsi dan jika ada warga yang memiliki gejala sakit maupun yang sedang sakit dipisahkan dan dirawat di gedung baru Perpustakaan Daerah.

Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok pada Minggu, 29 November 2020.

 

Sementara itu, Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai, putra asli Ile Ape usai mantau kondisi para pengungsi menyampaikan keprihatinannya terhadap bencana kemanusiaan yang menimpa warga yang berdiam di lereng gunung Ile Lewotolok.

Gemuruh dan erupsi yang terus terjadi telah menimbulkan keresahan dan kepanikan. Karenanya, ia mengimbau kepada seluruh warga untuk tidak panik.

Pemerintah, kaya dia, akan memastikan semua warga di daerah rawan diungsikan ke titik aman di Kota Lewoleba.

Ia juga salut atas partisipasi semua elemen yang menurutnya sangat luar biasa. Koramil Lewoleba, Polres Lembata, dan NGO begitu tulus membantu pemerintah sehingga sudah banyak warga yang berhasil dievakuasi dan sementara masih ada beberapa orang tua, yang bertahan di kampung.

“Dengam kondisi gunung yang terus erupsi, semua warga harus dievakuasi dan menyelamatkan nyawa terlebih dahulu sebelum memikirkan barang adat, dan harta benda lain di kampung. Nyawa harus diutamakan,” tegas Wabup Langodai.

Ia juga berharap, dengan kondisi posko utama yang masih terbatas terutama fasilitas umum seperti MCK, maka pengungsi yang banyak dapat didistribusikan ke kelurahan-kelurahan. Selain untuk memastikan semuanya dapat ditangani dengan baik, juga untik memastikan prokol kesehatan bisa berjalan di tengah Pandemi Covid-19 saat ini.

Selain itu, dengan terkonsentrasi di satu titik, apalagi dengan hanya ada satu dapur umum, akan menyulitkan dalam hal konsumsi. Walau diakuinya, logistik saat ini sudah sangat cukup tersedia, namun dengan hanya satu dapur umum, akan sangat sulit mengatur konsumsi untuk ribuan pengungsi.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata Kanisius Making menjelaskan, saat ini yang diutamakan adalah memastikan warga keluar dari titik longsor dan menjauh dari semburan abu vulkanik.

Ia juga memastikan bahwa sejauh ini tidak terjadi reruntuhan atau longsoran yang menimpa rumah warga. Juga belum ada korban jiwa

Dia menjelaskan, dari 28 desa di dua kecamatan yakni Ile Ape dan Ile Ape Timur, terdapat 25 desa yang m ngalami dampak langsung akibat erupsi Gunung Api Ile Lewotolok. Desa-desa tersebut berada langsung di lereng gunung. Sedangkan lima desa lainnya yakni Desa Dulitukan, Palilolong, Beutaran, Kolipadan, dan Tagawiti yang berada di daerah Tanjung yang tak terdampak.

Namun, kelima desa tersebut juga tetap dipantau. Jika terdampak juga maka akan segera diumgaikan ke titik aman di Kota Lewoleba.

Sementara itu, dari Pos Pantau Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian menjelaskan kondisi gunung masih fluktuatif meski terpantau asap erupsi mulai berkurang.

Adanya gemuruh yang terdengar dari puncak Gunung Api Ile Lewotolok merupakan pertanda adanya aktivitas vulkanik di dalam kawah gunung Ile Lewotolok yang saay ini sudah memasuki level awas ke siaga. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *