ETMC dan Masa Depan Persebata

ETMC dan Masa Depan Persebata

Ajang ETMC 2019 Malaka telah memasuki beberapa pertandingan terakhir babak penyisihan grup. Du tengah perjalanan turnameb kasta tertinggi di NTT ini, mata publik Lembata tertuju pada Persebata Lembata yang perjalanannya terseok-seok walau sudah ditukangi pelatih sekelas Maman Suryaman walau baru didatangkan dua minggu jelang turnamen dimulai.

Untuk itu, berikut ini sedikit catatan dari redaksi Lembatanews.com terkait Persebata dan mekanisme pembinaan pemain. Semo catatan kecil ini bisa memberikan manfaat.

Kemenangan di awal laga menghadapi Persarai Sabu Raijua dengan skor 4-2 tak kembali terulang di laga kedua menghadapi kedigdayaan anak-anak PS Bintang Timur. Persebata hatus tunduk 3 gol tanpa balasan. Hanya bermidalkan tiga poin dari dua laga itu, Persebata kebali harus pus hanya mampu meraih satu poin dari laga menghadapi Persamba Manggarai Barat dengan skor 0-0.

Dengan hanya mengantongi 4 poin dari tiga laga ini, langkah Persebata ke babak enam belas El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 Malaka kian terseok. Meminoin di klasemeb sementara grup D adalah Persamba Manggarai Barat disusul PS Bintang Timur. Perswbata berada di posisi tiga klasemen sementara. Namun dua tim di atas baru melakini dua kali pertandingan. Sedangkan Persebata sudah tiga kali bermain.

Dengan demikian, jika laga ketiga dan keempat Persamba dan PS Bintang Timur menang maka memupuskan harapan Persebata yang hanya menyisahkan satu laga. Jika menangpun sangat tipis peluangnya, apalagi jika seri atau bahkan kalah.

Tim kebanggaan masyarakat Lembata ini senantiasa didukung dalam setiap laganya. Namun, tak sedikit pula kritik dan hujatan sikih berganti dikirim. Mulai dari seleksi pemain yang tak merata di semua wilayah, iklim kompetisi berjenjang yang nyaris tak ada, pengurus Askab PSSI Lembata yang jalan tanpa arah, serta jersei tim Persebata dalam setiap laga tandang dan kandang pun diangkat jadi faktor kekalahan Persebata di ajang ETMC 2019 Malaka ini.

Jika kita menelisik potensi pemain di Lembata, sebenarnya Lembata punya banyak sekali bibit pemain yang punya skill bola bagus. Hanya saja, sistem pelatihan yang kurang ditambah minimnya kompetisi berjenjang menyebabkan skill itu tak berkembang bagus. Mental bertandingnya pun hanya mental kampung aluas jago dan bermain bagus kalau bermain di wilayahnya. Tapi kalau sudah bermain di luar kampung apalagi di Kota Lewoleba maka terjadi demam panggung. Akibatnya skill yang dimikiki tak dilepas maksimal.

Karena itu, perbanyak kompetisi berjenjang memang harua menjadi pekerjaan rumah utama Askab PSSI Lembata ke depan agar pembinaan pemain secara berjenjang bisa berjalan dan mampu mengasah skill dan mental bermain para atlet muda kita.

Askap PSSI Lembata juga harus selalu menurunkan tim pemantau bakat dalam setiap kompetisi berjenjang tersebut. Agar, para pemain bisa dipantau dan perlahan diseleksi untuk dilakukan penusatan latihan. Pemusatan latuhan tak mesti dilakukan hanya kalau mau ada turnamen. Tetapi, pemusatan latihan harus terus dilakukan. Tirulah sedikit SSB Bintang Timur di Atambua dan SSB Bali United di Kupang.

Dengan demikian, skill para pemain rutin diasah dan mampu memupuk kekompakan tim karena seringnya mereka berlatih bersama. Pemusatan latihan juga bisa melatih mentak disiplin para pemain.

Tentu saja ada yang akan bertanya dari mana dana untuk melakukan pemusatan latihan karena urus bola kaki membutuhkan banyak duit. Sebenatnya potensi dan peluang mendapatkan dana di Lembata masih terbuka lebar. Ada banyak pengusaha sukses yang selama ini hanya mencari keuntungan di tanah Lembata dan minim sumbangsihbya untuk masyarakat Lembata. Mereka inilah yang bisa menjadi sumber uang membiayai olahraga di tanah Lomblen. Ambil contoh. Dalam setiap tahun anggaran, pemerintah melepas 50 paket proyek yang melakui proses tender. Tentunya kita mempredikaikan akan dikerjakan oleh 50 orang pengusaha (ini kalau tidak dimonopoli oleh satu dua pengusaha yang punya kedekatan dwngan penguasa). Maka akan ada ada 50 sumber sumbangan pihak ketiga untuk membantu pemusatan latihan. Itu baru proyek yang melalui proses tender. Belum lagi ratusan paket proyek penunjukan langsung (PL).

Pengaturannya mudah saja sebenarnya. Supaya pengusaha yang kerja proyek tidak rugi banyak, penawaran proyeknya jangan dipangkas terlalu besar dari pagu anggaran proyek. Sehingga, mereka para pengusaha juga bisa dapat untung dan pemerintah bisa dapatkan dana segar untuk pembinaan pemain. Menurut saya ini sah ketimbang meminta fee secara diam-diam untuk kepentingan pribadi. Asalkan melalui sebuah kesepahaman.

Itu baru dari segi pengusaha yang mengerjakan proyek. Sumber dana pembinaan lainnya adalah badan usaha milik negara dan daera

Daerah (BUMN/D) yang selama ini ada di Lembata. Kepada mereka oun harus dipatok sumbangsih atau (corporate social responsibility) CSR -nya untuk membantu masyarakat Lembata lewat pembinaan pemain. Selanjutnya sumber ketiga baru dari pemerintah lewat alokasi dana yang selama ini digelontorkan kepada KONI untuk pembinaan seluruh cabang olahraga. Jika skema ini berjalan baik, saya yajin mampu menjawab pertanyaan soal sumber dana untuk.membiayai pemusatan latihan bagi para pemain.

Sorotan lainnya terkait Askab PSSI Lembata yang berjalan tanpa arah ini pun harus menjadi perhatian serius. Evaluasi pun harus dilakukan agar bisa dibicarakan bersama rencana program dan aksi yang harus dilakukan untuk menyelamatkan dan membawa Persebata menuju masa kejayaan. Berbagai pembenahan memang harus dilakukan. Termasuk juga membangun lapangan sepakbola yang layak untuk menggelar pertandingan sekelas ETMC. Betapa tidak, Kabupaten Malaka yang merupakan kabupaten bungsu di NTT saja sudah mampu mewujudkan sebuah lapangan yang representatif bahkan mampu menggelar pertandingan pada malam hari. Tapi soal ini juga mungkin kembali kepada selera pemimpinnya. Apakah ia suka olahraga atau tidak atau ia hanya suka gelar expo.

Sedangkan soal jersey tim Persebata yang oleh hasil Musda Askab PSSI Lembata sudah disepakati berwarna biru memang harus dihormati. Dalam setiap momen kostum biru memang wajib ada. Tapi kostum apa pun itu bagi saya bukanlah menjadi ukuran sebuah tim bisa menang atau kalah. Bagi saya, kostum merupakan seragam tim dalam mensukung tim bertanding. Selebihnya adalah skill, mental pemain dan adu taktik dan strategi pelatih di lapangan. Untuk menuju skill dan mental yang bagus butuh latihan rutun dan kompetisi berjenjang.

Semoga evaluasi singkat ini bisa jadi bahan pertimbangan dalam memajukan sepakbola di Lembata. (Redaksi Lembatanews.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *