Festival Lamaholot, Dorong Komunitas Seni Budaya Berkontribusi Nyata

Festival Lamaholot, Dorong Komunitas Seni Budaya Berkontribusi Nyata

Lembatanews.com – Festival Seni Budaya Lamaholot 2019 sejatinya adalah lanjutan dari Festival Nubun Tawa 2018 yang lalu. Tahun ini selain dilaksankan di Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, festival juga dilaksanakan di Adonara (Kiwangona dan Karing Lamalouk).

Pada festival kali ini, konsep gotong-royong menjadi roh yang menggerakkan komunitas-komunitas sem’ budaya yang ada untuk berkontribusi secara nyata. Komunitas-komunitas ini terbentuk sejak dan sebelum Festival Nubun Tawa 2018 yang lalu, sehingga pemerintah merasa perlu untuk terus mendorong tumbuh-kembang komunitas yang ada. Salah satunya melalui festival.

Demikian ditegaskan Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon dalam rilis yang diterima Lembatanews.com, Selasa (10 September 2019).

Buoati Anton Hadjon menegaskan, untuk itu, sudah sepantasnya pemerintah menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang dengan caranya masing-masing sudah turut terlibat dalam menyukseskan Festival Seni Budaya Lamaholot 2019. Apresiasi juga patut diberikan kepada Dirien Parisiwata dan Kebudayaan melalui Indonesiana yang telah secara aktif mendorong pelaksanaan festival ini dengan platform gotong-royongnya. Terima kasih kepada Pemerintah Kecamatan Lewolema, Pemerintah Kecamatan se-Adonara, para seniman dan budayawan, komunitas-komunitas seni budaya, media massa, instansi/lembaga pendukung serta masyarakat Lewolema, masyarakat Adonara, masyarakat Solor dan semua pihak yang telah bergotong-royong mempersiapkan dan mendukung pelaksanaan Festival Seni Budaya Lamaholot 2019.

Festival, lanjutnya, diselenggarakan untuk menjaga, merawat serta memajukan kesenian dan kebudayaan Flores Timur.

“Selamat datang para tamu, semoga dapat menikmati kegembiraan festival ini. Segala kekurangan merupakan proses dalam pembelajaran untuk senantiasa menjadi lebih baik di waktu yang akan datang. Marilah mulai mencintai dari apa yang kita miliki. Muliakan apa yang kita miliki. Pai Ta’an To’u! itu sejatinya kita: Lamaholot. Selamat berfestival,” kata Bupati Anton Hadjon.

Di samping pentas seni yang akan digelar, pada 13 September 2019 juga dilaksanakan Sarasehan di Kota Larantuka mengusung tema “Membaca kembali Ke-lamaholot-an Melalui Festival Seni Budaya Lamaholot 2019”.

Sarasehan menghadirkan narasumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB Bali) serta menghadirkan narasumber-narasumber dari Flores Timur.

Festival Seni Budaya Lamaholot Flores Timur merepresentasikan secara prinsip esensi ke-Lamaholot-an yakni: Pai taan tou (mari jadi satu)!

Pelaksanaan Festival kali ini berlangsung di dua lokasi yaitu di Desa Bantala, Lewolema pada 11 dan 12 September 2019 serta Kiwang Ona dan Karing Lamalouk pada 14 dan 15 September 2019.

Festival kali ini mengajak kita semua untuk menggali dan menegaskan kembali ikatan kekerabatan dan kesatuan kampung-kampung yang dijaga dengan ritus~ritus dan janji adat sejak zaman lampau. Ritus-ritus pemersatu seperti Um Baja, Seni Lado, Le’on Tenada, Hedung, Sole Oha dan lain-lain yang sarat akan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan oleh nenek moyang. Karena itu, nilai-nilai yang ada sudah semestinya dijaga dan dilestarikan kepada generasi selanjutnya.

Melalui ritus-ritus tersebut, kita diingatkan bagaimana seharusnya masyarakat bergotong-royong, saling menolong, saling menghargai satu sama lain dan menjunjung silahturahmi. Sekaligus menjaga tradisi sastra lisan berupa petuah yang disampaikan dalam lantunan pantun dalam tarian Sole dengan berbagai ragamnya seperti Oha, Menolu Aho Bele, Kedari, Lili, Lia-Namang dan lain-lain.

Adapun aneka atraksi menjadi Program Utama Festival  di antaranya Seni Lado dan Um Baja/Belo Baja. Seni Lado dan Bela Baja adalah kisah dan ritus perjanjian damai atau persekutuan yang menegaskan tidak ada lagi perang dan permusuhan antar pihak-pihak yang terhbat dalam ritus tersebut. Perjanjian/persekutuan damai tersebut merangkul pihak-pihak yang terlibat di dalamnya sebagai saudara yang saling menjaga dan melidungi. Ritus ini biasanya terjadi antar kampung atau antar komunitas adat. Ini menjadi ritus yang mempersatukan komunitas adat Lewolema dan komunitas-komunitas adat di daratan Flores Timur.

Program lainnya yakni Sadok Nonga (Tinju Tradisional) dari Desa Bantala. Sadok Nonga adalah tinju tradisional dengan media kantong anyaman dari Iontar. Tinju ini biasanya dllakukan pada hari terakhir panen padi di sekitar mesbah (Padu Era) yang ada di tengah ladang. Padi terakhir yang dipanen disimpan dalam wadah (kara-nee) yang berukuran tidak besar untuk kemudian diantar menuju pondok tempat penyimpanan padi yang berukuran lebih besar. Wadah yang kecil-sedang tersebut kemudian diisi jerami dan dibawa oleh para pria ke sekitar mesbah disertai teriakan menantang pria-pria yang di sana untuk memukul sekuat dan sekeras mungkin, menyobek dan menembusi wadah. Ini menjadi ajang tinju spontan dan ramai. Masing-masing mencari penantangnya. Yang membawa wadah tersebut menekan Iawan yang menantangnya dengan pukulan tangan kosong tanpa alas. Setelah itu, padi terakhir dipanen, disarungi, dipangku layak manusia dan diantar menuju pondok dengang tarian mengelilingi pondok sebelum akhimya disatukan dan disemayamkan di sana. Dibunuhlah binatang untuk memulihkan kembali wadah anyaman (kara-nee) yang sudah sobek dalam adu tinju tersebut. Sadok Nonge adalah ekspresi sukacita, kegembiraan, semangat dan kekesatriaan pria Lewolema. Tapi sekahgus perayaan kesuburan. Slmbol perkawpan.

Selanjutnya atraksi Le’on Tenada (Panah Tradisional) dari Desa Lamatou. Leon Tenada adalah seni memanah tradisiona| yang merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan syukuran membangun rumah adat kampung (Korke). Memanah disertai tarian dan lengking teriak (gilik) membakar semangat dengan iringan gendang ritmis dan bertempo cepat. Obyek sasaran digantung pada tiang yang tinggi dan para pemanah mengunjukkan keahliannya dalam membidik sasaran. Leon Tenada berhubungan dengan ketepatan, target, penguasaan diri, fokus, kegembiraan dan segala keunggulan para pria Lewolema.

Program lainnya yakni Ritus Api di acara pembukaan. Ritus api biasanya terjadi pada kegiatan pembukaan di kebun adat. Mitos penemuan api adalah salah satu mitologi penting dalam budaya Lewolema. Api punya makna penting terutama mengobarkan semangat dan pembersihan segala bahan pengganggu.

Ritus api dihadirkan pada kegiatan pembukaan bertujuan membakar obor (semangat) dan menjauhkan segala penghalang atau rintangan. Bahwa api tradisi harus senantiasa dinyalakan demi merawat peradaban. Tujuh obor yang dinyalakan mewakili 7 desa yang ada di Kecamatan Lewolema.

Atraksi lainnya adalah Dolo-dolo. Dolo-dolo adalah tarian pergaulan yang bersifat massal. Ditarikan dengan pantun berbalas-balas sebagai media komunikasi masyarakat. Di masa Ialu tarian dolo-dolo adalah ajang mencari jodoh bagi para muda-mudl. Melalui pantun berbalas-balasan, dolo-dolo bisa menjadi ajang penyampain pesan dan nilai-nilai di masyarakat.

Hedung merupakan salah satu atraksi lainnya. Hedung, dahulunya adalah tarian ritual mengantar dan menjemput para “Deket’ (ksatria) ke dan dari medan laga. Adonara, yang oleh antropolog Ernst Vater menyebutnya sebagai Pulau Perang memiliki sejarah panjang perang tanding antar suku dan Lewo (kampung) bahkan hingga kini. Pada masa kini,  tari Hedung dipergelarkan sebagai simbol syukur dan kegembiraan menyambut tamu penting dan juga bermakna penghormatan terhadap Ieluhur.

Hama, merupakan tarian massal yang disertai nyanyian (opak). Biasanya untuk mengisahkan kisah-kisah penting/suci/sakral dan diamini/ditegaskan lewat tarian berpola ritmik tetap. Diyakini nyanyian dan tarian tersebut membawa dampak bagi keselarasan/harmonisasi hubungan antar manusia dan alam.

Selanjutnya Tari Balumpa merupakan perpaduan/kolaborasi seni dari bangsa Portugis dan Arab Persia yang merupakan alat pemikat dalam penyebaran agama Islam saat itu. Dalam perkembangannya tarian ini kemudian menjadi tarian pergaulan di lingkungan masyarakat Wakatobi dan menjadi tarian yang dibawakan untuk menghibur tamu yang diagungkan/dihormati ataupun pejabat penting pada acara-acara tertentu.

Tarian ini dibawakan oleh 6,8,10 orang gadis remaja yang cantik dan elok dengan gerakan mengayunkan tangan dan berjingkrak sebagaimana arti kata Balumpa yaitu berjingkrak.

Sole Merupakan tarian yang memiliki berbagai macam ragamnya. Salah satunya adalah Oha. Tarian Sole Oha biasa dilakukan oleh siapa saja, tua-muda, pria-wanita, dengan cara saling melingkarkan lengan membentuk lingkaran. Tarian ini menghadirkan pesan untuk merangkul yang erat agar persaudaraan tidak putus. Tarian ini diiringi dengan rentung dan giring-giring yang dipasangkan pada kaki penari sambil mendendangkan pantun yang berisi petuah, nasehat, sindirian serta ungakapan rasa ketertarikan pada Iawan jenis. Tidak jarang dalam tarian ini para pemudi dan pemuda menemukan jodoh mereka.

Program lainnya adalah Gawe Au. Tarian Gawe Au meruapakan salah satu tarian tradisional. Sesuaidengan namanya Gawe yang berarti Melompat atau Melewati dan Au yang berarti Bambu. Tarian ini mengharuskan penarinya untuk menari melewati bambu-bambu yang digerakkan secara ritmik. Tarian Gawe Au tidak semudah yang dibayangkan. Jika salah melangkah, maka kaki sang penari akan terjepit oleh bambu. Tarian ini dibawakan 8 hingga 10 orang atau lebih dalam angka genap. Enam orang pemain memainkan bilah-bilah bambu hingga menimbulkan suara yang berirama dengan tempo yang semakin lama semakin cepat. Tarian ini memberikan pesan bahwa hidup senantiasa terdapat permasalahan untuk kita hadapi dan atasi dengan mencari solusi untuk setiap permasalahan yang dihadapi. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *