Gugatan Atas Kantor Bupati Lembata Ditolak, Dogel Ledjap: Sulitnya Melawan Penguasa

Gugatan Atas Kantor Bupati Lembata Ditolak, Dogel Ledjap: Sulitnya Melawan Penguasa
Blasius Dogel Ledjap, kuasa hukum para penggugat bersama penggugat saat memberikan keterangan pers usai sidang, Rabu, 25 Februari 2020 di PN Lembata.

 

Lembatanews.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lembata dalam sidang putusan perkara perdata gugatan atas objek sengketa lokasi tanah kantor Bupati Lembata pada Selasa, 25 Februari 2020 dalam amar putusannya menolak seluruh gugatan para penggugat dan menghukum penggugat membayar biaya perkara. Selain menolak gugatan penggugat, majelis hakim juga menolak seluruh eksepsi tergugat.

Terhadap amar putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Lembata ini, para penggugat melalui kuasa hukum mereka Blasius Dogel Ledjap mengatakan, keputusan majelis hakim itu menunjukkan bahwa tidak mudah melawan pemerintah. Kliennya yang adalah orang biasa-biasa dan merasa hak sedang diambil oleh penguasa dan berjuang mendapatkan hak mereka namun butuh perjuangan panjang dan tidak mudah.

Karenanya, setelah mendengarkan amar putusan majelis hakim yang keputusannya sangat jauh dari fakta-fakta selama proses persidangan, maka ia mewakili para penggugat akan terus melakukan upaya hukum banding bahkan hingga kasasi.

“Keptusan majelis hakim di luar dugaan karena hampir semua saksi yang dihadirkan tergugat menyebutkan tanah yang berada di lembah yang saat ini dibangun warung makan di luar objek sengketa adalah tanah milik Ola Tokan. Tetapi dari objek sengketa, semua saksi menyatakan tanah milik Linus Labi terbukti dari secara administrasi dan surat pajak.milik kliennya Linus Labi, ayah kandung dari Thomas Nilan,” tegas Dogel Ledjap.

Dengan modal seluruh rekaman proses persidangan, kata Dogel Ledjap, pihaknya akan melampitkannya agar didengar hakim Pengadilan Tinggi. Sebab, keputusan majelis hakim yang hanya berdasarkan kesimpulan yang tidak sejalan dengan fakta persidangan sungguh sangat mencederai para penggugat yang lalu menerima proses selama persidangan namun tak bisa menerima hasil keputusannya sehingga akan melakukan upaya banding.

Sebagai penggugat, lanjutnya, kliennya telah menjadi korban dari penguasa waktu itu dan mereka adalah masyarakat dan orang yang sedang disalibkan oleh penguasa yang saat ini sedang mencari kebenaran karena tidak ada tempat ruang dan waktu dan saluran terakhir lewat puusan pengadilan. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *