Guti Nale, Cara Leluhur Memberi Makan Anak Cucu

Guti Nale, Cara Leluhur Memberi Makan Anak Cucu
Nale, sejenis cacing laut yang diambil dari kolam laut saat air surut yang diisi dalam wadah dari anyaman daun lontar.

 

Duli Gere……. Duli Gere…….. Teriakan pertama muncul dari petugas pemantau Nale (Nale adalah sejenis cacing laut berwarnah hijau dan coklat serta bertekstrur sangat kecil dan halus), diikuti teriakan ratusan warga yang sudah menanti sejak sore di sepanjang Pantai Watan Raja, Mingar, Desa Pasir Putih, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata. Serentak merekapun menyerbu kolam-kolam air laut yang sedang surut jauh. Dengan perlengkapan wadah dari anyaman daun lontar yang sudah dipasangi tali dari tulang daun lontar tergantung di leher, mereka mulai memasukan Nale semacam cacing laut aneka jenis warna itu ke dalam bakul atau wadah dari daun lontar itu. Walau terus dimasukkan ke dalam bakul kecil, namun Nale seakan tak habis-habisnya. Ia terus bermunculan membuat warga yang memungutnya pun kian bersemangat.

Agar tak tumpah, saat mengambil nale, kalau sudah cukup banyak Nale yang ada di dalam bakul yang digantung di leher, mereka memindahkan Nale ke bakul lebih besar yang diletakan di darat. Setelah itu mereka kembali masuk kolam untuk memungut Nale yang masih terus bermunculan.

Selama hampir lebih kurang dua jam mengumpulkan Nale, perlahan warga mulai keluar dari kolam-kolam air laut itu. Membereskan dan menggabungkan Nale hasil tangkapan keluarga atau kerabat dan bergegas pulang beramai-ramai.

Suasana pantai yang biasanya sepi, tampak begitu ramai sore itu. Tak hanya warga Mingar, Desa Pasir Putih saja yang turun ke laut, namun juga warga Mingar yang selama ini berdiam di desa-desa lain, termasuk yang tinggal di Lewoleba pun berdatangan di saat prosesi penangkapan Nale yang terlebih dahulu diawali dengan ritual memberi makan leluhur.

Itulah sekelumit kisah penangkapan Nale di Desa Pasir Putih, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata yang pernah lembatanews.com ikuti setahun yang lalu.

Kemunculan cacing laut ini dipercayai masyarakat setempat sebagai pemberian leluhur nenek moyang untuk para anak cucu.

“Duli Gere, Lewo Rae Malu Mara” yang berarti, Ikan Nale datanglah, sebab kampung sedang mengalami kelaparan dan haus.

Serona dan Serani merupakan dua orang leluhur masyarakat Mingar yang dipercaya membawa Nale untuk masyarakat Mingar. Keduanya datang dari Duli yang menurut kepercayaan masyarakat setempat adalah alam di bawah laut. Kedua laki-laki ini bersitrikan Serupu dan Serape.

Serono dan Serani pertama kali ditemukan Belawa dan Belake yang adalah masyarakat asli Mingar saat pulang melaut dan mengambil blutu (perangkap ikan yang dibuat dari anyaman bambu). Saat hendak pulang, mereka mendengar anjing menggonggong dan setelah keduanya mencari, ternyata menemukan Serono dan Serani.

Serono dan Serani mengaku datang membawa Nale untuk masyarakat Mingar.

Nale yang diberikan atau dibawa oleh Serono dan Serani itu dipercaya masyarakat sebagai rejeki dan berkat yang terus diambil warga hingga saat ini dan pada setiap akhir bulan Februari atau awal bulan Maret merupakan waktu yang tepat untuk Guti Nale.

Sebelum mengambil nale, warga terlebih dahulu menggelar ritual memberi makan leluhur atau para penjasa yang telah membawa dan menemukan Nale untik pertama kalinya. Ritual adat memberi makan leluhur pembawa rejeki Nale ini dilaksanakan oleh dua suku yakni Atakabelen dan Ketupapa. Dua suku ini yang mengambil peran penting memberi makan leluhur yang berjasa mengantarkan Nale untuk masyarakat Mingar.

Ritual pertama dilakukan di Duang Waitobi atau Koker Nale dengan memberi nasi dari beras hitam dan isi hati perut ayam ditambah tuak putih. Tempat yang dikenal warga setempat sebagai rumah tempat tinggal Serupu dan Serepe, istri dari Serona dan Serani. Di tempat ini, ritual dipimpin tua adat dari Suku Ketupapa yakni Andreas Puri Papang.

Ritual memberi makan leluhur di kuburan Belawa, leluhur yang menemukan Serono dan Serabi di Pantai Watan Raja Mingar sebelum dilakukan Guti Nale.

 

Selesai menggelar ritual di Duang Waitobi, dilanjutkan dengan ritual di Duli Ulu yakni tempat bersemayam tengkorak Serona dan Serani, yang merupakan sosok misterius dari Duli yang dipercaya merupakan alam di bawah laut.

Dalam ritual memberi.makan di tempat Serono dan Serani ini dipimpin suku Atakabelen yakni oleh Paulus Pati Kabelen sebagai tuan tanah didampingi Andreas Puri Papang dari Suku Ketupapa.

Usai memberi makan dan mengucapkan syair atau tutur bahasa adat dalam.bahasa setempat ritual kemudian dilanjutkan di Pantai Watan Raja tempat bersemayam Belawa yang sebelum meninggal minta untuk dikuburkan di Pantai Watan Raja, tempat pertama kali ia berjumpa dengan Seribu dan Serani yang membawa Nale untuk orang Mingar.

Di tempat ini, ritual dipimpin oleh Paulus Pati Kabelen dari suku Atakabelen. Ia meletakan makanan berupa beras hitam dan hati ayam di atas batu yang ada di atas kuburan Belawa dan mengucapkan syair adat dalam bahasa Mingar.

Masyarakat mempercayai jika ritual yang dilakukan itu ada kesalahan maka cecak akan berbunyi. Tapi kalau ritual yang dilakukan sejak di Duang Waitobi, Duli Ulu, dan di Watan Raja semuanya sudah berjalan sesuai adat maka cecak tidak akan berbunyi. Setelah menunggu sekitar 10 menit tidak ada cecak yang berbunyi Andreas Pati Kabelen pun mengatakan bahwa ritualnya sudah berjalan baik dan itu pertanda bahwa Nale akan muncul ketika malam nanti dilaksanakannya tradisi Guti Nale.

Usai ritual adat, masyarakatpun menari dan menyanyi menanti datangnya malam.

Menjelang malam, seorang petugas akan berjalan di sepanjang pantai untuk memastikan air surut dan waktu Guti Nale akan segera tiba. Membawa daun kelapa yang ditarik sepanjang pantai, beberapa kali ia bolak balik menjalankan tugasnya itu.

Hingga malam sekitar pukul 07.00, saat terdengar teriakan “dulu gere….duli gere…” bersahutan, maka pertanda sudah saatnya masuk ke laut memungut Nale.

Berbekal obor, dan nyala api dari daun kelapa, warga berhamburan, tua muda, besar, kecil, perempuan laki-laki berlomba masuk ke kolam-kolam laut mulai memungut Nale dan memasukannya ke dalam wadah dari anyaman daun lontar yang digantung di leher.

Dengan penerangan dari daun kelapa warga mencari Nale.

 

Hampir kurang lebih tiga jam, teriakan “duli gere” bergema di sepanjang pantai Watan Raja, hingga akhirnya kembali senyap dalam deburan ombak yang mulai mengganas mengantar air kembali pasang naik.

 

Tradisi Tahunan

Petrus Pati Kabelen, tokoh adat dan tetua adat suku Atakabelen yang dipercaya menggelar ritual adat memberi makan leluhur pembawa dan penemu awal Nale di Mingar menjelaskan, tradisi Guti Nale merupakan warisan leluhur yang dijalankan setiap tahun yang didahului dengan ritual adat. Setelah ritual adat berjalan lancar maka Nale akan muncul. Namun kalau ritualnya ada yang salah, maka Nale tidak akan muncul.

Dalam mengambil nale pun tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada sejumlah pantangan yang tidak boleh dilanggar saat pengambilan nale. Mereka yang menderita kulit dua, bersisik, atau kadas dan kurap, serta memiliki luka di tubuh dilarang masuk laut mengambil nale.

Larangan lainnya adalah tidak boleh mengenakan pakaian yang tidak sopan. Sesuai tradisi, mereka yang masuk laut mengambil nale harus mengenakan pakaian adat. Tapi karena perkembangan zaman, maka sudah tak lagi mengharuskan mengenakan pakaian adat, yang terpenting harus sopan dan rapi.

Saat mengambil nale, juga dilarang mengeluarkan kata-kata kasar dan makian. Juga tidak boleh memegang wadah bagian bawah karena jika memegang pantat wadah maka Nale yang sudah dimasukkan ke dalam bakul akan mencair seperti air laut dan menghilang begitu saja.

Saat mengambil nale juga harus menggunakan dua tangan. Tidak boleh menggunakan alat untuk mengambil dalam jumlah banyak sekaligus. Ini untuk mengajarkan kepada warga masyarakat untuk mengambil seadanya saja dan tidak ogo atau ingat diri.

Saat mengambil nale, juga hanya diperkenankan menggunakan bakul, wadah dari anyaman daun lontar. Selain itu, penerangan yang digunakan adalah obor dari daun lontar atau daun kelapa. Namun, seiring perkembangan waktu, warga mulai menggunakan penerangan lain seperti senter.

Jika pantangan-pantangan itu dilanggar bisa mengalami hal buruk saat sedang mengambil nale. Dua tahun lalu, kata Petrus Pati Kabelen, ada warga yang dipatok ular laut saat mengambil nale karena melanggar sejumlah pantangan yang tidak boleh dilakukan saat melaut.

Sementara itu, Wakil Ketua Lembaga Adat Desa Pasir Putih Petrus Boli Muda mengatakan, seiring perkembangan waktu, sudah banyak terjadi pergeseran tradisi Guti Nale. Saat ini, banyak kebiasaan yang diwariskan leluhur sudah mulai ditinggalkan.

“Kalau dulu mau ambil Nale hanya boleh pakai obor dari daun lontar atau koli atau daun kelapa. Tapi sekarang sudah mulai bergeser,” katanya.

Selain itu, orang tidak lagi pakai pakaian adat waktu turun ke laut mengambil nale. Yang masih dipatuhi hanya larangan soal yang sedang haid, punya luka dan badan bersisik yang tidak boleh turun ke laut. Itu yang masih diikuti. Tapi tradisi lainnya, kata Boli Muda, sudah mulai dilanggar.

Karena itu, pada 2016 lalu sudah dilakukan pertemuan segitiga antara Lembaga Adat, pemerintah dan tokoh agama/tokoh gereja untuk membahas tradisi Guti Nale dan semua bersepakat untuk mengembalikan tradisi Guti Nale pada warisan leluhur yang sebenarnya.

Hanya saja, kesepakatan kembali ke tradisi awal Guti Nale belum dilaksanakan secara utuh sampai saat ini.

Untuk menjaga tradisi ini, kata dia, maka pemerintah melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadikan tradisi ini sebagai sebuah festival tahunan dan didukung penuh Lembaga Adat dan tetua adat setempat. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *