Guti Nale, Tradisi yang Mulai Tergerus Zaman

Guti Nale, Tradisi yang Mulai Tergerus Zaman
Petrus Pati Kabelen, tetua adat suku Atakebelen

 

Lembatanews.com – Guti Nale, salah satu tradisi budaya masyarakat adat di Kabupaten Lembata, Kecamatan Nagawutun, Desa Mingar. Tradisi ini berasal dari leluhur Atakabelen dan Ketupapa yang adalah pemilik tanah dan suku pemilik Nale yang tradisinya hingga saat ini masih dipertahankan meski perlahan sudah mulai bergeser dari tradisi awal yang diwariskan para leluhur peletak awal tradisi Guti Nale.

Nale hasil tangkapan yang diisi di dalam bakul, wadah dari anyaman daun lontar

 

Petrus Pati Kabelen, tokoh adat dan tetua adat suku Atakabelen yang dipercaya menggelar ritual adat memberi makan leluhur pembawa dan penemu awal Nale di Mingar menuturkan, sebelum pengambilan nale, harus terlebih dahulu digelar ritual adat. Setelah ritual adat berjalan lancar maka Nale akan muncul. Namun kalau ritualnya ada yang salah, maka Nale tidak akan muncul.

Dalam mengambil nale pun tidak boleh dilakukan sembarangan. Ada sejumlah pantangan yang tidak boleh dilanggar saat pengambilan nale. Mereka yang menderita kulit dua, bersisik, atau kandas dan kurap, serta memiliki luka di tubuh dilarang masuk laut mengambil nale.

Larangan lainnya adalah tidak boleh mengenakan pakaian yang tidak sopan. Sesuai tradisi, mereka yang masuk laut mengambil nale harus mengenakan pakaian adat. Tapi karena perkembangan zaman, maka sudah tak lagi mengharuskan mengenakan pakaian adat, yang terpenting harus sopan dan rapi.

Saat mengambil nale, juga dilarang mengeluarkan kata-kata kasar dan makian. Juga tidak boleh memegang wadah bagian bawah karena jika memegang pantat wadah maka Nale yang sudah dimasukkan ke dalam bakul akan mencair seperti air laut dan menghilang begitu saja.

Setelah mengambil nale, seorang ibu membawa Nale yang sudah diambil untuk disimpan di wadah atau bakul lebih besar yang ditaruh di darat untuk kemudian kembali ke kolam.laut untuk mengambil nale.gamvar diabadikan Sabtu, 15 Februari 2020.

 

Saat mengambil nale juga harus menggunakan dua tangan. Tidak boleh menggunakan alat untuk mengambil dalam jumlah banyak sekaligus. Ini untuk mengajarkan kepada warga masyarakat untuk mengambil seadanya saja dan tidak Egi ataunibgat diri.

Saat mengambil nale, juga hanya diperkenankan menggunakan bakul, wadah dari anyaman daun lontar. Selain itu, penerangan yang digunakan adalah obor dari daun lontar atau daun kelapa. Namun, seiring perkembangan waktu, warga mulai menggunakan penerangan lain seperti senter.

Jika oantangan-pantangan itu dilanggar bisa mengalami hal buruk saat sedang mengambil nale. Dua tahun lalu, kata Paletrus Payu Kabelen, ada warga yang dipatok ulat laut saat mengambil nale karena melanggar sejumlah pantangan yang tidak boleh dilakukan saat melaut.

Wakil Ketua Lembaga Adat Desa Pasir Putih Petrus Boli Muda mengatakan, seiring perkembangan waktu, sudah banyak terjadi pergeseran tradisi Guti Nale. Saat ini, banyak kebiasaan yang diwariskan leluhur sudah mulai ditinggalkan.

“Kalau dulu mau ambil Nale hanya boleh pakai obor dari daun lontar atau koki atau daun kelapa. Tapi sekarang sudah mulai bergeser,” katanya.

Selain itu, orang tidak lagi pakai pakaian adat waktu turun ke laut mengambil nale. Yang masih dipatuhi hanya larangan soal yang sedang haid, punya luka dan badan bersisik yang tidak boleh turun ke laut. Itu yang masih diikuti. Tapi tradisi lainnya, kata Boli Muda, sudah mulai dilanggar seiring berjalannya waktu.

Karena itu, pada 2016 lalu sudah dilakukan pertemuan segitiga antara Lrmbaga Adat, pemerintah dan tokoh agama/tokoh gereja untuk membahas tradisi Guti Nale dan semua bersepakat untuk mengembalikan tradisi Guti Nale pada warisan leluhur yang sebenarnya.

Hanya saja, kesepakatan kembali ke tradisi awal Guti Nale belum dilaksanakan secara utuh sampai saat ini.

Ia mendukung pelaksanaan Festival Guti Nale yang digelar Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Dia berharap, hadirnya festiblvak yang menuntut kembali ke ritual dan tradisi membawa semangat kembali ke tradisi awal Guti Nale yang diwariskan para leluhur. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *