Harapan Tokoh Otonomi Lembata Banyak yang Belum Tercapai

Harapan Tokoh Otonomi Lembata Banyak yang Belum Tercapai

Lembatanews.com – Memasuki usia otonomi Lembata yang ke-20, ternyata masih banyak harapan tokoh-tokoh otonomi baik tokoh Stateman 7 Maret 1954 maupun tokoh Otonomi Daerah 7 Maret 1999 yang belum mampu diwujudnyatakan hingga saat ini.

Terdapat lima keinginan para pencetus otonomi yakni, mendapatkan otonomi daerah Lembata, membangun dari diri sendiri, mengejar ketertinggalan, menjadi sama dengan kabupaten lain, minimal yang lahir bersamaan waktu dan menikmati buah hasil pembangunan nasional dan kelima menyejahterakan rakyat lembata.

Demikian dikatakan tokoh Otonomi Daerah Lembata Payong Pukan Martinus dalam diskusi dan Baung 20 Tahun Otonomi Lembata, di Taman Daun, Bluwa, Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Selasa (15 Oktober 2019).

Diia mengilustrasikan Kabupaten Lembata sebagai gadis ayu 20 tahunan yang menawan. Sebagai orang yang ikut bekerja menyiapkan segala sesuatu untuk otonomi daerah, ia melihat Lembata gadis rupawan usia 20 tahun yang menawan wajahnya tapi borok kakinya.

“Ada borok di sana. Ada satu bagian masih seperti mengalami strok ringan menuju penyembuhan itu berarti Lembata tumbuh tapi masih butuh penanganan,” katanya.

Dibandingkan degan kabupaten tetangga, Lembata seperti jalan salib omberdaung. Maju tiga langkah mundur satu langkah. Infrastruktur jalan ibarat kancil dan keong lomba lari. Lembata bukan tidak maju, tapi maju dalam gerak yang lambat.

“Jiwa masyarakat tumbuh dalam rasa kecewa dari pembangunan masa lalu.
Keinginan sudah dicetuskan dengan suara bulat oleh perwakilan. Dan untuk realisasi butuh 45 tahun dari 1954-1999. Sudah dapat dan sekarang di tahun ke-20 tapi banyak yang diinginkan tokoh dulu belum sepenuhnya tercapai,” tegas Payong Pukan.

Terkait topik baung memotret infrastruktur Lembata di tengah gencarnya promosi wisata, ia mengingatkan agar yang perlu dibangun adalah infrastruktur. Dikatakan bahwa people follow infrastruktur teyapi yang benar infrastruktur follow walefare atau  infrastruktur mengikuti kesejahteraan atu sebaliknya, karena infrastruktur baik membuat semuanya berjalan baik. Ketika semua berjalan baik infrastruktur dibuat lebih baik lagi.

Dikatakannya,  kekayaan wisata alam dan budaya akan ada terus. Pariwisata ditetapkan jadi leading sector ia setuju. Hanya saja, membangun pariwisata harus dari hulu ke hilir. Tetapi selama ini dibangun dari hilir. Karena itu, harus dibangun dari hulu dan ditetapkan prioritas destinasi. Tidak bisa membangun secara sporadis.

Kepada para jurnalis penyelenggaran Baung 20 Tahun Otonomi Lembata, Payong Pukan berpesan untuk tanggalkan kepentingan dan jalankan profesi. “Pena tidak begitu tajam.lagi karena ada yang tulis di kertas dan ada yang tulis di batu. Tanggalkan kepentingan dan jadi orang di luar pemerintah,” tegasnya. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *