Hari Benimau dan Makna Pelestarian Budaya Kedang Oleh Orang Leudawan Kobar

Hari Benimau dan Makna Pelestarian Budaya Kedang Oleh Orang Leudawan Kobar

Lembatanews.com – Puncak perayaan pesta adat Haya’ Kaya’ Benimau masyarakat kampung Leudawan Kobar, Desa Benihading 2 terjadi pada Selasa (25 Juni 2019) di Desa Benihading diwarnai dengan aksi teater dan pentas seni budaya.

Beberapa sanggar budaya yang tampil pada malam itu di antaranya Sanggar Seni Suriwula, Sanggar Tari Alegra Lembata, dan sanggar tari pemuda setempat.

Acara ini juga disertai dengan deklarasi tanggal 25 Juni sebagai hari Benimau. Benimau merupakan leluhur pertama masyarakat adat Leudawan Kobar yang mendiami wilayah ini.

Yang menarik dalam pentas seni budaya pada malam itu adalah teater yang dibawakan anak muda berkolaborasi dengan para orangtua setempat. Teater ini menampilkan pertunjukan bagaimaana pertama kali Benimau menempati wilayah Leudawan Kobar.

Tidak hanya itu, sanggar ini juga mempresntasikan tata cara adat untuk setiap momen seperti pernikahan dan status adat setiap klan dalam kampung adat Leudawan Kobar.

Pesta adat ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut sejak Minggu-Selasa (23-25 Juni 2019). Tokoh budaya masyarakat Kedang, Nikolaus Ata mengapresiasi pertunjukan seni dan budaya Kedang yang digagas pemuda Leudawan Kobar.

“Mengapa saya mengapresiasi karena saya orang Kedang. Saya adalah orang Kedang yang baik. Semua orang Kedang yang baik harus mendukung dengan cara datang dan duduk paling depan saat kegiatan seperti ini,” kata Nikolaus.

Ia mengatakan pentas seni budaya ini telah memberikan pelajaran berharga bagi semua orang Kedang entah di kampung halaman maupun di perantauan untuk senantiasa mencintai budaaya Kedang.

Menurut Nikolaus, apa yang dilakukan para pemuda Leudawan Kobar ini menjadi contoh yang baik semua orang akan pentingnya melestarikan budaya Kedan di mana pun mereka berada.

“Orang Kedang yang berkualitas itu dimana pun kita berada harus berani menjalani kehidupan dengan munjukan karakter kita sebagai orang Kedang dalam nuansa adat dan budaya Kedang,” kata Nikolaus.

Dalam pagelaran acara yang dilaksanakan selama tiga hari ini, anak-anak Leudawan dari usia sekolah dasar hingga lulus SMA berpartisipasi aktif mengisi setiap mata acara. Lagu-lagu yang mereka bawakan semua berbahasa Kedang.

Salah satu penggagas kegiatan ini, yang juga tampil sebagai master of ceremony (MC) malam itu, Eman Ubuk mengatakan, satu di antara beberapa cara untuk mempertahankan budaya Kedang adalah dengan melestarikan bahasa Kedang itu sendiri.

“Kita berbudaya Kedang kalau kita berbahasa. Bahasa bisa mempertahankan budaya. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mempertahankan bahasa dan budaya Kedang itu sendiri,” kata Eman.

Masyarakat suku Kedang mendiami dua kecamatan di Kabupaten Lembata yaitu Kecamatan Omesuri dan Kecamatan Buyasuri.

Kepala Desa Benihading 2 Benediktus Beni mengatakan dengan adanya kegiatan ini bisa dipastikan tradisi dan budaya Kedang khususnya Leudawan Kobar dapat diwariskan secara turun temurun.

Ia mengatakan kebudayan Kedang menjadi citra diri, ciri khas dan petunjuk hidup bagi masyarakat adat Kedang. Budaya Kedang menurutnya harus menjadi benteng yang kuat bagi generasi muda Kedang dari pengaruh negatif budaya luar.

“Budaya Kedang itu harus kita tumbuh kembangkan melalui even seperti ini. Ada kebudayaan-kebudayaan luar yang masuk yang turut mempengaruhi kebudayaan asli kita sendiri,” kata Benediktus. (sumber bentara.net)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *