Higga Juni, Sekitar 400 Juta Masuk Lembata dari Penjualan Ternak Kambing 

Higga Juni, Sekitar 400 Juta Masuk Lembata dari Penjualan Ternak Kambing 
Kanisius Tuaq, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata.

 

Lembatanews.com – Hingga memasuki pertengahan Juni ini, sebanyak 400 ekor kambing telah berhasil dijual. Jika per ekor dijual dengan harga terendah Rp1 juta, maka sudah terdapat sebanyak Rp400 juta yang masuk ke Lembata dari penjualan kambing yang dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Demikian dikatakan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq yang ditemui di kantornya, kemarin.

Ia menjelaskan , sejauh ini tingkat penjualan kambing belum terlalu tinggi, dan sejauh ini baru 400 ekor yang telah dijual.

Sedangkan untuk penjualan ternak babi, terangnya, sejauh ini belum menunjukkan peningkatan signifikan. Namun, setelah mulai diberlakukan new normal, maka kebutuhan babi dalam daerah untuk hajatan dan kegiatan sosial di Lembata juga hajatan di luar Lembata setelah dibukanya jalur transportasi, maka kebutuhan ternak babi akan meningkat tajam.

Apalagi, untuk daerah-daerah terdampak virus demam Afrika (AFC) yang menyebabkan populasi ternak babi menurun drastis. Sedangkan Lembata ya g tidak terdampak virus demam Afrika, populasi babi saat ini masih bagus dan bisa menyuplai kebutuhan dan bisa mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dari sektor peternakan.

Diakuinya, sektor peternakan memang diharapkan dapat menjadi sektor penopang pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Lembata. Hanya saja, Pandemi Covid-19 telah menyebabkan target pendapatan dari sektor peternakan ikut terjun bebas. Semua sektor peternakan ditargetkan menyumbang PAD Lembata sebesar Rp800 juta. Namun, seiring pengurangan anggaran menyebabkan target PAD pun turun hingga Rp200 juta.

Untuk sektor peternakan, terang Kanisius Tuaq, terdapat sejumlah kegiatan yang bisa mendukung pendapatan, di antaranya dari penjualan pakan ternak, pengobatan ternak, inseminasi buatan (IB), dan penjualan ternak.

Khusus untuk inseminasi buatan, dari target tahun 2020 sebanyak 500 ekor, memasuki semester kedua tahun ini telah mencapai sebanyak 200 ekor dengan permintaan IB terbanyak dari Kecamatan Nubatukan disusul dua kecamatan di wilayah Kedang.

Karena itu, untuk melayani Omesuri dan Buyasuri, saat ini pihaknya berencana membangun kandang di Kedang. Ia yakin, jika sudah disiapkan pejantan di sana, permintaan IB akan meningkat tajam mengingat populasi ternak babi di wilayah Kedang cukup tinggi dan menjadi daerah pemasok ternak babi terbesar selama ini.

Sidak Pakan Ternak
Sedangkan untuk penjualan pakan ternak, s jauh ini belum dapat dilakukan karena alokasi anggaran untuk itu dipangkas habis untuk penanganan Covid-19. Selain itu, saat ini banyak pakan ternak dari luar daerah yang sudah mulai masuk hanya sayangnya tidak dijaga kualitasnya.

Karena itu, untuk menjaga kualitas pakan ternak yang dijual terjamin kualitasnya, beberapa waktu lalu pihaknya telah turun ke pelabuhan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pemasok pakan ternak jenis dedak.

“Kita dapat laporan dari masyarakat bahwa desak yang dijual tidak bagus kualitasnya. Ada kesan d sak yang dijual merupakan s kam.padi yang digiling,” terangnya.

Saat turun, lanjutnya, pihaknya juga membawa contoh dedak padi yang baik untuk ditunjukkan kepada para pemasok dan pengecer dedak babi di Lewoleba.

Ia berharap, d Ngan sidak tersebut, para pengecer dan pemasok tak lagi mendatangkan dan menjual d sak dengan kualitas jelek karena akan merusak pertumbuhan terbak yang dipelihara warga. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *