Hingga 7 Januari 2021, sudah 365 Babi Mati karena Virus ASF

Hingga 7 Januari 2021, sudah 365 Babi Mati karena Virus ASF
Petugas Pos Pengawasan melakukan pemeriksaan lalu lintas ternak babi dan hasil olahan babi dari Lewoleba ke Kedang di Watemg, Desa Lebewala, Kecamatan Omesuri, Kamis, 7 Januari 2021.

 

Lembatanews.com – Bahaya kini mengancam para peternak babi di Kabupaten Lembata. Sejak 23 Desember 2020 hingga 7 Januari 2021, sudah sebanyak 363 ekor babi yang mati. Sesuai hasil uji laboratorium yang dikeluarkan Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, Provinsi Bali menunjukkan bahwa penyebab kematian ternak.babi akibat virus African Swine Fever (ASF) atau virus flu babi afrika.

Jika diperkirakan harga babi pada kisaran Rp3,5 juta per ekor, maka kerugian akibat matinya ternak babi mencapai Rp1,2 miliar.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq kepada lembatanews.com, Kamis, 7 Januari 2021 menjelaskan, matinya ternak babi terjadi sejak 23 Desember 2021 lalu dan hingga Kamis, 7 Januari 2021 sudah mencapai sebanyak 365 ekor babi yang mati.

Dinas Peternakan, lanjutnya sudah mengambil sampel organ dalam babi yang mati dan dikirim ke BBVet Denpasar dan hasilnya sudah diterima pada Rabu, 6 Januari 2021. Dari hasil pemeriksaan itu menyatakan positif ASF.

Petugas Dinas Peternakan Kabupaten Lembata memberikan penanganan terhadap ternak babi yang terserang virus ASF.

 

Mengantisipasi penyebaran virus ASF yang dapat mengancam ternak babi di Lembata, sejumlah langkah sudah langsung dilakukan.

Wilayah Kedang dengan populasi babi terbesar mencapai 20 ribu ekor langsung mendapat penanganan serius. Dimas langsung mendirikan pos pengawasan di Wateng, Desa Lebewala, Kecamatan Omesuri.

Setiap hari petugas pos pengawasan yang melibatkan aparat Polsek Omesuri, Koramil Omesuri, dan petugas dari Dinas Peternakan, rutin mengecek setiap kendaraan yang datang dari Lewoleba untuk mengantisipasi ternak babi dan hasil olahan babi dibawa masuk ke wilayah Kedang.

Dinas juga terus berupaya mengedukasi masyarakat lewat pengumuman di media sosial, dan di tempat keramaian menggunakan pengeras suara. Langkah lainnya adalah pelayanan pengobatan, vaksinasi bagi ternak yang sakit, serta memperketat pengawasan lalu lintas ternak di setiap kecamatan untuk tidak membawa ternak babi dan hasil olahan ternak babi (sate babi, se’i babi, kecap babi dll) ke luar Kota Lewoleba.

Tonce Apelabi, warga Kedang yang bertugas di Dinas Peternakan dalam statusnya di media sosial Facebook menulis, ternak babi merupakan salah satu sumber pendapatan ekonomi keluarga, Dalam mengantisipasi wabah penyakit yang menyerang ternak babi sampai mengakibatkan kematian ternak akhir-akhir ini di Kota Lewoleba, maka Dinas Peternakan Kabupaten Lembata bekerja sama dengan Polsek dan Koramil, mengambil langkah-langkah pencegahan dini dengan melakukan cek in lalu lintas ternak Lewoleba-Edang di Wateng, Desa Lebewala, Kecamatan Omesuri.

Masyarakat diimbau untuk tidak membawa ternak babi hidup, daging, daging olahan dll dari Lewoleba Ke Kedang. Bagi yang sudah terlanjur membawa daging dll sampai di rumah harap tidak boleh dimakan, tolong dikuburkan saja.

“Semoga wabah ini tidak merebak sampai di Kedang. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Mari kita saling menjaga,” tulis Tonce Apelabi. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *