HP, TV, dan Internet Menjadi Sarana Mencari dan Menemukan Tuhan

HP, TV, dan Internet Menjadi Sarana Mencari dan Menemukan Tuhan
Pater Mateus, CSsR, pastor rekan Paroki Santu Fraksiskus Asisi Lamahora saat memimpin misa Malam Paskah yang disiarkan secara online dari Kapela Biara Frateran CMM, Lamahora, Sabtu, 11 April 2020.

 

Lembatanews.com – Pada Malam Paskah, kemeriahan Malam Paskah seakan hanyalah mimpi. Misa Malam Paskah dirayakan dalam suasana sederhana, di seluruh dunia tak terkecuali di Paroki Santu Fraksiskus Asisi Lamahora, Dekenat Lembata, Keuskupan Latantuka. Perayaan Misa Pekan Suci dilaksanakan dari Kapela Biara Frateran CMM.

Misa Malam Paskah pada Sabtu, 11 April dipimpin Pater Mateus, CSsR.

Dalam khotbahnya pada Misa Malam Paskah di Kapela Frateran Biara CMM, Sabtu, 11 April 2020, Pater Mateus mengatakan, Malam Paskah tahun ini adalah Malam Paskah yang sangat luar biasa, berbeda dengan Malam Paskah tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini kita rayakan Malam Paskah dengan sangat sederhana sekali karena situasi dan kondisi dunia saat ini sedang dilanda wabah virus Corona yang tidak memungkinkan merayakan Malam Paskah secara meriah seperti tahun-tahun sebelumnya… Saya bayangkan perayaan Ekaristi pada malam ini sungguh luar biasa meriahnya. Tetapi itu ternyata cuma mimpi. Mimpi masa lalu,” kata Pater Mateus.

Ucapan Selamat Paskah dari para pimpinan biara usai perayaan Paskah, Minggu, 12 April 2020.

 

Oleh karena itu, lanjutnya, ia mengajak semua umat untuk berdoa agar situasi ini segera berakhir dan dapat berkumpul kembali di rumah Tuhan untuk memuji dan memuliakan kebesaran nama-Nya.

“Saya kira situasi ini menjadi bahan refleksi bagi kita semua bahwa di hadapan Tuhan kita tidak bisa apa-apa, kita tidak berdaya dan di hadapan Tuhan kita sangat kecil bagaikan seekor semut dan ingat bahwa masalah-masalah kita jauh lebih kecil dibandingkan kebesaran nama Tuhan,” tegasnya.

Jadi, lanjutnya, jangan pernah berpikir penderitaan yang dialami, masalah yang dihadapi termasuk virus Corona jauh lebih besar, ternyata tidak. Tiga. Yang diimani, Yesus Kristus yang bangkit jauh lebih besar dari persoalan hidup yang dialami, permasalahan yang dihadapi umat manusia.

Dikatakannya, hal yang dapat dipetik dari situasi ini adalah bahwa duku orang tidak peduli dengan gereja, walau gereja terbuka 24 jam tetapi semua kita tidak datang gereja, ikut perayaan Ekaristi, tetapi kebanyakan tidak mau datang ke gereja.

“Kita sering berpikir begini, ah berdoa di jalan juga baik, berdoadi rumah juga baik. Tidak perlu datang ke gereja apalagi Tuhan sudah tahu apa yang kita perlukan. Tetapi sekarang, seperti HP, TV dan internet yang dulu menjadi penggoda untuk tidak masuk gereja. Sekarang HP, TV, internet jadi sarana bagi kita untuk mencari dan menemukan Tuhan dan ternyata dari sini kita berefleksi bahwa ternyata kita juga membutuhkan Tuhan,” tegas Pater Mateus.

Menurutnya, hal itu baik juga sebagai perwujudan dari exlesia domestica, atau keluarga sebagai gereja umat, atau keluarga sebagai gereja mini. Saat ini, lebih banyak waktu bersama keluarga, lebih banyak waktu berkumpul bersama keluarga, dan sharing pengalaman iman bersama keluarga.

Menurutnya, hal itu ada positifnya juga karena memiliki banyak waktu bersama keluarga dan perwujudan sebagai exlesia domestica.

Dikatakannya, yang membuat perayaan Malam Paskah jadi kuat biasa bukanlah mengikuti perayaan online dari rumah, atau punya banyak waktu dengan keluarga, tetapi karena pada Malam Paskah Allah sekali lagi menyatakan cinta-Nya yang besar kepada manusia dengan membangkitkan Kristus dari alam maut. Seluruh umat boleh berbangga dan bergembira karena pada Malam Paskah Tuhan kembali menyatakan cinta-Nya membangkitkan Putra-Nya dari antara orang mati.

“Malam ini adalah perayaan kemenangan Kristus atas kuasa dosa dan maut, perayaan kebebasan umat manusia dari belenggu dosa yang selama ini menghantui kehidupan umat manusia,” katanya.

Pada malam Paskah, lanjutnya, tidak.lagi berbicara tema penderitaan dan sengsara Yesus, tetapi menyangkut cahaya abadi dari Lilis Paskah, yakni cahaya Kristus yang bangkit dengan mulia. Cahaya yang memiliki kuasa untuk mengatasi dunia kegelapan dan dosa. Terang yang diangkat adalah terang Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus yang diberikan kepada umat, diletakan di tangan masing-masing dan mencari tempat di hati dan pikiran masing-masing. Perayaan Paskah menerangi hati dan pikiran kita agar menjadi lebih jernih dan bersih.

Pekan Suci Paskah tahun 2020 ini memang sangat jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Paskah Corona. Paskah di tengah Pandemic virus Corona atau Covid-19 membuat catatan sejarah. Tradisi keagamaan yang sudah berabad-abad lamanya dijalankan umat beragama, harus rela tak dilakukan. Prosesi Akbar Samana Santa, tradisi umat Katolik di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Keuskupan Larantuka yang sudah mendunia dan menjadi ikon wisata religius ini pada tahun ini tidak dilaksanakan. Perayaan Kamis Putih dalam tradisi Gereja Katolik pun berjalan tak semestinya. Tradisi pembasuhan kaki dalam setiap misa Kamis Putih pun tak terlaksana tahun ini. Begitupun dengan tradisi Cium Salib yang digelar di gereja-gereja pun tak terlaksana.

Kali ini, gereja sepi tanpa pengunjung. Umat hanya berdoa dan mengikuti perayaan Ekaristi Kudus dari rumah. Umat mencium salib di rumahnya masing-masing. Sebuah peristiwa yang sungguh sangat mengharukan.

Pasio, kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus pada perayaan Jumat Agung dari Kapela Biara Frateran CMM.

 

Umat Paroki Santu Fransiskus Asisi Lamahora pun demikian. Merayakan misa di rumah dan mengikuti misa yang dilantunkan lewat pelantang suara alias toa. Misa tak lagi di gelar di gereja paroki. Pastor merayakan misa di Kapela Biara CMM pengelola SMAK Frateran Don Bosco Lewoleba. Misa yang disiarkan langsung oleh Pater Mateus, CSsR ini kemudian direkayasa dan diteruskan oleh pengurus di tingkat lingkungan dan KBG yang kemudian diperbesar suaranya melalui toa sehingga dapat diikuti oleh umat di KBG masing-masing.

Sejak Misa Kamis Putih yang digelar di Kapela Biara Frateran CMM yang dipimpin Pater Matius CSsR tanpa kehadiran umat. Hanya dihadiri oleh Pastor Paroki St Fransiskus Asisi Lamahora Pater Barnabas, para suster, dan frateran dari Biara CMM. Umat mengikutinya dari rumah masing-masing.

Pada perayaan Kamis Putih ini, tradisi Yesus membasuh kaki para Rasul pun tak dilakukan. Dalam khotbahnya, Pater Mateus menegaskan bahwa setiap tahun merayakan misa Kamis Putih kenangan perjamuan terakhir Yesus dan para muridnya. Ia mencintai para murid-Nya, sehingga ia ingin mencurahkan cintanya bagi mereka sebelum wafatNya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.

Pencurahan cinta secara simbolik juga dilambangkan dengan membasuh kaki para murid-Nya. Dalam peristiwa ini, Yesus bertindak sebagai pemimpin pesta atau pemimpin perjamuan. Dalam perjamuan terakhir ini Yesus melakukan sesuatu di luar dari kebiasaan sebagai pemimpin pesta adat Yahudi. Tindakan membasuh kaki para murid-Nya adalah tindakan di luar tradisi Yahudi maka wajar jika Petrus keberatan dan berkata “Tuhan Engkau hendak membasuh kakiku.”

Bagi Petrus itu tidak masuk akal, sebab Yesus yang sangat mereka hormati sebagai guru dan Tuhan membasuh kaki para murid satu persatu. Namun Yesus rela melakukan itu bagi muridnya dan menjadi teladan bagi mereka semua bahwa seorang pemimpin yang sejati itu harus turun dan melayani bukan untuk dilayani.

Sehingga di akhir bacaan Injil, Yesus bersabda, “Jika aku Tuhan dan guru membasuh kakimu, maka hendaklah dklah kalian saling membasuh kaki. Sebab Aku memberikan teladan kepadamu supaya kamu pun berbuat seperti yang telah kuoerbuat kepadamu.”

Yesus ingin agar setiap pengikutnya melakukan perbuatan mengasihi dan melayani dengan penuh cinta tanpa mengharapkan imbalan yang besar.

Dalam kehidupan harian, terkadang kita malu melakukan tindakan-tindakan kecil karena kita merasa terhina, kalau kita melakukan pekerjaan yang tidak menguntungkan, pekerjaan yang kotor, pekerjaan yang hina, yang tidak pantas dikerjakan oleh orang yang berpendidikan tinggi

Hal itu terjadi karena di dalam diri kita terdapat ego yang sangat tinggi yang membuat kita sulit keluar dari zona nyaman diri kita masing-masing. Hal itu membuat kita enggan turun ke bawah untuk melayani dan memberi hormat kepada orang lain. Apalagi di dalam masyarakat dan pemerintahan kita memiliki jabatan, posisi yang bagus jarang turun ke bawah memberi hormat kepada yang kecil. Kebanyakan dari kita membusungkan dada dan mengangkat kepala dengan tegak lalu lupa untuk tunduk ke bawah.

Kita Lebih senang mengerjakan pekerjaan yang besar yang akan mendapatkan pujian dan enggan melakukan pekerjaan yang kecil yang tidak mendatangkan pujian dan sanjungan bagi kita.

Dikatakannya, Santa Theresia dari Kalkuta mengatakan, kebesaran seseorang tidak terletak dari besarnya pekerjaan namun jika ia melakukan suatu pekerjaan yang kecil dengan cinta yang besar. Hal itulah yang dilakukan Yesus pada malam Perjamuan Terakhir.

Selanjutnya, pada perayaan Jumat Agung yang dipimpin Pater Barnabas, yang juga disiarkan langsung dari Kapela Biara Frateran CMM, Lamahora, pun tanpa kehadiran umat. Tradisi Cium Salib Yesus yang selalu dipadati umat pun kali ini tak dilakukan bersama-sama di gereja. Umat mengikuti perayaan Jumat Agung dari rumah masing-masing dan mencium Salib Tuhan di rumah bersama keluarga. Demikian pula pada Malam Paskah dan misa Minggu Paskah. Semuanya diikuti umat dari rumah masing-masing. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *