Islandia, Negara Paling Gemar Kembang Api se-Eropa

Islandia, Negara Paling Gemar Kembang Api se-Eropa
Pesta kembang api di Reykjavik, Islandia, pada Kamis (31/12). (AFP/HALLDOR KOLBEINS)

 

Lembatanews.com — Tahun Baru biasanya dirayakan dengan pesta kembang api di pusat kota Islandia, namun karena pandemi virus Corona perayaan pergantian tahun itu dilakukan penduduk dari rumah sampai puncak bukit.

Hukum Islandia memberikan jangka waktu singkat, dari 28 Desember hingga 6 Januari, untuk membeli dan menyalakan kembang api setiap tahunnya, dan penduduk Islandia membeli lebih banyak kembang api dalam seminggu daripada kebanyakan orang Eropa sepanjang tahun – semua atas nama amal.

Setiap tahun, 365 ribu penduduk Islandia membeli sekitar 600 ton kembang api, lebih dari satu setengah kilogram per orang, menurut Statistics Iceland.

Itu lebih dari enam kali lipat rata-rata penduduk Uni Eropa dalam satu tahun penuh, menurut Eurostat, dan hanya penduduk Belanda yang hampir bersaing dengan kecintaan penduduk Islandia untuk menyalakan kembang api.

Sebagian besar kembang api dinyalakan pada malam Tahun Baru, mengubah langit di atas pulau subarktik menjadi kanopi berkilauan dari ibu kota Reykjavik ke desa terkecil.

“Kami seperti membakar habis tahun lalu dan memberi jalan bagi yang baru, yang saya pikir kami akan sangat senang melakukannya tahun ini,” kata Dagrun Osk Jonsdottir, seorang mahasiswa doktoral dan pakar cerita rakyat Islandia.

Tak ada api unggun

Tradisi menyalakan kembang api, yang berasal dari awal abad ke-20, berakar pada api unggun, tradisi yang jauh lebih tua dan dilarang tahun ini karena pandemi.

Dulu dianggap terlalu mahal bagi kebanyakan penduduk Islandia, saat ini kembang api menjadi lebih mudah didapatkan oleh masyarakat umum berkat kampanye penggalangan dana yang diluncurkan pada tahun 1968 oleh relawan Icelandic Association for Search and Rescue (ICE-SAR).

Kelompok, yang mengontrol sebagian besar perdagangan kembang api, telah mengandalkan penjualan tahunan untuk membiayai aktivitasnya selama sisa tahun itu.

“Agak aneh untuk berpikir bahwa kami sangat bergantung pada penjualan ini,” kata presiden ICE-SAR Thor Thorsteinsson kepada AFP.

“Tetapi kami ingin melanjutkan karena kami belum dapat menemukan cara lain untuk mengumpulkan dana.”

93 tim penyelamat relawan organisasi yang tersebar di seluruh negeri menanggapi keadaan darurat yang tidak dapat dilakukan oleh layanan publik karena jarak yang jauh dan kesulitan akses di negara jarang penduduk itu.

Meskipun banyak kembang api yang ditembakkan dari halaman rumah, perayaan Tahun Baru di Islandia tetap mengikuti jadwal yang sudah ditetapkan.

Putaran pertama, berlangsung sekitar satu setengah jam, dimulai sekitar jam 8 malam setelah pidato akhir tahun perdana menteri.

Langit menjadi gelap dan tenang selama satu jam berikutnya saat tiga perempat populasi menyalakan TV untuk “Aramotaskaup” – Sesi ini mencapai rekor pada tahun 2019 ketika 99,7 persen penduduk Islandia menontonnya.

Acara komedi tahunan yang wajib ditonton, yang judulnya diterjemahkan sebagai “Jollies of the Year”, adalah rekap berbagai momen tahun ini yang disajikan secara satire.

Usai dihibur oleh acara TV tersebut, penduduk Islandia kembali menyalakan kembang api untuk melawan hawa dingin menjelang pergantian tahun.

Polusi

Seperti banyak tradisi di tempat lain, dampak buruk pesta kembang api Islandia baru-baru ini menjadi sorotan.

Pada tahun 2018, cuaca buruk dikombinasikan dengan kembang api mencemari udara Reykjavik yang biasanya murni dengan mikropartikel, mencapai tingkat polusi yang sama dengan kota-kota besar seperti Beijing atau New Delhi.

Nilai polusi per jam tertinggi, 3.000 mikrogram per meter kubik, terdeteksi di Kopavogur di pinggiran ibu kota, membuat rekor Eropa menurut sebuah studi oleh Universitas Islandia.

Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk memotong waktu pembelian kembang api menjadi tiga hari dari 10 hari saat ini. (sumber cnnindonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *