Jadi Inspektur Upacara, Petrus Gero Jadi Tukang Baca Sambutan Bupati

Jadi Inspektur Upacara, Petrus Gero Jadi Tukang Baca Sambutan Bupati
Camat Omesuri Ade Hasan Yusuf membacakan Pidato Bupati Lembata saat upacara HUT Otonomi Lembata di halaman kantor camat Omesuri, Selasa, 12 Oktober 2021. Foto istimewa

 

Lembatanews.com – Peringatan Ulang Tahun Otonomi Daerah Kabupaten Lembata yang ke-22 tahun pada Selasa, 12 Oktober 2021 patut dicatatkan dalam sejarah perjalanan otonomi Lembata. Betapa tidak, pimpinan lembaga terhormat DPRD Lembata dalam hal ini Ketua DPRD Lembata Petrus Gero yang didaulat menjadi inspektur upacara karena Bupati Lembata Thomas Ola Langodai masih berada di luar daerah, bukanya membacakan atau menyampaikan pidatonya, namun malah membacakan sambutan Bupati. Hal mana, secara etika tidak berkenan karena Ketua DPRD bukan bawahan bupati.

Hal ini ternyata mendapat sorotan dari anggota DPRD NTT Viktor Mado Watun. Sebagaimana dilansir Aksinews.com, mantan Wakil Bupati Lembata ini menyayangkan ketidakhadiran Bupati Thomas Ola Langodai dalam upacara peringatan HUT Otda karena sedang dinas luar daerah

Menurutnya, pidato bupati yang dibacakan Ketua DPRD Lembata Petrus Gero tidak benar dari segi etika dan rasa pemerintahan.

“Luar biasa HUT OTDA ke-22 LEMBATA …dan DIRGAHAYU… sebagai bagian dari otokritik adalah soal bupati memberi mandat kepada Ketua DPRD yang membacakan sambutan, itu dari sisi etika dan rasa pemerintahan tidak benar,” tegas anggota DPRD NTT dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

Menurutnya, legislatif dan eksekutif merupakan mitra yang memiliki peran berbeda. Sehingga akan lebih etis jika bupati berhalangan, maka sambutan atau pidatonya dibacakan oleh Sekretaris Daerah.

Upacara bendera peringatan HUT Otonomi Daerah ke-22, Selasa, 12 Oktober 2021 digelar di halaman kantor Bupati Lembata, tanpa dihadiri Bupati Lembata Thomas Ola Langodai. Ketua DPRD Lembata Petrus Gero didaulat membacakan pidato Bupati Lembata dan dalam kegiatan tersebut, menyampaikan ketidakhadiran Bupati Lembata karena sedang melaksanakan tugas luar daerah.

Sejumlah tokoh masyarakat Lembata tampak hadir, termasuk mantan Sekda Lembata serta mantan penjabat Bupati Lembata Sinun Petrus Manuk. Sejumlah anggota DPRD, dan jajaran Forkopimda.

Bupati Lembata dalam pidatonya yang dibacakan Ketua DPRD Lembata Petrus Gero dan juga dibacakan pula oleh para camat dan kepala desa se-Kabupaten Lembata menyampaikan puji dan syukur patut dihaturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas penyelenggaraan-Nya, pada Selasa 12 Oktober 2021, dapat
bertemu dalam peringatan HUT ke-22 Otonomi Daerah Kabupaten Lembata.

Otonomi daerah, kata Bupati Lembata dalam pidatonya yang dibacakan Petrus Gero, merupakan pilihan sejarah yang sudah diambil, melalui perjuangan yang cukup panjang oleh para pendahulu, para pejuang otonomi daerah. Selama kurun waktu 45 tahun sejak pencetusan statement 7 Maret 1954 hingga 12 Oktober 1999, Kabupaten Lembata akhirnya mendapat pengakuan negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 52 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Lembata manjadi daerah
otonom.

“Olehnya, sebagai generasi penerus, saya mengajak kita sekalian, untuk bersyukur dan berterima kasih kepada para pejuang otonomi tersebut, seraya mendoakan mereka yang telah mendahui kita agar mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, dan mendoakan pula seluruh keluarga yang ditinggalkan, dan para pelaku sejarah otonomi daerah yang saat ini masih bersama-sama kita, agar diberi kesehatan dan kekuatan dalam mengisi otonomi daerah ini. Semangatmu teladan kami,” tegas Thomas Ola sebagaimana disampaikan Petrus Gero.

Saat ini, lanjutnya, 22 tahun telah dijalani bersama dalam mengisi otonomi daerah. Otonomi daerah telah memberikan ruang yang lebih luas untuk merespon kebutuhan dan kehendak rakyat di daerah. Otonomi daerah telah mendekatkan pelayanan publik kepada rakyat, memberikan ruang partisipasi rakyat dan demokratisasi yang lebih luas, dan menjadi sarana kaderisasi calon-calon pemimpin di daerah, serta mendorong inovasi sesuai dengan karakter sosial, ekonomi, dan budaya di masing-masing daerah dalam konteks kepentingan nasional.

Pelaksanaan otonomi daerah yang berkualitas membutuhkan Kepemimpinan adaptif. Pemimpin yang mampu menghadapi berbagai situasi, cepat dan tepat dalam bertindak, dan berorientasi pada pemecahan masalah dengan selalu menyesuaikan dirinya dengan perubahan dan keadaan baru.

“Karena itu, ada momentum ini, saya kembali mengajak kita sekalian untuk menjadikan otonomi daerah sebagai ajang pembelajaran dari spirit dan teladan para pejuang otonomi, para funding fathers Lembata yang telah mewariskan spirit “taan to’u”, spirit keutuhan dan kebersamaan, gotong-royong, gigih berjuang, ketangguhan, dan daya adaptasi yang telah teruji dalam menggapai cita-cita otonomi ini, serta upaya membangun kemandirian dalam menggapai kehidupan lebih baik, di tengah keterbukaan dan rintangan yang dihadapi,” katanya.

Semua ini, lanjutnya, menjadi modal sosial dalam mengakselerasi kebangkitan untuk Lembata Sehat, Lembata Tumbuh, Lembata Produktif, dalam branding “Healtiest From The East”.

“Saya juga mengajak kita semua, untuk saling memberikan dukungan dan berkontribusi dalam bekerja secara bersama-sama membangun dan
memajukan leu auq-lewotanah Lembata tetap dalam spirit “taan to’u”. Dengan “taan to’u” kita mampu menerima perbedaan dalam bekerja, kita tidak saling berprasangka buruk terhadap sesama, tetapi akan saling menghargai dalam bekerja, tidak
saling memfitnah, tidak mudah terprovokasi dan tidak mudah terhasut pada gerakan-gerakan memecah-belah, karena “taan to’u” merupakan kearifan kita. Oleh karena itu sudah saatnya masing-masing kita harus mengambil inisiatif dan peran, serta tanggung jawab sesuai profesi kita
masing-masing. Di manapun kita berada, selalulah menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan,” tegas Thomas Ola sebagaimana dibacakan Petrus Gero.

Saat ini, lanjutnya, masih diselimuti dengan suasana pandemi COVID-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir. Namun, semua itu tidak boleh mengurangi rasa syukur. Perjuangan untuk menekan angka penyebaran Covid-19 sudah sangat
luar biasa dilakukan baik tenaga, pikiran, waktu dan biaya, untuk Lembata tercinta. Karena itu, Pemerintah tidak bosan-bosannya mengajak untuk selalu mengedepankan protokol kesehatan di manapun berada, dan menjadikan penanganan Covid-19 menjadi upaya bersama terutama dalam memutus mata rantai penyebarannya.

“Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, baik TNI-POLRI, para tenaga
kesehatan, ASN – unsur pemerintah pada semua tingkatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, media massa, pemuda, atas dukungan dan kerja samanya dalam upaya pencegahan dan penanganan Covid-19
di Kabupaten Lembata,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Thomas Ola melalui pidatonya yang disampaikan Petrus Gero juga menyinggung soal pemilihan kepala desa +Pilkades) serentak di 144 desa Sesuai jadwal, proses pemilihan akan dilakukan secara serentak pada 8 November 2021 yang akan datang. Saat ini sebagian besar desa telah memasuki tahapan penetapan calon kepala desa, dan beberapa wilayah desa harus memberi ruang perpanjangan waktu tahapan pendaftaran/penjaringan ulang bakal calon kepala desa.

Kondisi itu, lanjutnya, dapat memantik konflik horisontal, gangguan kamtibmas, dan kerawanan sosial. Karenanya ia mengajak semua pihak, baik para panitia Pilkades serentak pada setiap tingkatan, para calon yang akan berkompetisi, aparat keamanan, dan Linmas, seluruh warga masyarakat di Desa, agar tetap menjaga situasi dan kondisi untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi seluruh tahapan yang ada hingga proses pelantikan kepala desa terpilih nantinya.

“Mari dalam spirit “taan to’u” kita mengisi
otonomi daerah ini menuju “Lembata Sehat – Lembata – Tumbuh – Lembata Produktif dan berdaya saing untuk kesejahteraan rakyat berkelanjutan,” tandas Thomas Ola s bagaimana dibacakan oleh Petrus Gero, Ketua DPRD Lembata. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *