Jejak Perjuangan Polo Ama, Ksatria Seranggorang, Rela Serahkan Diri demi Selamatkan Rakyat

Jejak Perjuangan Polo Ama, Ksatria Seranggorang, Rela Serahkan Diri demi Selamatkan Rakyat
Thomas Mitan Muda, kerabat Rosa Ema, istri Polo Ama, Pemutus Sejarah Perjuangan Polo Ama.

Lembatanews.com – Polo Ama. Mungkin banyak orang Lembata sendiri belum banyak mengenal dan tahu siapa dia sebenarnya. Menurut kisah, ia adalah seorang pejuang kemerdekaan yang berhasil membunuh komandan Belanda bernama Sersan Eijkman. Ia memiliki empat istri. Istri pertamanya Lomu Ama dari Lewolera, Lamadal. Dari istri pertamanya ia tidak dikaruniai anak. Istri keduanya Rosa Ema dari Lewodoli dikaruniai dua anak yakni Neru Polo dan Kidi Polo. Istri ketiga Polo Ama bernama Lapong Tobi dari Lodoblolong dikarunia dua orang anak yakni  Madetus Ulu dan Geninang Polo dan istri keempatnya Wati Tula tidak dikaruniai anak.

Tulisan ini sekadar berbagi kisah heroik sang ksatria tentara rakyat yang berjuang membebaskan kepala desa dan sejumlah warga yang ditawan tentara Kolonial Belanda di tahun 1914. Kisah heroik ini dituturkan Philipus Doni Muda (74 tahun). Ia adalah cucu dari Thomas Mitan Muda, tentara rakyat yang kala itu berjuang bersama Polo Ama. Ia juga masih bertalian keluarga dengan Rosa Ema, salah satu istri Polo Ama.

Dari penuturannya, redaksi lembatanews.com mencoba merangkainya dalam sebuah kisah perjuangan Polo Ama berikut ini.
***

Kepala Desa dan Warga Ditawan Belanda

Suatu hari di tahun 1914, di bulan September, masyarakat Lodoblolong, Lewotaa, dan Lewodoli berangkat ke hutan untuk berburu binatang hutan. Selama seharian mereka berburu dan baru kembali menjelang malam. Betapa kagetnya mereka saat kembali ke kampung. Kepala Desa Lusi Muda dan sejumlah warga termasuk perempuan sudah dijemput paksa tentara Belanda yang datang bersama Kakan Lewiti dari pedalaman Lewoleba. Kepala Lusi Muda dan warga lainnya kemudian dibawa untuk ditawan di markas Belanda atau yang dikenal dengan befak Belanda di Tiwaua.

Saat pulang dengar kepala desa dan warga termasuk perempuan yang ikut disandra, membuat amarah rakyat bangkit. Laga Tada seorang tentara rakyat dari Lewodoli lalu mengumpulkan semua warga untuk mulai mengatur siasat.

Disaat mereka sedang mengatur siasat menyerang befak Belanda di Tiwaua, tanpa sepengetahuan semua, Polo Ama secara diam-diam menyelinap masuk Tiwaua. Ia menyamar sebagai penjual ayam. Selama beberapa hari, ia mengintai befak Belanda, termasuk mempelajari situasi dan kondisi alam di Tiwaua.

Di kampung, Laga Tada terus mengatur siasat penyerangan membebaskan para tawanan. Laga Tada lalu memerintahkan untuk mengumpulkan tentara rakyat dari tiga kampung yakni dari Lodoblolong, Lewotaa, dan Lewodoli.

Laga Tada dan Thomas Mitan kemudian diutus untuk memanggil Laga Lewang saudara dari Laga Tada.

Mereka membawa pesan untuk Laga Lewang untuk membawa pisau iris dan Mayang pinang sebagai simbol perang, artinya membawa perlengkapan perang berupa tombak dan dopi atau tameng.

“Tunggu saya di kampung,” kata Laga Lewang ketika menerima pesan yang disampaikan.

Setelah itu, semua tentara rakyat datang dan berkumpul di kampung Lewodoli untuk menggelar ritual adat makan halia sebelum turun berperang membebaskan para tawanan di befak Belanda di Tiwaua.

Di saat semua tentara rakyat sudah dikumpulkan dan persiapan penyerbuan hendak dilakukan, Polo Ama pun kembali dari pengintaiannya.

Ia mengatakan bahwa semua tawanan dikandang di dalam kandang seperti babi dan ayam. Itu membuat amarah rakyat kian memuncak dan mendesak segera dilakukan penyerangan.

Setelah semua sudah berumpul di Lodoblolong lalu dilakukan ritual adat dan makan halia. Kepada semua tentara rakyat diberikan halia oleh seorang mama bernama Kewa Helan. Halia diberikan Kewa Helan dari bawah kain sarung. Itu menunjukkan bahwa perempuan yang ditawan tentara Belanda sudah diperlakukan secara tidak baik oleh mereka. Sehingga, tentara rakyat harus membalas kekejaman mereka.

Setelah makan halia, semua tentara rakyat merasa semakin panas dan semakin berkeinginan cepat-cepat menyerang befak Belanda di Tiwaua.

Dalam ritual adat itu, mereka tidak meminta bala bantuan dan senjata, tetapi meminta bantuan leluhur kera wulan tana ekan, dengan keyakinan tanah yang dipijak dan langit yang dijunjung akan menjawab kepastian apakah dalam masa tawanan mereka telah terjadi sesuatu atau tidak.

“Demi langit dan bumi selama mama dan kepala kampung yang disandera kalau tidak diperlakukan apapun syukurlah tali kalau diperlakukan kami ke sana ambil mereka kosong tidak ada jiwa”.

Dari Namang Lodoblolong, mereka pun bergerak menuju befak Belanda di Tiwaua pukul 02.30 atau setengah tiga dini hari saat semua orang sedang tertidur lelap dan tidak tahu apa-apa.

Setelah semua tentara sudah mengunyah halia dan makin merasa panas, penyerangan pun dilakukan. Saat hendak dilakukan penyerangan, Laga Tada hendak berada di barisan terdepan memimpin pasukan. Namun dicegah oleh Polo Ama.

“Kamu sudah tahu tempat atau belum. Lama-lama kamu jual rakyat ini,” kata Polo Ama.

Ia lalu mengambil alih memimpin pasukan tentara rakyat dan mengambil tombak dari salah satu tentara dan bergerak di barisan terdepan.

Tiba di Tiwaua, suasana lengang. Semua tentara Belanda tertidur tanpa ada yang berjaga.

Polo Ama lalu bergerak menuju tenda komandan Belanda Sersan Eijkman yang diterangi lampu lentera. Saat hendak masuk ke dalam tenda, tombaknya yang panjang tersangkut sehingga ia patahkan tombaknya. Polo Ama melihat Sersan Eijkman tertidur sambil mendengkur. Dengan tombaknya tadi ia lalu memukul lampu lentera hingga jatuh dan padam. Ia kemudian menikam Sersan Eijkman. Dengan dua tangan, Polo Ama menikam Sersan Eijman tepat di bawah pusat dan tembus di bawah buah pelir.

Sersan Eijman yang kaget langsung berteriak histeris dan mengagetkan tentara lainnya. Polo Ama pun sigap dan langsung menghabisi Sersan Eijkman.

“Saya Polo Ama yang tewaskan ayam jantan putih (orang putih),” teriak Polo Ama.

Tentara rakyat lainnya langsung menyerbu tenda-tenda tentara dan menghabisi tentara lainnya. Nenek Laga Lewan berhasil menghabisi enam tentara Belanda.

Namun, satu tentara berhasil lolos. Ia membawa serta radio komunikasi dan berhasil mengontak markas tentara Belanda di Larantuka. Satu tentara lagi berhasil melarikan diri hingga ke Baja namun tanpa senjata di tangan. Setelah bersembunyi beberapa lama, ia mulai merasa lapar dan haus. Ia lalu berjalan menuju kampung terdekat dan menemui sejumlah ibu di kampung itu. Dengan bahasa isyarat ia minta makan dan minum. Saat sedang minum, ia dibunuh seorang ibu.

Dalam pertempuran itu, satu tentara rakyat ikut terbunuh. Namun, ia bukan dibunuh oleh tentara Belanda, tetapi dibunuh sendiri oleh tentara rakyat.

Tentara Belanda yang lolos dan berhasil menghubungi markas di Larantuka langsung dijawab. Keesokan harinya, bala bantuan langsung dikirim ke Lewoleba. Pasukan lengkap dengan senjata modern pun meringsek masuk dan menyerang balik tentara rakyat. Mereka menembak membabi buta dan membakar rumah warga.

Bersembunyi di Hutan

Tentara rakyat yang hanya mengandalkan senjata seadanya berlarian masuk hutan. Istri dan anak mereka pun dilarikan ke hutan dan bersembunyi di sana menghindari serangan membabi-buta tentara Belanda.

Polo Ama pun demikian. Membawa anak laki-lakinya Madestus Ulu, ia keluar masuk hutan bersembunyi dari kejaran tentara Belanda. Selama matahari terbit, ia dan anaknya keluar masuk hutan bersembunyi dan baru beraniasuk kampung pada malam hari sekadar cari makan dan mengambil perbekalan tambahan.

Perintah mencari Polo Ama pun dikeluarkan komandan Belanda yang baru pengganti Sersan Eijkman. Ia memerintahkan menangkap Polo Ama hidup atau mati. Tentara Belanda pun disebar ke segala penjuru.

Tentara Belanda pun terus bergerak keluar masuk kampung mencari Polo Ama. Mereka membakar dan menembaki warga yang ditemui saat dalam pencarian.

Dalam salah satu pencarian, tentara Belanda mendapati warga yang sedang minum tuak di kebun di kampung Balirebong.

Kepala kampung Balirebong Payong minum tuak sambil sandar di pohon tuak. Tiba-tiba mereka melihat sepasukan tentara Belanda bergerak menuju mereka.

Kepala Kampung Balirebong Payong melihat komandan perintahkan anak buahnya tiarap. Mereka lalu berlari masuk hutan untuk sembunyi. Namun seorang kakek bernama Gesi melawan tak mau lari masuk hutan. Dia bilang mau panah satu orang dulu. Anaknya sempat mengingatkan

“Bapa….. lari… Mereka dengan bedil,” kata anaknya.

“Tidak. Saya harus panah satu dulu,” kata Gesi.

Tentara Belanda yang sedang marah karena belum menangkap Polo Ama langsung melepaskan tembakan dan mengenai punggung Gesi. Ia pun tak bisa berbuat apa-apa untuk melarikan diri. Ia lalu dibakar hidup-hidup oleh tentara Belanda. Tak sampai dinsitu, kepalanya lalu dipenggal dan diletakkan begitu saja di atas batu.

Setelah tentara Belanda pergi, anaknya turun dan kaget melihat kepala ayahnya diletakkan di atas batu.

Jasad Gesi lalu dikuburkan dan warga pun lari bersembunyi di hutan.

Polo Ama Serahkan Diri

Polo Ama belum juga menyerahkan diri. Pelarian masuk keluar hutan bersama anaknya Madestus Ulu pun masih terus dilakoni.

Namun, Polo Ama mulai merasa diri. Jika ia terus bersembunyi dan tak menyerahkan diri, maka  rakyat akan dihabisi. Mengingat tentara Belanda semakin merajalela. Pengejaran terus dilakukan hingga menyusuri semua tempat persembunyian hingga ke  Lewoelen menyusuri kali sampai ke Bobu mengikuti dua orang penunjuk jalan dari Lewoleba.

“Kalau sembunyi tidak apa apa. Tapi masyarakat bisa habis,” kata Polo Ama.

Setelah selama hampir setahun bersembunyi masuk keluar hutan, akhirnya pada 1915 Polo Ama memutuskan menyerahkan diri demi menyelamatkan rakyat.

Tengah malam, Madestus Ulu anak laki-laki kesayangannya itu pun diantar kepada istrinya Rosa Ema. Setelah menyerahkan putra terkasihnya dan berpesan agar menjaganya baik-baik, ia lalu bersiap menyerahkan diri.

Berbekal dua kain tenun, yang kecil diikatkannya dipinggang sebagai celana dan satunya lagi yang lebih besar dibalutkannya di badan sebagai baju, ia lalu berjalan kaki sendirian menuju markas Belanda di Lewoeleng yang baru dibangun menggantikan markas lama di Tiwaau, Lewodoli.

Tiba di markas Belanda di Lewoeleng, ia diterima Kakan Mura Kedang.

“Polo engko sudah datang ini,” tanya Kakan Mura Kedang.

“Ia saya sudah datang,” jawab Polo Ama.

Komandan Belanda yang mendengar percakapan Kakan Mura Kedang dari dalam kamar bertanya kepada Kakan Mura Kedang.

“Dengan siapa kamu omong,” tanya Komandan Belanda.

“Dengan Polo,” kata Kakan Mura Kedang.

Mendengar itu, Komandan Belanda lalu bangun dan keluar dari kamar menemui Kakan Mura Kedang dan Polo Ama.

“Engko Polo yang bunuh Sersan Eicjman,” tanya Komandan Belanda.

“Ia. Saya yang bunuh,” jawab Polo Ama.

Setelah memastikan bahwa yang menyerahkan diri itu benar Polo Ama, pencarian pun dihentikan. Seluruh pasukan tentara Belanda yang disebar mencari Polo Ama pun ditarik kembali ke markas.

Penyerahan diri Polo Ama pun langsung dilaporkan ke markar Belanda di Larantuka dan diperintahkan untik mengantar Polo Ama ke markas Belanda di Hadakewa untik selanjutnya dibawa ke markas induk di Waikomo guna dilakukan pemeriksaan.

Para tentara Belanda yang sudah sangat capai mencari Polo Ama dan kembali ke markas di Lewoelen sangat ingin menghabisi Polo Ama. Mereka ingin langsung membunuh

“Ada yang datang kemudian lihat dia duduk dengan komandan Belanda dan Kakan Mura, mereka hanya bisa bilang Polo Ama, Polo Ama sambil anggguk-angguk kepala,” cerita Thomas Mitan Muda.

Mereka tetap berkeinginan menghabisi Polo Ama saat itu juga. Namun dicegah komandan. Ia beralasan, jika ia mati, tidak ada keterangan yang bisa diambil darinya dan tidak ada bahan yang dapat dilaporkan ke markas di Larantuka..

Akhirnya Polo Ama diantar ke Hadakewa. Ia diikat dengan tali di pinggang dan satu tali di pegang tentara yang berjalan di depan, dan ujung tali satunya lagi dipegang tentara yang berjalan di belakang. Polo Ama berjalan sambil memikul perbekalan tentara selama dalam perjalanan dari Lewoeleng ke Hadakewa.

Komandan berpesan kepada para tentara agar tidak boleh perlakukan apapun kepada dia. Karena harus ada keterangan dari dia apa sebab dia melakukan penyerangan dan pembunuhan terhadap Sersan Eijkman dan tentara lainnya. Para tentara yang mengantar Polo Ama pun menjaganya dengan baik sampai di Hadakewa dan diserahkan kepada tentara di markas Hadakewa.

Dari Hadakewa, Polo Ama dibawa ke markas induk di Waikomo dan menjalani pemeriksaan.

Di Waikomo, Polo Ama menjalani pemeriksaan dan diambil keterangan. Setelahnya, ia dibawa ke markas Belanda di Larantuka dan dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun pada 1915.

Ia lalu dipenjara di Nusakambangan. Namun tak diketahui berapa lama ia menjalani mlhukuman di Nusakambangan  setelah dari sana, ia lalu dibuang ke Penjara Digul di Papua. Ia mendapatkan pemotongan hukuman dua setengah tahun, sehingga ia hanya menjalani masa hukuman penjara selama 12 setengah tahun.

Polo Ama baru dibebaskan pada 1926 dan dikrmbalikan ke kampung halamannya.

Setelah pulang, ia lalu kembali tinggal bersama masyarakat di kampung halamannya.

Ia pulang membawa tromol (sejenis peti dari besi) yang masih tersimpan di Desa Seranggorang hingga saat ini.

Setelah tinggal selama lebih kurang sembilan tahun, Polo Ama yang mulai menua jatuh sakit. Pada 1935, Polo Ama pun meninggal dunia.

Ia dikuburkan di Dusun Lewodoli, tepat di pintu masuk Desa Seranggorang. Disampingnya terbaring jasad istrinya Rosa Ema dan putra kesangannya Madestus Ulu.

Istrinya Rosa Ema meninggal pada 15 September 1975. Sedangkan putranya Madetus Ulu meninggal pada 1955. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *