Kades Lewolaga: Saya Panggil Dia Sebagai Warga Desa Lewolaga

Kades Lewolaga: Saya Panggil Dia Sebagai Warga Desa Lewolaga
Frans Nikolaus Beoang, Kepala Desa Lewolaga

 

Lembatanews.com – Kepala Desa Lewolaga Frans Nikolaus Beoang yang diduga telah melakukan penganiayaan terhadap wartawan Media Online Warta Keadilan yang bertugas di Flores Timur mengaku memanggil korban ke kantor desa bukan eebagai wartawan tetapi sebagai warga Desa Lewolaga untuk mengklarifikasi pengaduannya ke Kepala Dinas PUPR Flores Timur.

Hal itu disampaikan Frans Nikolaus Beoang saat ditelepon ke telepon genggamnya, Sabtu (18 Januari 2020) malam.

Ia menjelaskan, Kandidus Edwaldus T Salu Kelen adalah warga Desa Lewolaga yang juga meminta untuk mendapatkan bantuan.perumahan. Namun, saat itu, dia.memasukkan KTP dan kartu keluarga milik ayahnya yang seorang kepala sekolah dan dalam perjalanan bantuan juga tetap diberikan.

“Jadi tidak.masuk.akal kalau dia ke Kadis PUPR untuk adukan persoalan yang di dalamnya ada dia punya bapak juga terima bantuan,” kata Beoang.

Karena saat itu sempat dikontak kadis PULR, terangnya, maka keesokan harinya ia memanggil korban ke kantor desa sebagai warga untuk menjelaskan persoalan itu.

“Waktu kasi.penjelasan itu saya bilang kan kau punya bapak juga dapat bantuan. Dia bilang saya tidak pernah minta. Itu yang buat saya remas dia punya mulut supaya jangan omong sembarang,” kata Beoang.

ia mengaku hanya meremas mulut korban dan tak sampai melakukan pemukulan.

“Kalau saya pukul dia apalagi bilang penganiayaan pasti dia lebih parah. Kalau soal jatuh itu karena dia duduk di kursi plastik, saat mau menghindar karena saya remas mulut jadi dia jatuh,” kata Beoang.

Dijelaskannya, korban saat ke kantor desa juga bukan untuk konfirmasi atau wawancara. Ia ke kantor desa karena dipanggil untuk klarifikasi pengaduannya ke kepala Dinas PUPR Flotim.

“Kalau waktu itu dia datang lapor diri sebagai wartawan tidak mungkin saya remas mulut. Ini karena saya yang panggil dia sebagai warga,” tegasnya.

Saat itu, lanjutnya, justru para staf dan warga atas nama Amran Maran yang hendak memukuli korban namun dia berupaya mencegah dan melarangnya.

“Dia itu warga saya. Jadi wajar kalau saya panggil dia untuk kasi pembinaan. Sebagai kades saya juga sebagai hakim perdamaian yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban di desa,” terang Beoang. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *