Koli Bolo dan Purek Lolong Koli

Koli Bolo dan Purek Lolong  Koli

(Sejarah Pengembaraan Suku Pureklolong Koli dari Lewohala ke Tokojaeng)

Oleh Bosco Ritan-Benediktus Bedil

Konon, di Lewohala (kampung yang sekarang di kenal dengan nama Baopukang), hiduplah 2 orang kakak beradik. Yang kakak bernama Koli dan yang adik bernama Keluli. Mereka ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya ketika masih kecil. Karena itu mereka tidak tahu siapa yang sulung dan siapa yang adik. Ketika memasuki keluarga dan harus menjalankan ritus “pao ama opo” keduanya mempersoalkan hak kesulungannya. Untuk memutuskan itu; Keluli sang adik memaksakan Koli, kakaknya, untuk masing-masing mempersembahkan salah seorang anak laki-laki untuk dibunuh sebagai bukti.

Syarat ini dirasa terlalu berat bagi Koli yang hanya memiliki seorang anak laki-laki. Karena itu ia keberatan untuk menjalankannya. Meski demikian, Keluli tetap bersikeras untuk melaksanakannya. Jika tidak maka ia akan membunuh Koli bersama keluarganya. Demi keselamatan putra tunggalnya serta keluarganya, Koli lebih memilih untuk melepaskan hak kesulungannya dan menghindar dari Keluli dengan pergi dari Lewohala.

Keberangkatan keluarga ini diikuti juga oleh keluarga dekat lain seperti Werang, Boge, Bayo, dan Emi. Dengan diselimuti rasa takut akan pengejaran Keluli bersama keluarga yang lain yang memihaknya, Rombongan ini pertama menyinggahi “Tuma Umange” sebagai tempat persembunyiannya (sebuah lubang yang letaknya tidak jauh dari Baopukang). Setelah menginap semalam, tempat persembunyiannya menjadi tidak aman lagi karena sudah diketahui Keluli dan kelompoknya. Koli lalu mengajak mereka untuk menyingkir lagi pergi ke tempat lain yang dirasa lebih aman. Mereka akhirnya masuk ke tempat yang disebut “Bui Bledange” untuk sementara sambil mencari tempat lain yang lebih aman.

Setelah semalam di tempat tersebut, mereka akhirnya menemukan satu tempat yang menurut mereka jauh lebih aman yaitu ‘Kawo Liang Pukang’ (sebuah lubang yang ada di kampung lama Lamawolo – Ile Ape). Sampai di tempat ini pun masih belum aman karena Keluli dan pasukannya masih mencari mereka. Dengan ilmu tenungnya, Koli yang memiliki kemampuan berubah wujud menjadi kambing dan bisa hidup kembali meski kepalanya sudah dipasung ; mengubah semua pengikutnya menjadi kambing dan lari ke sebuah tempat lain namanya ‘Guma’ yang sebelumnya dikenal sebagai kandang kambing.

Ketika Keluli dan rombongannya melihat bahwa yang mereka kejar hanyalah kambing, ia meminta mereka untuk menghentikan pengejarannya karena takut nanti anjing-anjing itu menggigit kambing-kambing yang diyakini sebagai kambing milik orang Lamawolo. Mereka akhirnya putus asa dan kembali ke Lewohala. Koli dan keluarga serta keluarga dekatnya tinggal di Guma untuk beberapa waktu lamanya dan sangat kesulitan air. Untuk mendapatkan air, mereka harus ke ‘mita’ (sebuah tempat yang agak jauh dari Guma) dan membuat beberapa lubang di kali mati agar air hujan di musim hujan bisa tergenang di situ agar bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari hingga melewati musim kemarau. Pemenuhan kebutuhan akan air dengan cara seperti ini masih ada pada sebagian kecil masyarakat yang menghuni kampung lama hingga tahun 1980-an. Sumber-sumber air tersebut masih ada hingga sekarang tetapi tidak dikonsumsi karena tidak ada lagi masyarakat yang tinggal di sana.

Terkendala dengan air yang sangat jauh, Koli dan rombongannya pindah ke Mita, yang selama beberapa waktu mencukupi kebutuhan air minumnya. Kebutuhan akan makanan bagi semua keluarga pun menjadi kesulitan bagi Koli. Untuk mendapatkannya, ia menumbangkan sebatang pohon asam di pinggir jalan tempat pulang pergi orang dari kampung lama Tokojaeng ke pasar lama di Lamawolo. Ketika melewati tempat itu, Koli yang sudah ada di atas pohon asam mencopot barang-barang bawaan para pelaku pasar yang pulang pergi untuk mencukupi kebutuhan pangan keluarganya.

Melihat ulah Koli, masyarakat di kampung lama Tokojaeng meminta orang asli Tokojaeng agar memindahkan Koli Bolo bersama rombongannya tinggal di kampung lama Tokojaeng. Akhirnya mereka tinggal di situ hingga sekarang. Koli Bolo kemudian mempunya keturunan yang banyak dan sekarang sudah sampai ke generasi yang ke-13. Sementara keluarga dekat yang lain membentuk suku-suku Pureklolon Megung, Pureklolong Wewan, Pureklolon Baju Weten, dan Pureklolong Tupen.

Demi menyelamatkan keturunannya, ia rela bersusah payah lari dari satu tempat ke tempat yang lain, berusaha dengan sekuat tenaga memenuhi kebutuhan makanan dan minuman keluarga dan anak-cucunya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *