Lantik Kepala Sekolah, Diwajibkan Tinggal Bersama Keluarga di Tempat Tugas

Lantik Kepala Sekolah, Diwajibkan Tinggal Bersama Keluarga di Tempat Tugas
Bupati Lembata Thomas Ola Langodai melantik para kepala sekolah TK PAUD, SD dan SMP, Kepala Puskesmas, dan fungsional guru di aula kantor Bupati Lembata, Senin, 1 November 2021.

 

Lembatanews com – Bupati Lembata Thomas Ola Langodai melantik dan mengambil sumpah 96 kepala sekolah TK/PAUD, SD, dan SMP, 10 kepala puskesmas, dan 15 tenaga fungsional guru. Kepada para kepala sekolah yang dilantik diminta untuk tinggal bersama keluarganya di tempat tugas yang baru.

“Bapak ibu kepala sekolah yang baru dilantik harus bahagia tinggal di sekolah dan di kampung-kampung bersama suami dan istri yang sah. Desember akan dievaluasi. Pertimbangan jadi kepala sekolah luar biasa memakan waktu dan tenaga. Karena mau kepala sekolag tinggal bersama istri, suami dan anak-anak, tinggal bersama masyarakat desa, tinggal bersama orangtua wali di mana jadi kepala sekolag,” tegas Bupati Thomas Ola saat melantik para kepala sekolah, kepala puskesmas dan tenaga fungsional guru di aula kantor Bupati Lembata, Senin, 1 November 2021.

Thomas Ola mengatakan, jabatan menjadi kepala sekokah atau kepala puskesmas adalah amanah, dan dipercaya karena dianggap mampu menjadi sapu.

“Menjadi sapu yang mampu membersihkan sekolah di mana kalian pimpin dari kotoran yang ada. Kotoran pertama kotoran korupsi. Berita akhir-akhir ini sangat tidak enak, sangat tidak elok, mencoreng wajah pendidikan di Kabupaten Lembata. Kepala sekolah dengan seenaknya tanpa melihat regulasi menggunakan dana bos, menggunakan dana komite dengan seenaknya. Ditekan untuk memanfaatkan dana DAK semaunya,” tegas Thomas Ola.

Karena itu, lanjutnya, dibutuhkan seorang manajer sekolah yang punya integritas yang tinggi. Seorang manajer sekolah, seorang kepala sekolah yang punya tanggung jawab yang tinggi. Dibutuhkan kepala sekolah yang jujur dan peduli pada lingkungan di sekitarnya. Dan pilihan itu jatuh pada para kepala sekolah semua yang dilantik.

“Saya tahu kalian tidak tepuk tangan karena ini berat. Bukan menggembirakan. Kalau menggembirakan kalian sudah tepuk tangan. Ini memberatkan sehingga kalian tidak tepuk tangan. Ini amanah. Mau tidak mau jadi pemimpin harus berbuat jujur. Kalian mampu tidak mengintimidasi staf kalian. Kalian mampu menolak intimidasi dari Dinas Pendidikan, dari oknum-oknum tertentu,” tegasnya

Ia mengharapkan agar para kepala sekolah yang dilantik menjadi lilin kecil yang menyala di setiap sekolah ketika kegelapan, ketika tekanan, kebohongan, keinginan mencuri, dan keinginan korupsi datang. Para kepala sekolah diminta menjadi lilin kecil dan tidak usah menjadi lampu yang terang benderang.

Di sisi lain, Thomas Ola juga meminta para kepala sekolah untuk tinggal di masyarakat, karena guru dianggap paling mengetahui segala macam soal, baik hukum, pendidikan, kesehatan selalu ditanyakan kepada guru, demikian juga masalah politik selalu ditanyakan kepada guru.

“Dan kalau ada parpol yang mulai bentuk tim sukses dan kalian menjadi tim sukses tolong lapor saya. Apalagi menjelang pemilihan kepala desa, saya minta kepala sekolah jadi lilin-lilin kecil di sana. Jangan memprovokasi. Bangun spirit taan to’u untuk mempersatukan masyarakat di kampung-kampung. Suhu politik memanas dan bisa membuat sejuk adalah para kepala sekolah.

Ia meminta agar para kepala sekolag bekerja dengab integritas tinggi dan meminta kepada Inspektorat untuk terlebih dahulu melakukan audit dana BOS, dana Komite, dan DAK. Agar, jangan sampai yang dilantik hari ini suatu waktu berurusan dengan APIP, dan aparat penegak hukum (APH). Ia membutuhkan kepala sekolah dengan integritas tinggi, jujur, bertanggung jawab, dan peduli lingkungan.

“Saya minta kepala sekolah tinggal di kampung, karena hari ini 1.843 balita stunting, gizi buruk, gizi rendah. Memang di sana ada bidan desa, kader PKK, tapi guru menjadi suluh di kampung, jadi contoh. Kepala sekolah jadi contoh. Saya minta para kepala sekolag bekerja sama dengan kepala desa, BPD, tokoh agama, tokoh masyarakat untuk tujuan mulai di sana memerangi stunting. Kita lagi gencar dengan branding healthy from the east, yang sehat datang dari timur dan dari timur itu adalah Lembata,” tegas Thomas Ola.

Pada bagian lain, Bupati Thomas Ola juga menegaskan bahwa prioritas setelah dilantik jadi Bupati adalah melantik kepala sekolah, karena pendidikan adalah harta benda yang tidak akan habis-habisnya, dan harta benda itu ada di tangan kepala sekolah. Pendidikan anak-anak ada di tangan para guru.

“Kami tidak kenal kalian, saya sendiri juga tidak kenal, kalian adalah guru dengan ijazah yang diakui BKN, sertifikasi profesional pendidik, guru dengab sertifikasi kepala sekolah, dan masih banyak guru yang belum punya sertifikasi kepala sekolah,” tegasnya.

Ia menegaskan pula bahwa 28 kepala sekolah yang diberhentikan bukan karena benci tapi karena tidak memenuhi syarat. Dan pada kepala sekolah yang dilantik karena memenuhi syarat.

Dikatakannya pula, bahwa dari 96 kepala sekolah yang dilantik, yang memenuhi persyaratan lengkap hanya empat orang. Sedangkan 92 orang lainnya belum punya sertifikasi kepala sekokah.

Karenanya, ia meminta kepada dinas untuk memproses dan jika tidak, maka para kepala sekolah harus berupaya meningkatkan kapasitas diri.

“Selamat dan provisiat kepada semua yang mendapatkan amanah, selamat menjalankan amanah ini di tempat masing-masing, selamat jadi lilin yang tidak pernah padam berantas KKN, gizi buruk, dan gizi kurang,” tandas Thomas Ola.

Perkataan tak Sejalan Perbuatan
Pada pelantikan kali ini, Bupati menegaskan agar para kepala sekolah bisa hidup bahagia bersama suami, istri dan anak-anak di tempat tugas yang baru. Hanya saja, sesuai informasi yang dihimpun, ada sejumlah kepala sekolah yang “dipisahkan” dari suaminya. Ada seorang kepala TK di Kota Lewoleba yang selama ini berkumpul bersama suami dan anak-anak, dilantik menjadi kepala sekolah TK di Kedang.

Ada juga seorang guru SD yang selama ini bahagia dan hidup bersama suami dan anak-anaknya di Lewoleba, justru dilantik menjadi kepala sekolah salah satu SD di Nagawutun.

Selain itu, pergantian kepala sekolah sebanyak 28 orang karena tidak memenuhi syarat. Mirisnya, dalam pelantikan yang dilakukan itu, dari 96 kepala sekolah yang dilantik, hanya empat orang saja yang memiliki syarat lengkap, sedangkan 92 kepala sekolah lainnya tidak memiliki syarat lengkap. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *