Launching Armada Pariwisata, Berikut Kata Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur

Launching Armada Pariwisata, Berikut Kata Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur
Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur saat melaunching armada pariwisata di kompleks Pelabuhan Lewoleba, Minggu, 14 Juni 2020.

 

Lembatanews.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata yang mulai mencanangkan back to normal atau new normal mulai merancang sejumlah skema pemulihan terutama pemulihan di bidang ekonomi dalam rangka mengembalikan pendapatan asli daerah (PAD) yang sempat hikang hingga Rp48 miliar dari target di tahun 2020 sebesar Rp100 miliar lebih.

Salah satu langkah yang dilakukan Pemkab Lembata adalah dengan mulai membuka akses ke destinasi pariwisata di Kabupaten Lembata yang ditutup s lama Pandemi Covid-19.

Untuk mendukung langkah membuka tempat wisata, maka Pemkab Lembata pun melaunching transportasi pariwisata yang ditandai dengan launching armada pariwisata. Armada yang dilaunching yakni kapal pinisi KLM Aku Lembata, KM Banawa Nusantara 109, Kapal Katamaran, bus Bukit Cinta Lembata (BCL), Ile Lewotolok, Ile Werun, dan bus Pantai Mutiara.

Launching dilaksanakan pada Minggu, 14 Juni 2020 di areal ruang tunggu Pelabuhan Lewoleba. Launching oleh Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lembata Yuni Damayanti, Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali, serta dihadiri pula pimpinan OPD lingkup Pemkab Lembata.

Usai melaunching armada pariwisata, Bupati Sunur dan rombongan melakukan ujicoba pelayaran perdana KLM Aku Lembata ke Pantai Meko, Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur.

Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur saat melaunching armada pariwisata mengatakan, back to normal merupakan awal mulai masuk ke babak baru, ke kehidupan dan tatanan baru dan naik kapal baru. Menurutnya, itu merupakan bagian dari kerja bersama untuk nengejar kehilangan pendapatan asli daerah (PAD) untuk bisa menarik kembali walau belum.100 persen agar tidak berpengaruh pada kegiatan lainnya.

“Ada beberapa rencan trayek dengan armada yang ada, ke Bukit Cinta, Lewolein, Waipukang mewakili Ile Ale, Katamaran ke Pulau Siput, KM Banawa Nusantara 109 ke Waiwuring dan menangani untuk bantu usahawan lokal di sana, dan pinishli KLM Aku Lembata trayek Labuan Bajo-Riung- Maumere- Lembata pergi pulang, dan mudah-mudahan tahun ini dapat bantuan pinisi dari Kemenpar untuk Labuan Bajo-Sumba-Lembata dan tahun depan mudah-mudahan direalisasikan kementerian,” kata Bupati Sunur.

Terkait rencana uji coba pelayaran pinisi Aku Lembata ke Adonara, Bupati Sunur mengatakan bahwa itu adalah salah satu kegiatan family trip, mengingat Adonara dan Lembata adalah satu gari. Sejarah Lembata tidak lepas dari sejarah Adonara dan lakukan kegiatan bisa lakukan family napak untuk sampaikan kepada keluarga bahwa hubungan kekeluargaan tetap dibangun walau berbeda administratif dalam keluarga besar Lamaholot.

Sedangkan manajemen pengelolaan armada pariwisata, Bupati Sunur mengatakan, manajemen akan disiasati dan harus punya keterampilan.

Back to normal, kata Bupati Sunur, harus diikuti pemulihan di beberapa sektor dan fokus ke sektor yang dongkrak PAD, dan pemulihan ekonomi masyarakat.

Sedangkan terkait rencaba kapal yang akan dioperasikan ke Pulau Siput Awololong, ia minta agar jangan menjadi pesaing bagi kapal rakyat. Akan tetapi, hadirnya kapal Pemda memberi kenyamanan dan keselamatan. Faktor utama bukan nilai uang yang dikejar tapi kenyamanan dan keselamatan karena kapal kecil tidak dilengkapi life jacket

“Jadi, harus dipastikan kelengkapan kesehatan penumpang di atas kapal dan harga jangan dikasih turun bila perlu dinaikkan sedikit dan beri jaminan ke Pulau Siput sudah dapat trayek dan orang bisa buat rencana perjalanan,” terangnya.

Plt Kepala Dinas PUPR dan Perhubungan Kabupaten Lembata Petrus Bote dalam laporannya mengatakan, pengresmian angkutan pariwisata di Lembata yang merupakan uji coba karena trayek yang seharusnya belum resmi, sehingga akan diproses perizinan trayek, baik armada bus untuk darat dan armada laut.

Menurutnya, untuk bus karena angkutan dalam kabupaten sehingga tidak sulit proses perizinan dan pengaturan trayeknya, mengingat langsung dikuatkan Pemkab. Sedangkan untuk armada laut, terutama yang trayek antar kabupaten, maka proses izin trayek ya harus diurus di Pemerintah Provinsi yang berwenang mengeluarkannya.

Diakuinya pula bahwa saat ini armada pariwisata sudah sangat memadai. Hanya saja, dari sisi skill untuk mengatur armada masih sangat jauh. Kapal pinisi Aku Lembata misalnya, membutuhkan minimal 10 orang baik kapten dan ABK muka belakang dan masinis. kM Bisa Nusantara pun minimal lima orang dan Katamaran tiga orang karena jarak dekat.

“Kondisi saat ini masih sangat jauh karena keterampilan atau yang memiliki ijazah untuk mengoperasikan armada ini belum ada,. Pinisi belum ada sedangkan Banawa dan Katamaran ketersediaan sudah ada,” katanya.

Diterangkannya pula bahwa Semua kapal dilengkapi fasilitas keamanan pelampung sejumlah penumpang yang ikut ditambah sekoci. Di kapal pinisi juga dilengkapi ruang rapat, kamar tidur, dan baru kamar tidur VIP yang sudah bisa dimanfaatkan. Selain itu fasilitas MCK juga sudah disediakan baik VIP maupun untuk umum.

“Manajemen armada angkutan kalau boleh kerjasamakan drngan pihak ketiga, dan kalau boleh dialihkan ke Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan berdiri sendiri untuk menata manajemen angkutan agar lebih baik dari hari ini,” tandas Bote. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *