Leu Tuan Leuhoe di Tengah Hutan Tutupan yang Unik

Leu Tuan Leuhoe di Tengah Hutan Tutupan yang Unik
Para tetua adat dari tujuh suku yang mendiami Leu Tuan Leuhoe di depan rumah adat salah satu suku.

 

Lembatanews.com – Setiap daerah memiliki keunikan. Demikian halnya yang dimiliki masyarakat adat Kedang. Hampir semua suku di Kedang memiliki Leu Tuan (kampung lama) sebagai pertanda bahwa masyarakat adat Kedang berasal dari turunan Uye Lewun. Hal itu jelas terlihat dalam silsilah turunan orang Kedang. Pada satu titik dalam runutan silsilah, suku-suku di Kedang akan bertemu dan itu menunjukkan bahwa orang Kedang berasal dari satu turunan.

Keberadaan Leu Tuan orang Kedang selalu memiliki cerita tersendiri, bagaimana hingga mereka bisa berada dan mendiami kampung lama itu dan saat ini dijadikan lokasi ritual adat setiap tahun.

Begitu pula adanya Leu Tuan Leuhoe. Leu Tuan Leuhoe memiliki keunikan tersendiri karena berada di tengah dan dikelilingi hutan tutupan. Walau berada di tengah hutan tutupan, namun pohon yang tumbuh di sekeliling Leu Tuan Leuhoe, tak pernah ada yang tumbang ke arah kampung lama.

Masyarakat setempat juga mempercayai bahwa jika ada pohon di hutan tutupan itu tumbang, menjadi pertanda akan ada tua lahar leuauq (orang tua suku) yang meninggal.

Leu Tuan Leuhoe didiami oleh tujuh suku besar. Itu ditandai dengan keberadaan rumah adat dari tujuh suku tersebut. Tujuh suku yang memiliki rumah adat di Leu Tuan Leuhoe, yakni Suku Leuhoe Tubar, Leuhoe Take, Leuhoe Payong, Suku Belutowe, Edangwala, Yaboki, dan Suku Nolowala.

Menuang tuak dari wetuq (wadah dari bambu) dan diisi pada te’ang (gelas dari tempurung kelapa) dalam tradisi masyarakat adat Kedang.

 

Dalam setiap ritual yang digelar di Leu Tuan Leuhoe, ketujuh suku ini harus hadir untuk menyatukan hati baru ritual bisa digelar.

Kepala Desa Hoelea 2 Marselinus Moi mengatakan, di Leu Tuan Leuhoe ini, masyarakat adatnya masih sangat mempertahankan tradisi. Bangunan yang ada tidak menggunakan material lain, selain kayu, dan batu. Atap rumah adat pun hanya bisa menggunakan alang-alang yang dalam bahasa Kedang disebut Uru.

Di Leu Tuan Leuhoe ini juga tidak bisa ditanami Watar (jagung), Wereq (jewawut), dan Anen (padi). Yang bisa ditanam di Leu Tuan Leuhoe hanyalah tanaman Leye atau dalam bahasa Indonesia disebut Jelai atau jali-jali. Selain Leye, yang bisa ditanam juga aneka umbi-umbian.

Pemerintah Desa Hoelea dan Hoelea 2, kata Marselinus Moi telah pula membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis Lamun Lama Lete. Kehadiran Pokdarwis diharapkan mampu mengelola potensi wisata yang ada di Leu Tuan Leuhoe, juga Leu Tuan Leuleaq untuk dijadikan destinasi budaya.

Leu Tuan Leuhoe di Desa Hoelea 2, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata ini tak sulit untuk dijangkau. Jika Anda ingin berkunjung, datanglah saat digelar ritual di Leu Tuan Leuhoe. Setiap tahun, selalu rutin digelar ritual di Leu Tuan Leuhoe. Terdapat empat jenis ritual yang digelar dalam satu tahun, yakni ritual miwaq mule atau tanam perdana, ritual bele witing tuaq, ritual kuq leye atau panen leye, dan terakhir ritual ka weru atau ritual makan hasil panen baru.

Untuk mencapai lokasi Leu Tuan Leuhoe ini pun tak terlalu sulit. Pemerintah setempat telah membangun jalan usaha tani (JUT) hingga di lokasi itu yang hanya berjarak kurang lebih 2 kilometer dari permukiman warga saat ini. Walau jalannya sedikit menanjak, namun alamnya yang sejuk ditutupi pepohonan tak membuat Anda kelelahan mencapai puncak Leu Tuan Leuhoe. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *