Dior dan Paradoks Feminitas dalam Sepotong Busana

Dior dan Paradoks Feminitas dalam Sepotong Busana

Lembatanews.com — Setiap karya seni bak tali temali yang saling terkait dan memengaruhi. Perancang Maria Grazia Chiuritampaknya punya kecenderungan untuk menciptakan koleksi yang terpengaruh dari karya sastra.

Setelah mengangkat tema “Sisterhood is Global” karya feminis Robin Morgan, kini Direktur Kreatif Dior itu mengutip sebuah esai karya penulis Austria-Amerika, Bernard Rudofsky bertajuk “Are Clothes Modern?” yang diterbitkan pada tahun 1947 silam. Waktu itu menandai diluncurkannya koleksiNew Look yang tersohor garapan Monsieur Christian Dior.

Kelir hitam berkilau pada hampir seluruh koleksi anyar yang dipamerkan dalam Paris Couture Week. Poin tumpuan Chiuri kali ini adalah arsitektur. Siluet dan struktur berona hitam tampak sangat konstruktif dan terlihat efisien.

Caryatid–simbol patung wanita dalam Yunani Kuno–dan arsitektur Paris yang lebih modern adalah metafora yang sempurna untuk koleksi ini. Dua elemen dekoratif itu menjadikan pagelaran ini sebagai satu kesatuan yang utuh.

Kali ini, Chiuri mendapuk Penny Slinger untuk menata skenografi megah yang dipamerkan. Slinger merupakan seniman Amerika Serikat yang dikenal dengan karya-karya beraliran surealis dengan ragam gagasan feminisme.

Chiuri mengawali koleksi ini dengan sebuah peplos. Dalam bahasa Yunani, ‘peplos’ berarti gabungan antara kaus dan gaun. Koleksi diikuti oleh banyaknya potongan-potongan sederhana nan mewah seperti kaftan chenillehitam dan mantel yang serasi.

Tentu saja, bukan koleksi Christian Dior jika tak menampilkan bar jacket. Hanya saja, siluet bar kali ini terlihat ringan tanpa padding.

Paradoks Feminitas
Bernard Rudofsky dikenal karena anggapannya yang cukup menarik perhatian publik. Dia memandang bahwa pemakaian korset dan sepatu hak tinggi sebagai sesuatu yang tidak penting. Alih-alih menganggapnya sebagai hal lumrah, dia justru menganggap ada bahaya yang mengintai dari kebiasaan tersebut.

Pilihan Chiuri untuk menciptakan koleksi berdasarkan karya Rudofsky adalah paradoks. Betapa tidak, Rudofsky justru berpikiran bahwa fesyen hanya ‘hidup’ di negara-negara yang menganut kelas sosial yang saling terpisah satu sama lain. Sementara Chiuri berpendapat bahwa fesyen ibarat kekuatan global yang melibatkan semua strata.

Namun demikian, di antara sekian banyak faktor, modernitas menjadi yang terpenting. Dior telah membuktikan dirinya sebagai seorang visioner dan menjadikannya sebagai salah satu rumah couture terkemuka di dunia.

Bagi Dior, segala hal harus memiliki makna. Kehadiran Chiuri menjadikan Dior tak cuma sebagai rumah mode yang menyediakan pilihan busana, tapi juga arti yang lebih mendalam. Ada makna filosofis yang tersirat dari sehelai kain dan sebutir kancing. (sumber cnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *