Masyarakat Adat Napaulun Minta Bangun Jalan Lingkar Luar Kampung Adat

Masyarakat Adat Napaulun Minta Bangun Jalan Lingkar Luar Kampung Adat
Rombongan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur disambut secara adat dipintu masuk Desa Bunga Muda, Kecamatan Ile Ape, Jumat, 11 September 2020.

 

Lembatanews.com – Kepala Desa Bunga Muda Bernadus Parlete Lagamaking mengatakan, masyarakat adat kampung adat Napaulun yang terdiri atas dua desa yakni desa bunga Muda dan Desa Napasabok, meminta Pemerintah Kabupaten Lembata membangun jalan lingkar luar kampung adat Napaulun. Pembukaan jalan dimaksud juga untuk membuka alur api agar memisahkan jalur api dengan kampung adat Napaulun.

Permintaan itu disampaikan saat kunjungan kerja Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur ke Desa Bunga Muda Jumat, 11 September 2020 lalu.

Pada kesempatan itu, ia juga menggambarkan kondisi kebakaran rumah adat yang sesuai perhitungan mencapai kerugian hingga Rp1,9 miliar. Ia merincikan, kerugian akibat kebakaran rumah adat rata-rata Rp20 juta. Sehingga untuk 26 rumah adat yang terbakar, kerugiannya mencapai Rp520 juta.

 

Selain rumah adat, ikut terbakar pula sejumlah peninggalan adat yang tersimpan di dalam rumah adat, yang diperkirakan senilai Rp1,4 miliar. Sehingga total kerugian seluruhnya mencapai Rp1,9 miliar.

Untuk itu, ia mengharapkan ukuran tangan pemerintah dan berbagai pihak untuk membantu masyarakat adat Napaulun dalam membangun kembali rumah adat yang terbakar.

Menurut rencana, pembangunan kembali rumah adat yang terbakar akan segera dimulai, diawali seremoni adat yang direncanakan dilaksanakan pada 21 September 2020 mendatang.

Terhadap permintaan pembangunan jalan lingkar luar, Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dihadapan masyarakat adat Napaulun menyanggupinya. Hanya saja, ia meminta para tetua adat dan suku-suku pemilik tanah untuk berembuk terlebih dahulu agar tanah yang akan dibangun jalan diserahkan terlebih dahulu. Setelah masalah tanah sudah dibereskan baru pemerintah akan turun untuk membangun jalan.

“Jangan sampai nanti kita turun bangun masih ada persoalan tanah. Ada suku yang tidak mau serahkan. Jadi selesaikan dulu urusan tanah baru pemerintah turun buka jalan,” kata Bupati Sunur.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur saat berbicara di hadapan masyarakat adat Napaulun.

 

Sementara terkait pembangunan kembali kampung adat Napaulun, Bupati Sunur secara pribadi akan menyumbang semua keperluan untuk seremoni adat.

Sedangkan secara Pemerintahan, Pemerintah Kabupaten Lembata menyumbang Rp10 juta. Sebab, untuk urusan rumah adat, pemerintah tidak bisa mengambil alih sepenuhnya tetapi harus menjadi tanggungjawab pemangku adat.

Kehadiran pemerintah, lanjutnya, untuk memastikan adat berjalan dan kapan mau mulai dibangun.
Karena, lanjutnya, urusan adat maka pemerintah tidak ambil semua urusan tapi untuk membangun kembali pemerintah hanya memberikan stimulus sebesar Rp10 juta.

Selanjutnya, kata dia, APBDes dua desa bisa masuk dalam perubahan untuk membantu pembangunan rumah adat.

“Tinggal suku yang punya rumah bekerja sama dan diatur tata letaknya untuk menghindari kebakaran lagi ke depannya,” kata Bupati Sunur..

Camat Ile Ape Simon Emi Langodai mengatakan, terkait kebakaran yang menimpa kamoun adat Napaulun merupakan duka yang sangat dirasakan oleh masyarakat adat.

“Duka Napaulun, Duka Ile Ape, Duka Lembata,” kata Simon Langodai. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *