Mulai September Buka Pintu Antarpulaukan Ternak Babi, Dinas Peternakan Sosialisasi Pengeluaran dan Pemasukan  Ternak Babi di Lembata

Mulai September Buka Pintu Antarpulaukan Ternak Babi, Dinas Peternakan Sosialisasi Pengeluaran dan Pemasukan  Ternak Babi di Lembata
Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq.

 

Lembatanews.com – Menindaklanjuti instruksi Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pemasukan Ternak Babi dan Hasil Olahannya di Kabupaten Lembata di masa Virus ASF, maka Dinas Petetnakan Kabuoaten Lembata langsung menggambil langkah sigap. Dinas mengumpulkan para pedagang pengumpul ternak babi yang selama ini beroperasi di Lembata bersama instansi teknis terkait guna menyosialisasikan instruksi gubernur dimaksud.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Lembata Kanisius Tuaq kepada Lembatanews.com usai kegiatan sosialisasi, Selasa (11/8) di kantornya menjelaskan, rapat teknis pengeluaran dan pemasukan ternak babi di Kabupaten Lembata dilaksanakan sejalan dengan instruksi Gubernur NTT Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pemasukan Ternak Babi dan Hasil Olahannya di Kabupaten Lembata di Masa Virus ASF.

Dia menjelaskan, selama kurang lebih sembilan bulan sejak merebaknya virus ASF atau flu babi Afrika masuk di NTT, Gubernur NTT telah menginstruksikan untuk menghentikan pengeluaran dan pemasukan ternak babi dan olahannya dari dan ke NTT. Kebijakan itu telah menyebabkan kelesuan ekonomi masyarakat yang selama ini mendapatkan pemasukan dan penjualan ternak babi.

Namun, lanjutnya, setelah memastikan Kabuoaten Lembata bebas ASF, maka Pemerintah Kabuoaten Lembata mellui Dinas Peternakan menyurati Gubernur NTT untuk meminta diperbolehkan mengeluarkan ternak babi dan olahannya dari Lembata.

“Lewat bantuan Pak Hoat (Yohanes de Rosari, anggota DPRD NTT), surat kita ternyata langsung direspons Pak Gubernur,” kata Kanisius Tuaq.

Untuk itu, setelah sosialisasi, langkah selanjutnya adalah mengambil sampel darah babi untuk dikirim ke laboratorium di Denpasar untuk dilakukan pemeriksaan. Jika nanti hasilnya negatif ASF, maka pihaknya akan menyurati Dinas Peternakan di sejumlah kabuoaten, yang selama ini menjadi daerah tujuan pengiriman ternak babi dari Lembata.

“Nanti dalam surat itu kita lamourkan juga hasil uji lab yang sudah nyatakan Lembata negatif ASF,” terangnya.

Dijelaskannya, selain syarat uji laboratorium dimaksud, untuk bisa mengeluarkan ternak dari Lembata, para pengumpul ternak pun wajib mengikuti sejumlah persyaratan dan ketentuan lainnya yang telah diatur oleh Pemerintah Kabupaten Lembata.

Persyaratan lainnya yakni uji laboratorium hockkolera, rekomendasi pengeluaran, izin pengeluaran oleh Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu dan Ketenagakerjaan, dan surat rekomendasi pengeluaran dari Karantina Hewan.

“Jadi kami di Dinas Peternakan dan Dinas Penanaman Modal, PTSP mengurus di darat, sedangkan untuk urusan lautnya oleh Karantina Hewan,” katanya.

Sesuai jadwal, lanjut Kanisius Tuaq, 23 Agustus 2020 ini akan dilakukan pengambilan sampel untuk dikirim ke Denpasar. Selanjutnya, menunggu hasil laboratorium yang paling lambat dalam satu Minggu.

Sehingga, diperkirakan pada awal September 2020 nanti, para pengumpul ternak sudah bisa mulai mengeluarkan ternak babi dari Lembata.

“Pintu keluar masuk resmi yang perlu dijaga ketat yakni Bandara Wunopito, Pelabuhan Lewoleba, Pelabuhan Waijarang, dan Pelabuhan Balauring,” urainya.

Sedangkan titik yang akan dilakukan pengetatan di Pelabuhan Waiwuring, Pelabuhan Wairiang, Loang, dan pelabuhan tradisonal lainnya yang tersebar di kecamatan. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *