Nene Jawa, Dalam Kesendirian di Usia Senja

Nene Jawa, Dalam Kesendirian di Usia Senja
Maria Jawa Waleng, janda berusia 91 tahun yang tinggal sendirian di rumahnya di Selandoro, Lewoleba, Lembata. 

 

Lembatanews.com – Gubuknya hanya berukuran 3 x 5 meter berdinding seng bekas dan ada yang dari bambu cincang. Jagung yang mulai meninggi menutupi hampir seluruh rumah yang tingginya tak lebih dari dua meter itu. Walau atapnya tampak masih bagus, namun pada bagian atas yakni antara ujung dinding dan atap ada bolong sehingga kalau angin, hujan tentu akan merembes masuk ke dalam rumah.

 

Nene Jawa terharu saat menerima amplop tali kasih yang diserahkan Ketua FJL Aleksander Paulus Taum

 

Di dalam rumah yang hanya satu los itu, tampak sebuah tempat tidur yang mulai keropos dimakan rayap. Karena tidak.memiliki lemari pakaian, semua pakaiannya tampak diletakan begitu saja di atas tempat tidur. Di seberangnya ada para-para setinggi satu meter tempat menyimpan jagung dan dibawahnya diletakan tungku api. Ada bale-bale di seberangnya lagi. Satu tempat air plastik berpenutup diletakan di dekat bale-bale.

Sejumlah gambar rohani Tuhan Yesus, Bunda Maria tampak tertempel berbaris rapi di dinding rumah. Ada patung Keluarga Kudis dari Nazaret yang diisi di dalam jerigen yqng sudah dibuka bagian depannya tergantung di dinding rumahnya.

Gambaran rumah yang sangat sederhana itu merupakan.rumah.milik.Oma Maria Jawa Waleng, janda berusia 91 tahun yang saat ini tinggal sendirian di RT 02, RW 01, Wangatoa Timur Selatan, Kelurahan Selandoro, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata.

Nene Jawa, warga sekitar biasa menyapanya. Kini ia hidup sebatang kara, tanpa sanak keluarga. Suaminya Lema Kolin meninggal selepas kelahiran anaknya yang kedua sekaligus bungsu dari dua bersaudara. Si sulung Simon Lema merantau ke Malaysia dan tak pernah pulang sampai saat ini. Sementara si bungsu Pilipus Lema sudah meninggal dunia.

Nene Jawa berjalan tertatih sambil memegang dinding dan bangku.

 

“Waktu pesta mereka panah dia di dahi. Dia mati di Maumere,” kata Nene Jawa sedih mengingat anak bungsunya yang mati sia-sia di tanah Nian Sikka.

Walau sudah renta, ia masih rajin berkebun. Kebun di sekitar rumahnya ditanami jagung, padi dan kacang tanah. Rumputnya pun dia bersihkan sendiri.

Ia juga rajin ke gereja. Tapi karena sudah sangat renta dan sering sakit serta sesak nafas, akhir-akhir ini ia sudah tidak lagi ke gereja. Ia hanya dilayani Komunio di rumahnya oleh para suster.

“Ini hari apa. Saya belum terima sambut, suster belum kasih sambut,” katanya saat disampaikan bahwa hari ini hari Minggu.

Saat Fince Bataona menanyakan kamar mandi yang dibangun apakah sudah digunakan, kontan ia bilang, “saya hidup di tanah harus (BAB) di tanah”, tanpa mempedulikan dampak BAB di sembarang tempat.

Nene Jawa saat berbincang-bincang dengan wartawan

Kunjungan para jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Lembata (FJL) pada Minggu, 9 Februari 2020 sore sekitar pukul 17.25 disambut hangat. Saat disapa, ia.masih di dalam rumah. Ia lalu berjalan tertatih-tatih sambil memegangi dinding rumah dan keluar. Ia lalu duduk di bangku panjang yang sudah diletakkannya di luar di dekat pintu rumah.

Nene Jawa mengenakan kain sarung lusuh, dan baju berwarna pink. Ia tampak heran melihat wajah-wajah asing yang tak pernah dijumpainya selama ini. Satu-satunya yang ‘mungkin’ ia kenal yakni Fince Bataona, wartawati senior yang ikut bersama mengunjungi Nene Jawa. Namun seulas senyum masih merekah dan keceriaan tampak diwajahnya yang renta saat dijelaskan maksud kedatangan para jurnalis.

Walau dengan terbata-bata dan pendengaran yang mulai berkurang, ia.menyimak pertanyaan awak media dan berbicara jatuh bangun dalam bahasa Indonesia bercampur bahasa Atadei, kampung asalnya.

Dalam kesendiriannya, ia mendapatkan perhatian dari ‘keluarga’ di sekitarnya. Para tetangga sering mengantarkan makanan untuknya. Dia.mengaku punya beras untuk masak.makan, tapi tetangga tetap mengantar makanan untuknya. “Tapi kalau pedas saya buang, saya tidak.makan pedas dari kecil,” kata Nene Jawa sambil minta kepada Fince Bataona supaya kalau bawa ikan jangan ikan goreng. Bawa ikan mentah supaya masak kuah biar lembut dan bisa dia makan. Dia juga minta dibawakan bumbu penyedap.

Kesendirian dan kesunyian kembali dilakoni Nene Jawa sepulangnya para jurnalis FJL. Ia kembali menikmati kesendirian di sisa waktu hidupnya.

Ketua Forum Jurnalis Lembata Aleksander Paulus Taum mengatakan, bantuan yang diberikan tak seberapa yang dikumpulkan dari para anggota FJL. Melihat kondisi memprihatinkan yang dialami Nene Jawa, ia memandang bahwa masih banyak ketimpangan yang perlu disuarakan oleh insan pers.

“Hari Pers Nasional (HPN) ke-74 tahun 2020 di Lembata kita rayakan dengan menunjukan sisi humanis pers sebagai voice of voiceles. Mama Jawa yang kita kunjungi tadi mengisyaratkan masih banyak ketimpangan yang perlu kita suarakan,” tegas San Taum.

Karena itu, insan pers perlu mengingatkan kepada pengambil kebijakan untuk mengarahkan perencanaan pembangunan untuk menyejahterakan rakyat.

“Pemerintah jangan pernah mengedepankan kepentingan pribadi atau golongan Ialu mengabaikan rakyat,” tegasnya.

Menurutnya, HPN di Lembata menjadi momentum untuk melihat ke dalam, seberapa dalam pers memainkan peranan sebagai salah satu pilar demokrasi.

Ikut dalam kunjungan itu, Ketua FJL Aleksander Paulus Taum (Media Indonesia), Fince Bataona (Aksi News), Richo Wawo, (Pos Kupang), Broin Tolok (Warta Keadilan), dan Hiero Bokilia (Victory News). (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *