Orang Asli Tokojaeng

Orang Asli Tokojaeng

(Kisah sejarah asal usul orang Tokojaeng – Lamatokan)

Oleh Benediktus Bedil

Sekali peristiwa, ada 4 orang kakak beradik coba memasang jerat di hutan ‘Lodoblolok – Ata Kowa‘ (sebutan untuk daerah yang sekarang disebut dengan nama Lodoblolong dan Ata Kowa). Yang kakak namanya ‘Raya Laga Doni dan yang adik-adiknya bernama ‘Koke’, ‘Bome ‘, dan ‘Bido’. Sebagaimana layaknya masyarakat yang tinggal di dekat kawasan hutan selalu memasang jerat untuk mendapatkan daging, mereka pun demikian. Masing-masing mereka memiliki jerat. Satu hal yang aneh adalah ketika memeriksakan jeratnya, jerat sang kakak selalu menangkap Rusa, Babi, dan Burung-burung ; sementara jerat adik-adiknya selalu menangkap ‘aba lodan’ (sejenis kalung yang menjadi perhiasan nenek moyang dahulu kala).

Melihat kejadian itu, Raya Laga Doni menuduh ketiga adiknya adalah sewanggi dan mengusir ke tiganya dari Lodoblolok-Atakowa. Terdesak oleh rasa benci saudara tuanya, Koke, Bome, dan Bido bersama keluarganya membuat sebuah perahu dari bambu dengan layar dari daun lontar dan pergi meninggalkan Lodoblolok-Atakowa dengan membawa serta barang-barang yang menjadi miliknya termasuk ‘aba lodan’ yang didapatkan dari jerat. Mereka juga membawa air dalam ‘torang’ (wadah yang biasanya dipakai untuk mengisi air oleh masyarakat setempat). Karena tidak tega melihat kepergian ketiga anaknya, sang Ibu tercinta, ‘Peni Uta Lolon’ pun ikut berangkat.

Di tengah laut perahu ketiganya diserang badai. Agar terhindar dari bahaya, ketiganya yakin bahwa hanya dengan membuang salah satu dari barang-barang miliknya mereka bisa selamat. Akhirnya mereka membuang ‘aba lodan’ masing-masing kecuali Bido yang menipu kedua kakaknya dengan hanya membuang selembar daun lontar. Ketiganya, akhirnya selamat mendarat di Tanjung Horigala. Kemudian perahu mereka berubah menjadi “wato molo” (sejenis batu yang berbentuk perahu), layarnya berubah menjadi “napa” (karang besar yang rata dan membentang di depan pante tokojaeng), dan air dalam bambu berubah menjadi ‘wai larang’ (air yang sekarang bercampur dengan air laut). Mereka akhirnya tinggal di ‘Lewo One Hurunge” (tengah kampung bagian atas).

Pada malam hari mereka melihat ada nyala api di gunung. Mereka yakin bahwa ada orang yang mendiami tempat di mana api tersebut dilihat. Koke dan Bome memutuskan untuk pergi ke tempat itu keesokan harinya. Sesampainya di atas mereka menemui Key dan Sanga. Kepada Koke dan Bome; Key dan Sanga menyuguhkan mereka tuak tetapi tuak itu penuh dengan kotoran dari bambu yang sudah rusak. Melihat kenyataan itu, Koke dan Bome menasihati cara memotong dan membawa bambu yang baik agar tidak cepat rusak yaitu harus dipotong pada bulan terang dan di bawa dengan ujungnya terlebih dahulu.

Karena ingin segera mendirikan sebuah Korke, Koke dan Bome mengajak Key dan Sanga untuk pergi memotong bambu. Mereka berempat pun bergegas untuk pergi ke Hutan Bambu tanpa harus menunggu bulan terang. Bagi mereka yang penting syarat yang kedua dilakukan. Setelah potong bambu, masing-masing mereka membawanya ke Namang Tukan (satu tempat yang terletak di gunung sekitar 20 km dari kampung Tokojaeng). Cara Key dan Sanga membawanya sesuai dengan petunjuk yang disarankan Koke dan Bome, tetapi Koke dan Bome sendiri dalam perjalanan, ketika tidak dilihat Key dan Sanga, membawanya dengan pangkal terlebih dahulu. Dan sesampainya di Namang Tukan meletakannya dengan pangkal di belakang dan ujung di depan.

Karena merasa tiba terlebih dahulu, Koke dan Bome langsung melakukan upacara “pao ama opo” (memberi makan sesaji) tanpa menunggu Key dan Sanga. Beberapa jam setelah bersusah paya membawa bambu dengan ujung di depan, Key dan Sanga pun tiba. Ketika hendak membuat upacara “pao ama opo” , mereka di tolak karena sudah dilakukan sebelumnya oleh Koke dan Bome. Koke dan Bome yang menang. Merasa sebagai kelompok yang kalah dan tidak layak menjadi orang yang direstui Lewotanah (Kampung Halaman); Key dan Sanga bersama keluarganya bergegas pergi meninggalkan ”Namang Tukan”.

Karena begitu banyaknya barang, mereka tidak mampu membawa semuanya dan harus menyembunyikan beberapa seperti Tempayan dan Kalung Adat dalam tanah agak jauh dari Namang. Keluarga ini kemudian lari ke Adonara dan membentuk Suku Tokan. Sebagian harta yang ditinggalkan tersebut, di kemudian hari ditemukan “Kiwang” kebetulan hendak kencing. Barang-barang berharga tersebut digali dan diambil tetapi tempayannya memberontak sambil menggelepar-gelepar sampai dijinakan ‘Bedi’, dan diarak kembali ke Namanjg dan ditempatkan di sana hingga sekarang.

Selepas kepergian Key dan Sanga, Koke dan Bome mendirikan 2 buah korke. Sementara Bido tidak. Koke, Bome, dan Bido kemudian kembali hidup bersama keluarga dan ibunya. Sang ibu, Peni Utan Lolong, pada suatu waktu erasa jenuh memelihara anak dan cucu Koke, Bome, dan Bido. Ia akhirnya memutuskan untuk memelihara seekor ulat yang didapatkannya dari sebatang pohon yang ditebang. Ulat itu kemudian menjadi besar sekali dan terkadang membunuh cucu-cucunya sendiri. Merasa bahwa perbuatannya salah, Peni akhirnya pindah ke Puncak Gunung Ile Ape dan menjaga Gunung itu hingga sekarang. Dari beberapa ceritera, ia tinggal di tengah kawah belerang sambil menggendong seekor ayam jago yang dalam bahasa setempat disebut “manuk siring gokok”. Pernah ada yang ingin mengeluarkannya dari tempat itu dengan sebilah bambu tetapi tidak berhasil karena bambu itu terbakar oleh bara belerang.

Anak cucu Peni Utan Lolon merkembang jadi besar dan banyak lalu membentuk 3 suku yaitu Koko Making, Bomaking, dan Bido Making. Selain mereka, datang penduduk yang lain dari daerah sekitarnya dan membentuk beberapa suku di kampung Tokojaeng hingga sekarang ini. Mereka itu adalah ‘Suku Purlolong dari Lewohala – Jontona’, ‘Suku Kaliku dari Kalikur – Kedang’, Suku Lewotobi dari Lewotobi – Ile Bura’, ‘Suku Atawatung dari Atawatung – Lamagute’, ‘Suku Wanganaing dari Lamawolo’, dan suku-suku lain yang disebut Nobo Nelen yaitu ‘Domaking dari Baopukan, Berewu Making Lamawolo, Hali Making dari Lewohala-Jontona, Soro Making dari Jontona, Kelela One dari Lewo Tolok, Lamaau dari Lamaau, dan Ladopurap dari Lewotolok). Tokojaeng itu sendiri dikenal dengan berbagai nama seperti Tokan Lota Pito, Lawe Salang Lema, Tokan Sue Bala, dan Lawe Gego Petung,Tokan Jahe (Tokan Yang Berjaya).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *