P-1 Covid-19, Pelaku Perjalanan Cluster Makassar asal Babokerong Dinyatakan Sembuh, Lembata kembali ke Zona Hijau

P-1 Covid-19, Pelaku Perjalanan Cluster Makassar asal Babokerong Dinyatakan Sembuh, Lembata kembali ke Zona Hijau
drg Dominikus Minggu Mere, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT.

 

Lembatanews.com – Pasien 01 (P-1) Covid-19 asal Desa Babokerong, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata yang merupakan pelaku perjalanan cluster Makassar dinyatakan sembuh setelah dilakukan swab test kedua.

Demikian penjelasan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT drg Dominikus Minggu Mere kepada wartawan di Desa Balauring, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Rabu, 29 Juli 2020.

Dikatakanya, swab test kedua sudah dilakukan di RSUD Lewoleba setelah pihaknya membantu sejumlah catridge beberapa waktu lalu. S hingga, pemeriksaan swab dalam jumlah kecil sudah dapat dilakukan di Lembata. Sedangkan pemeriksaan dalam jumlah besar batu dikirim ke Kupang untuk dilakukan di sana.

Catridge diberikan kepada daerah-daerah yang berpotensi adanya transmisi lokal.

Dengan dinyatakan P-1 Covid-19 Lembata itu sembuh, maka Lembata yang sebelumnya masuk zona merah, kini sudah kembali ke zona hijau.

Ia mengatakan, sebelumnya sudah terdapat 122 pasien Covid-19 di NTT yang dinyatakan sembuh. Sehingga, setelah P-1 Covid-19 Lembata juga dinyatakan sembuh, maka total pasien Covid-19 di NTT yang dinyatakan sembuh telah mencapai sebanyak 123 orang.

Dalam perjalanan ke Mingar, ia juga berkesempatan memantau kondisi P-1 Covid-19 Lembata yang diisolasi di gedung TK di Desa Babokerong, Kecamatan Nagawutun.

Wilayah yang dicurigai transmisi lokal termasuk di Lembata mengingat banyak pelabuhan rakyat yang harus dijaga. Karena, lanjutnya, pengalaman di Labuan Bajo, tujuh positif dari Makasar.

“Tali jangan karena covid lalu kapal tidak masuk. Tidak boleh takut dengan covid,” tegas Minggu Mere.

Ia juga mengajak para dokter dan tim medis survalens untuk selalu siap menghadapi situasi Covid-19. Jika ada pasien Covid-19 agar ditangani, diperiksa, didiagnosa dan diberikan perawatan.

Ke depan, selain memperhatikan sarana prasarana kesehatan, sumber daya manusia (SDM) tenaga medis juga harus diperhatikan. “Perrlu peningkatan kapasitas petugas kesehatan jadi harus sekolah. Kalau tidak sekolah repot. Yang diploma ke S-1, yang S-1 ke S-2,” katanya.

Peningkatan sarana dan prasarana serta SDM tenaga medis di Lembata, kata dia, siap dibackup up Pemprov mengingat Lembata merupakan wilayah pengembangan destinasi pariwisata internasional. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *