Para Pengungsi Ile Lewotolok Dipastikan Natal di Kamp Pengungsian

Para Pengungsi Ile Lewotolok Dipastikan Natal di Kamp Pengungsian
Para pengungsi korban erupsi Gunung Api  Ile Lewotolok yang menempati tenda-tenda pengungsian di halaman eks kantor bupati.

 

Lembatanews.com – Para pengungsi korban erupsi Gunung Api Ile Lewotolok dipastikan akan merayakan Hari Raya Natal di kamp-kamp pengungsian, menyusul diperpanjangnya masa tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata hingga 26 Desember 2020.

Perpanjangan masa tanggap darurat itu dilakukan mengingat tingkat aktivitas Gunung Api lle Lewotolok yang dinaikkan dari Level II (waspada) menjadi Level III (siaga) oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yang hingga saat ini belum diturunkan.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dalam Surat Keputusan Bupati Lembata tentang Perpanjangan Penetapan Status Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Api Ile Lewotolok di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata Tahun 2020 menegaskan, dalam tingkat aktivitas siaga (level III), rekomendasi yang dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi kepada masyarakat di sekitar Gunung lle Lewotolok maupun pengunjung/pendaki/wisatawan agar tidak melakukan aktivitas 4 kilometer dari kawah puncak, telah menyebabkan 16 desa yang berada dalam radius 4 kilometer mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Karena kondisi tersebut, terangnya, maka masa tanggap darurat penanggulangan bencana erupsi Gunung Api Ile Lewotolok perlu diperpanjang;

Mempertimbangkan seluruh peraturan dan ketentuan yang berlaku, urainya, pemerintah menetapkan perpanjangan status tanggap darurat Penanggulangan Bencana Erupsi Gunung Api lle Lewotolok di Kecamatan lle Ape dan Kecamatan lle Ape Timur, Kabupaten Lembata Tahun 2020, dari tanggal 13 Desember 2020 sampai dengan tanggal 26 Desember 2020.

Selanjutnya, Bupati Sunur menugaskan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lembata selaku pelaksana Kegiatan Penanganan Tanggap Darurat Bencana Erupsi Gunung Api lle Lewotolok di Kecamatan lle Ape dan Kecamatan lle Ape Timur Tahun 2020 untuk melaksanakan tugas koordinasi penanganan bencana erupsi Gunung Api Ile Lewotolok.

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, lanjutnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lembata bertanggung jawab
kepada Bupati Lembata.

“Jika dalam pelaksanaan masa tanggap darurat selesai dan masih memerlukan penanganan lebih lanjut. maka dapat diperpanjang sesuai kebutuhan,” tegas Bupati

Ditegaskannya dalam surat tersebut bahwa segaln biaya yang dikeluarkan akibat ditetapkannya keputusan itu dbebankan pada APBD Kabupaten Lembata Tahun Anggaran 2020 dan APBD Provinsi NTT dan APBN atau sumber dana lainnya yang sah dan tidak mengikat.

Saat ini, pengungsi dari 16 desa di kawasan zona merah masih menempati tenda-tenda pengungsian dan sejumlah tempat penampungan resmi yang disiapkan pemerintah. Sebanyak 21 titik penampungan di Kota Lewoleba selain pengungsi yang ditampung di rumah-rumah penduduk.

Koordinator Bidang Humas dan O ndataan Markus Labi mengatakan, data pengungsi per Jumat, 11 Desember 2020, terdapat sebanyak 7.369 jiwa dengan jumlah kepala keluarga (KK) sebanyak 1.947 KK. Jumlah tersebut merupakan prngungsi dari 16 desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur.

Dari jumlah pengungsi itu, tersebar di 21 titik penampungan resmi yang disediakan pemerintah. Terdapat sebanyak 3.013 jiwa atau sebanyak 958 KK yang ditampung di penampungan resmi pemerintah. Sedangkan pengungsi lainnya tersebar di rumah-rumah penduduk baik yang ada di tujuh kelurahan, maupun yang ada di Kecamatan Lebatukan, Nagawutun, dan Omesuri. Jumlah pengungsi mandiri tersebut mencapai 4.356 jiwa atau 989 KK. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *