Parkir Tetap di Pinggir Jalan Jadi Pemicu Lakalantas

Parkir Tetap di Pinggir Jalan Jadi Pemicu Lakalantas
Dua unit truk yang bermuatan semen diparkir pemiliknya di depan toko dan berfungsi sebagai gudang berjalan. Gambar diabadikan Sabtu (8 Februari 2020).

Lembatanews.com – Parkir tetap di pinggir ruas jalan Trans Lembata, di kompleks pertokoan Ko otw Lewoleba, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata kian memprihatinkan. Parkir tetap di pinggir kiri dan kanan ruas jalan terutama di depan Toko Himalaya sering menjadi pemicu terjadinya kecelakaan lalulintas (lakalantas).

Karena itu, parkir tetap di pinggir jalan ini menjadi sorotan kalangan DPRD Lembata.

Kristoforus Richarm, politisi Partai NasDem, anggota Komisi 2 DPRD Lembata menegaskan, soal parkiran, sudah sering diangkat. Parkir di badan jalan, sesuai regulasi tidak diperbolehkan, apalagi parkir tetap.

“Para pengusaha ketika membangun tempat usaha seharusnya menyiapkan juga tempat parkir khusus,” tegas Richarm.

Menurutnya, pemerintah tak boleh memberi ruang parkir tetap di depan toko kendati mereka mampu membayar retribusi parkir yang ditetapkan pemerintah.

Ia juga sangat keberatan dan tidak sepakat bongkar muat semen di kompleks pertokoan. Aktivitas bongkar muat harus diatur waktu tertentu.

“Truk jangan dikasih parkir permanen, nanti terjadi kecelakaan dan ada pihak yang dirugikan,” tegasnya.

Florentinus Ola Kian, anggota Komisi 2 DPRD Lembata menegaskan, parkir di pinggir jalan harus menjadi perhatian serius terutama kendaraan milik pengusaha yang parkir permanen di pinggir ruas jalan nasional di kompleks pertokoan.

Ia minta koordinasi dan ketegasan pemerintah melalui dinas teknis terkait agar menertibkan kendaraan yang parkir tetap.

Parkir di ruas jalan yang ramai lalulintasnya bisa menimbulkan kecelakaan. Bahkan, pada Desember lalu terjadi tabrakan. Tabrakan terjadi karena mobil parkir di sebelah kanan, dan mobil yang melaju dari jalur kiri menabrak dan harus membayar biaya perbaikan mobil yang salah memarkir kendaraan.

Sejawat mereka di Komisi 2, Yosef Boli Muda menegaskan, kendaraan yang tidak bongkar muat tidak boleh parkir di depan pertokoan. Apalagi, ruas jalan itu adalah jalan negara. Jika ada kendaraan yang parkir di ruas jalan itu, bayaran sebagai retribusi parkir harus lebih mahal.

“Pemerintah melalui Dinas PUPR dan Perhubungan diharapakan memperhatikan parkiran di depan Toko Himalaya. Di kiri dan kanan jalan aktivitas bongkar muat pada jam ramai sering terjadi. Bahkan, ada sejumlah truk bermuatan semen yang diparkir permanen di lokasi itu dan seperti gudang. Saat pembeli membeli semen batu dibongkar dari mobil truk,” tegasnya. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *