Paus Meminta AS-Iran Berdialog dan Menahan Diri

Paus Meminta AS-Iran Berdialog dan Menahan Diri

Lembatanews.com – Paus Fransiskus mendesak Amerika Serikat dan Iran untuk menghindari eskalasi konflik dan mengedepankan “dialog dan menahan diri” untuk menghindari konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Pada Kamis (9 Januari 2020), Paus mengajukan permintaan sebagai komentar langsung pertamanya tentang krisis saat ini, dalam pidato tahunan yang kemudian dikenal sebagai pidatonya State of the World kepada para duta besar yang terakreditasi untuk Vatikan.

“Terutama yang mengganggu adalah sinyal yang datang dari seluruh kawasan menyusul meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat,” kata Paus kepada para diplomat dari 180 lebih negara.

Dia mengatakan ketegangan berisiko “mengompromikan proses bertahap pembangunan kembali di Irak, serta menetapkan dasar bagi konflik yang lebih luas yang ingin dihindari oleh kita semua”.

“Karena itu saya memperbarui permohonan saya bahwa semua pihak yang berkepentingan menghindari eskalasi konflik dan tetap menghidupkan nyala dialog dan pengendalian diri, dalam penghormatan penuh terhadap hukum internasional,” kata Paus Fransiskus seperti dilansir Reuters.

Presiden AS Donald Trump telah menyarankan Iran “mundur” setelah menembakkan rudal ke pasukan AS di Irak pada Rabu (8/1), sebagai tindakan balasan atas serangan yang menewaskan komandan militer Iran Qassem Soleimani pada 3 Januari lalu.

Berpotensi Perang
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, apakah akan berkembang menjadi perang dengan mengerahkan kekuatan militer atau perang dengan menggunakan senjata “sanksi ekonomi dan keuangan, itu yang sedang ditunggu hingga hari ini.

Peristiwa di Irak beberapa waktu terakhir tampaknya akan menjadinya “medan pertempuran” dari “perang” itu yang tingkat kemungkinannya untuk meletus makin besar.

Perang Akan Terjadi
Banyak analisis yang telah memprediksi “perang” antara AS dan Iran akan terjadi, terutama sejak runtuhnya perjanjian nuklir Iran, dengan AS menarik diri dari kesepakatan itu tahun lalu kemudian menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi dan keuangan.

Kapan itu terjadi, jalan ke sana tampaknya makin terbuka dengan ketegangan yang berkembang dalam dua pekan ini.

Terbunuhnya Mayjend Qassem Soleimani, dan wakil komandan Milisi Syiah di Irak, Abu Mahdi Al-Muhandis, oleh serangan AS di Baghdad, Jumat (3/1) lalu menjadi pemicunya.

Peristiwa yang mendahuluinya adalah serangan kelompok milisi Syiah Khataib Hizbullah, pimpinan Muhandis terhadap pangkalan militer Irak di mana pasukan AS berada dan korbannya adalah kontraktor AS. (sumber katolik.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *