Pembukaan Festival Literasi Sepi Peminat

Pembukaan Festival Literasi Sepi Peminat

Lembatanews.com – Acara pembukaan Festival Literasi 2019 mengusung tagline #sayabaca# di Pelabuhan Jetty kompleks Pelabuhan Lewoleba pada Kamis (22 Agustus 2019) malam tadi tampak sepi. Masyarakat yang semula tumpah ruah mengikuti Karnaval Literasi telah meninggalkan lokasi acara sebelum pembukaan Festival Literasi. Akibatnya, lokasi yang semula dipadati hampir lima ribu orang itu tampak lengang dan hanya tersisa panitia dan undangan di meja VIP.

Acara yang dijadwalkan dibuka oleh Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur hanya diwakilkan kepada Penjabat Sekda Anthanasius Aur Amuntoda. Para pimpinan OPD pun hanya beberapa saja yang tampak hadir dan masih bertahan hingga acara pembukaan.

Bupati Eliaser Yentji Sunur dalam sambutannya yang dibacakan Penjabat Sekretaris Daerah Anthanasius Aur Amuntoda mengatakan, Gerakan Literasi yang dikemas dalam bentuk Festival Literasi mengusung tema melalui literasi kita tingkatkan kualitas anak Lembata mandiri dan berdaya saing merupakan perpaduan kegiatan karnaval literasi, wisata literasi dan perlombaan bernuansa literasi.

Rangkaian kegiatan itu untuk memunculkan talenta-talenta baru anak muda yang merupakan bagian dari kreativitas dan inovasi pra event Festival Tiga Gunung (F3G) yang menjadi icon pariwisata Kabupaten Lembata.

Ia menegaskan, seseorang yang hebat di muka bumi awalnya belajar membaca dari a sampai z. Tidak ada orang yang tiba-tiba pintar dan jadi pembesar dunia.

“kalau ada perbedaan negara maju dan negara berkembang hanya ada pada pekerjaan utama masyarakatnya dan tingkat budaya baca masyarakatnya,” kata Amuntoda.

Dikatakannya, Amerika menjadi negara super power karena mereka percaya pada literasi. Pembesar-pembesar Amerika adalah pembaca-pembac ulung.

Kepada para pelajar ia ingatkan untuk tidak menyia-siakan waktu, tetapi harus disiplinlah diri dan hidup saat ini agar di masa depan hidupmu akan memanjakannya.

Neliwati, Pustakawan Utama, Perpustakaan Nasional mengatakan, budaya baca tidak serta merta tumbuh. Harus dimulai dari keluarga misalkan saat ulang tahun dikasih hadiah buku. Para guru pun harus terus meningkatkan minat baca.

“Sekarang sudah dilaksanakan membaca 15 menit sebelum pelajaran. Bapak ibu guru harus mulai membuat anak mencintai baca,” katanya.

Ia juga mengapresiasi antusias masyarakat dalam kaitan dengan literasi yang menurutnya sudah mulai tampak saat karnaval. Literasi, lanjutnya, sudah dijabarkan dalam berbagai kegiatan seperti marching band, kertas koran jadi baju dan potensi daerah yang bisa ditingkatkan. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *