Pemerintah, Pengusaha, dan Masyarakat Harus Sinergi Bangun Pariwisata

Pemerintah, Pengusaha, dan Masyarakat Harus Sinergi Bangun Pariwisata
Pemaparan materi secara virtual oleh I Wayan Mertha, dosen senior Sekolah Tinggi Pariwisata Bali pada kegiatan forum grup diskusi penyusunan road map desa wisata Kabupaten Lembata di aula Anissa Hotel and Resto, Senin, 1 November 2021.

 

Lembatanews.com – Dalam pembangunan pariwisata, ada elemen yang ikut bermain di dalamnya, yakni pemerintah, pengusaha, dan masyarakat lokal. Tiga komponen besar ini harus bersinergi dalam upaya membangun dan mengembangkan patiwisata yang disebut triple helix.

Hal itu disampaikan I Wayan Mertha, dosen senior pada Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (Politeknik Pariwisata Bali) secara virtual dari Bali pada kegiatan forum grup diskusi penyusunan road map desa wisata Kabupaten Lembata di aula Anissa Hotel and Resto, Senin, 1 November 2021.

I Wayan Mertha menerangkan, jika pemerintah desa mau mengembangkan pariwisata, maka tiga komponen pemerintah, pengusaha, dan masyarakat sangat penting dan saling dukung dan bersinergi dalam pengembangan pariwisata desa.

Pemerintah, lanjutnya, menjalankan fungsi regulator, yakni menyiapkan regulasi dan aturan untuk mengatur pembangunan pariwisata dan memfasilitasi pembangunan. Sementara pengusaha perannya adalah dalam menyiapkan hotel, transportasi dan agensi. Sedangkan masyarakat sebagai tuan rumah yang dipersiapkan menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan.

“Pariwisata bukankah tujuan, tetapi alat atau tools dan dipakai untuk mencari uang dan tujuannya adalah kesejahteraan. Sehingga jika sepakat menjadikan pariwisata sebagai tools maka satukan stakeholder dalam pembangunan pariwisata,” tegasnya.

Ia menambahkan, manfaat pembangunan desa wisata bagi masyarakat, memperoleh pemanfaatan akan pembangunan dalam pemanfaatan infrastruktur yang dibangun. Desa wisata merupakan pariwisata yang dimotori oleh masyarakat pedesaan untuk mencapai kesejahteraan masyarakatnya sendiri. Desa wisata muncul karena desa memiliki potensi atau kekayaan yang layak dijual oleh masyarakatnya sendiri kepada wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara.

Sehingga, desa perlu mengidentifikasi potensi-potensi yang layak dijual. Karena itu, harus memahami terlebih dahulu apa yang dilakukan. Sebab, membangun pariwisata tidak sama dengan membangun industri.

Lebih jauh Wayan Mertha menjelaskan, yang mesti dilakukan dalam pengembangan desa wisata adalah masyarakat desa dipersiapkan, dilatih di bidang pariwisata seperti menjadi tuan rumah yang baik, menerima tamu, menyiapkan makanan, kebersihan dan kesehatan dan mengelola desa.

Masyarakat dididik mampu bercerita sesuai potensi yang ada di desa dan dapat dipersiapkan menjadi tour guide.

Atraksi wisata, kata dia, sesungguhnya tidak saja soal pertunjukkan, tetapi juga terkait erat dengan sesuatu yang tidak terlihat tetapi bisa dirasakan. Masyarajat harus dibekali kemampuan untuk menarasikan setiap keunikan di desa. Misalkan penangkapan ikan paus, wisatawan yang datang tak harus disuguhkan atraksi penangkapan ikan paus, tetapi bagaimana masyarakat dipersiapkan untuk bisa bercerita sesuatu hal yang belum diketahui oleh wisatawan.

Masyarakat, lanjutnya juga perlu dipersiapkan dalam penyiapan penginapan atau home stay. Kunci keberhasilan pembangunan desa wisata adalah semua stakeholder ikut berpartisipasi, sapta pesona terimplementasi dengan baik, kesehatan, keamanan, kebersihan, kesehatan, kenyamanan, dan suvenir harus dipersiapkan secara baik.

Dalam pengelola pariwisata desa, bisa saja dikelola oleh masyarakat, Pokdarwis, tokoh masyarakat, pemuda, butuh investasi, pemilik rumah yang dijadikan home stay, perangkat desa atau PKK desa.

Di akhir paparannya, Wayan Mertha. mengatakan, yang tak kalah penting dalam pembangunan pariwisata adalah promosi desa wisata. Mempromosikan desa wisata dapat menggunakan berbagai media.

Di masa ini, promosi off line semakin ditinggalkan, termasuk promosi di media cetak. Promosi terbaik saat ini adalah melalui media online dan media sosial.

“Promosi bisa melalui media FB, Instagram, tiktok, Twitter, agar pihak luar dapat tahu keberadaan dan potensi desa wisata,” kata Wayan Mertha.

Kegiatan FGD penyusunan road map desa wisata melibatkan berbagai elemen pegiat pariwisata dari Desa Waijarang, Bour, Pasir Putih, Lolong, dan Desa Tewaowutung.

Kegiatan dibuka Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata Apolonaris Mayan, didampingi Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata Maria Anastasia Barabaje, dan Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Lembata MAA Putu Wahyuni.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari Sekolah Tinggi Pariwisata Bali (Politeknik Pariwisata Bali) yakni Deea Gde Ngurah Byomantara, I Wayan Mertha, dan I Putu Eka Nila Kencana. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *