Pemkab Lembata Mulai Buka Aktivitas Peribadatan di Rumah Ibadah

Pemkab Lembata Mulai Buka Aktivitas Peribadatan di Rumah Ibadah
Ilustrasi misa virtual selama masa Paskah 2020.

Lembatanews.com – Menurut rencana, mulai Jumat, 5 Juni 2020 mendatang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata mulai membuka aktivitas peribadatan di rumah ibadah dan diawali dengan sholat Jumat di.masjid-masjid di Lembata. Sedangkan untuk aktivitas ibadah di gereja, akan didahului Gereja Protestan, sedangkan untuk Gereja Katolik masih menunggu keputusan Uskup Larantuka.

Demikian dikatakan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur saat memimpin rapat lengkap Pamong Praja di aula Palm Indah Hotel, Lewoleba, Selasa, 2 Juni 2020.

Dikatakannya, Lembata merupakan satu dari 102 daerah yang masuk zona hijau dan boleh melakukan aktivitas new normal yang menurut Bupati Sunur bukan new normal melainkan back to normal, atau kembali ke kondisi normal.

Sehingga, aktivitas peribadatan di rumah ibadah sudah diperbolehkan dibuka, hanya tetap dengan mengikuti protokol kesehatan yakni mengatur jarak duduk. Untuk masjid dan gereja yang berukuran kecil, jarak duduk diatur 1,5 meter baik depan, samping maupun belakang. Sedangkan masjid dan gereja yang berukuran besar, diatur jarak 2 meter.

Ia menjelaskan, aktivitas ibadah sholat Jumat dan solat lima waktu mulai Jumat dibuka dengan pembatasan dan aturan akan disampaikan. Untuk ibadah pada hari Minggu pun sudah diperbolehkan, namun untuk ibadah rumah tangga masih belum diperbolehkan.

“Ibadah kita bolehkan, akad nikah, sakramen pernikahan sudah boleh, tapi pesta nikah tidak.boleh,” kata Bupati Sunur.

Ia meminta para camat dan Kepqla desa untuk membicarakan hal itu dengan para imam masjid dan pastor paroki serta pendeta terkait pembukaan aktivitas peribadatan di masjid dan gereja dimaksud.

Sedangkan untuk aktivitas pasar, terang Bupati Sunur, diminta untuk tetap dijaga. Pasar-pasar yang selama ini ditutup agar dilakukan pengkajian dan sudah boleh dibuka kembali.

Pemerintah, lanjutnya, juga sudah menerbitkan kartu pedagang keliling sehingga pedagang yang tidak memiliki kartu pedagang keliling agar disuruh pulang. Kartu pedagang keliling diberikan kepada  pedagang yang selama ini berdagang di Lembata dan bukan yang datang dari luar Lembata, karena yang dari luar harus menjalani masa karantina.

“Ini untuk memastikan, jadi tolong kepala desa seluruh pedagang keliling yang datang dicek. Kalau pedagang yang menetap dan tidak ke mana-mana tidak perlu pakai kartu. Wajib pegang, bagi pedagang keliling. Desa hanya boleh terima yang ada kartu pedagang keliling,” tegas Bupati Sunur. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *