Pemred Warta Keadilan Minta Proses Tuntas Penganiayaan Wartawan Warta Keadilan

Pemred Warta Keadilan Minta Proses Tuntas Penganiayaan Wartawan Warta Keadilan
Kandidus Edwaldus T Salu Kelen, Wartawan Media Online Warta Keadilan di Flores Timur, korban penganiayaan.

 

Lembatanews.com – Pemimpin Redaksi (Pemred) Media Online Warta Keadilan setelah memastikan wartawannya yang bertugas di Flores Timur atas nama Kandidus Edwaldus T Salu Kelen mengalami penganiayaan oleh Kepala Desa Lewolaga saat sedang menjalankan tugas jurnalistik, meminta agar kasus itu ditangani tuntas.

“Kasus penganiayaan ini telah dilaporkan ke Polres Flores Timur (Flotim) maka Redaksi mendesak Polres Flotim untuk mengungkap kasus ini secara tuntas sesuai paraturan perundang-undangan yang berlaku,” tegas Pemred Warta Keadilan Yohanes Berchamans Brino Tolok kepada Lembatanews.com, Sabtu (18 Januari 2020).

Ia menjelaskan, setelah mendapatkan kronologi penganiayaan serta memastikan kondisi fisik secara langsung, Redaksi Warta Keadilan menyimpulkan bahwa wartawannya di Flores Timur atas nama Kandidus Edwaldus T Salu Kelen benar-benar mengalami penganiayaan dari Kepala Desa Lewolaga Frans Nikolaus Beoang pada Jumad (17 Januari 2020) di teras kantor Desa Lewolaga, sekitar pukul 12.30.

Dikatakannya, setelah mengetahui hasil visum dari RSU dr. Hendrik Fernandez Larantuka, terdapat luka di bibir bawah dan pipi kiri kanan sehingga menjadi sulit untuk disangkal.

Selain itu, ada juga bukti rekaman kejadian tersebut yang sudah diperoleh membenarkan adanya insiden tersebut sekaligus menujnukkan motif dari dugaan penganiayaan tersebut berhubungan dengan pemberitaan dan profesi.

Untuk itu, terang Brino Tolok, Redaksi Warta Keadilan menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Mengecam tindakan yang tidak manusiawi dari Kepala Desa Lewolaga Frans Nikolaus Beoang, serta intimidasi dari oknum-oknum yang sepihak dengan Kades terhadap wartawan kami sebagai bentuk pengekangan terhadap kebebasan pers.

2. Bahwa tindakan kepala desa tersebut diduga kuat atas sebuah rencana dan dilatari dendam terhadap dua berita sebelumnya yang ditulis korban dan konfirmasi yang dilakukan korban kepada Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat kabupaten Flotim.

3. Bahwa kasus penganiayaan ini telah dilaporkan ke Polres Flores Timur (Flotim) maka Redaksi mendesak Polres Flotim untuk mengungkap kasus ini secara tuntas sesuai paraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Bahwa perbuatan Frans Nikolaus Beoang selaku Kepala Desa Lewolaga adalah perbuatan bentuk penghinaan terhadap pers sekaligus melanggar UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers maka redaksi mengharapkan agar hal ini menjadi perhatian khusus bagi penegak hukum dalam penuntasan kasus ini.

5. Bahwa pernyataan Kepala Desa di beberapa media yang seolah membenarkan tindakannya dengan alasan pembinaan antara Kepala Desa dan Warga, juga adalah sebuah bentuk pengangkangan terhadap UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Demikian rellease ini kami terbitkan sebagai sikap tegas dari redaksi atas dugaan penganiayaan Wartawan Warta Keadilan, Flores Timur.

Brino Tolok menjelaskan pula bahwa terkait berita yang sedang ditelusuri korban dan masih dalam.proses terkait keluhan masyarakat soal bantuan perumahan yang dinilai beberapa warga tidak tepat sasaran. Korban setelah mendapat informasi itu mencoba melakukan konfirmasi ke Kadis PUPR Flotim. Saat melakukan konfirmasi di sana, Kadis menelepon Kades lalu memberitahu kades soal hal tersebut.

Esoknya, jelas Brino Tolok, kades menelepon korban dan memintanya ke kantor desa lalu menanyakan soal tujuannya ke Kadis PUPR. Korban menjelaskan. namun saat sedang menjelaskan, korban diintimidasi sampai dicekik dan ditampar hingga jatuh.

“Saat memukul korban, Kades megatakan dendam karena pemberitaan sebelumnya (pertengahan Desember) lalu yang mana Kades sendiri juga sudah lakukan klarifikasi dalam berita tersebut,” tegas Brino Tolok. (tim lembatanews)

1 Komentar


  1. katanya mendidik kenapa dicekik…………katanya sekolah tinggi tetapi seperti orang tidak sekolah….yang pilih juga bodoh jadi selamanya akan tetap bodoh…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *