Pentas Teater Negri di Atas Awan Angkat Realita Masyarakat Waimuda

Pentas Teater Negri di Atas Awan Angkat Realita Masyarakat Waimuda

Lembatanews.com – Penonton terdiam. Musik perlahan mengalun mengiringi para penari cilik berbusana sarung berlenggak lenggok disorot lampu. Tak lama kemudian, munculah seorang pemuda dengan sebilah parang di tangan. Di hadapannya berbaris lima anak kecil. Dengan dua kali tebasan ia seakan merenggut nyawa anak-anak itu. Mereka lalu berarak menuju panggung dalam gerak dan tari diiringi alunan musik suling. Para penari kemudia menari menuju panggung.

Tak lama berselang, munculah puluhan anak dengan obor bernyala di tangan. Semburan lidah-lidah api memancar membuat terang taman kota di bawah temaram lampu berwarna merah. Semburan api yerus dimainkan sambil bergerak kian kemari. Hingga ketika para pemuda dengan replika rumah memasuki arena, anak-anak pemegang obor pun rebah mengelilngi arena pentas.

Pentas terus berlanjut hingga para gadis dan pemuda yang masuk dengan kehidupan masa lalu yang saling membantu hingga masuknya gadis-gadis muda memegang handphone di tangan sambil selfi.

Setiap sesi pementasan seakan tak lepas dari tepuk tangan penonton. Walau dibalut dingin, namun semangat para pemain peran tak kunjung padam. Anak laki-laki yang tak berbaju pun tampak gesit memerankan setiap lakon yang diperankan.

Pementasan teater berjudul Negri di Atas Awan yang dibawakan Komunita Teater Suara (TetaS) berkolaborasi dengan Ikatan Seminari asal Lembata (Isabata) dan OMK Stasi Waimuda berhasil menghipnotis penonton yang memadati Taman Swaolsa Titen, Kabupaten Lembata pada Minggu (7 Juli 2019).

Teater Negri di Atas Awan yang mengangkat kisah tentang mata air Duan dan kain tenun Nudal dari Waimuda juga tentang hidup dan penghidupan masyarakat dalam budaya dan pembangunan. Negri di Atas Awan juga mengisahkan derap pembangunan yang lebih didominasi dampak negatifnya ketimbang dampak positif yang kini tengah mengimpit orang Waimuda.

Negri di Atas Awan juga mengkritik perubahan budaya yang begitu kental terjadi di tengah masyarakat. Masyarakat yang dalam kesehariannya penuh dengan gotong royong dan saling membantu satu sama lain telah berubah. Generasi muda yang menjadi tulang punggung pembangunan terbuai oleh kemajuan teknologi.

Pementasan teater yang melibatkan lebih kurang 80 personel ini juga menampilkan teater monolog Darah Garuda yang mengangkat kisah matinya nasionalisme.

Rinti Djaga, Ketua komunitas Teater Suara mengatakan, pementasan itu melibatkan sebanyak 80 orang pemain baik dari anggota komunitas sendiri, Isabata, OMK Stasi Waimuda, juga pelajar TK, SD, SMP dan SMA baik di Ile Ape maupun di Lewoleba.

Diakuinya, pementasan yang digelar merupakan bagian dari riset kecilnya terkait apa yang dibutuhkan masyarakat. Dari situ, ia menyimpulkan bahwa yang mendesak adalah pembangunan gereja Stasi Waimuda yang tak kunjung selesai. Karena itu, pementasan merupakan sumbangsih untuk pembangunan gereja Waimuda.

Dari pementasan itu ia berharap bisa mengubah orientasi generasi muda untuk membantu masyarakat. Namun, sebelum menginspirasi orang lain, setidaknya anggota konunitas bisa belajar. Juga ia berharap ada minat anak muda untuk bergabung dan mampu menanggapi realita sosial yang ada dan terjadi di tengah masyarakat.

“Setelah ini masih punya banyak event dan kalau tidak ada perubahan kami juga akan pentas di Festival Tiga Gunung.
Selaun itu, proyek besar kami adalah menggelar pentas teater pada 21 Desember untuk mengenang berdirinya komunitas TetaS yang dideklarasikan pada 21 Desember tahun lalu,” tutup Rinto. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *