Penutupan Expo Budaya Uyelewun Raya 2019 Berlangsung Meriah

Penutupan Expo Budaya Uyelewun Raya 2019 Berlangsung Meriah

Lembatanews.com – Penutupan Expo Budaya Uyelewun Raya 2019 di lapangan bola Aliuroba, Desa Benihading 1, Kecamatan Buyasuri pada Sabtu (19 Oktober 2019) berlangsung meriah. Walau sempat diwarnai insiden angin kencang yang menerbangkan tenda stand pameran kuliner dan kerajinan khas Kedang, namun, antusias masyarakat Kedang tak pernah surut. Ribuan orang memadati arena Expo Budaya Uyelewun Raya 2019 berpartisipasi dan menyaksikan setiap acara yang ditampilkan.

Pantauan Lembatanews.com, penutupan Expo Budaya Uyelewun Raya 2019 dihadiri begitu banyak warga Kedang dari dua Kecamatan Omesuri dan Buyasuri. Warga yang datang tidak saja untuk menonton seremonial penutupan, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam sejumlah acara yang merupakan satu kesatuan dalam rangkaian acara penutupan pemuncak Expo Sabtu kemarin diawali dengan penyambutan Bupati Eliaser Yentji Sunur didampingi istri, Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Hasrul Edyard, anggota DPRD NTT Yohanes de Rosari, Penjabat Sekda Anthanasius Aur Amuntoda, dan segenap pimpinan OPD lingkup Pemkab Lembata.

Seremonial penjemputan diawali dengan sapaan adat oleh molan (dukun) dan suguhan tuak, sirih pinang, tembakau koli, dan pengalungan selendang kepada para tamu utama.

Usai acara penyambutan, rombongan langsung diarak.memasuki arena panggung utama Expo dan setelah rombongan bupati menempati tenda utama, dilanjutkan dengan arak-arakan hantaran yang dikemas dalam acara ‘antar are’ atau menghantar anak perempuan memasuki rumah laki-laki. Dalam tradisi Kedang, hantaran seperti ini para perempuan menjunjung buku dese telu (wadah terbuat dari anyaman daun lontar berpenutup) di kepala, peti berisi kain sarung dan kebaya perempuan, serta kebutuhan lainnya, hingga tuak dan kambing.

Sekitar 200 perempuan membawa buku dese telu berarak dalam barisan satu shaf ke belakang memasuki arena expo dan berdiri mengelilingi arena di hadapan tamu di tenda utama. Setelah seluruh pembawa buku dese mengelilingi panggung kehormatan, langsung dilanjutkan pementasan teatrikal Dorong Dopeq, karya kareografer Yance Sunur, Bupati Lembata. Teater Dorong Dopeq mengisahkan perjalanan dan keturunan orang Kedang yang turun dari Gunung Uyelewun. Pementasan teater ini diiringi musik tradisional Kedang yakni Tatong dan gong gendang.

Setelah pementasan teater Dorong Dopeq, dilanjutkan dengan seremonial loeng tuan, oleh Molan dan dilanjutkan dengan tarian Kapung Ili (peluk gunung). Bupati Sunur dan rombongan berkonvoi kendaraan mengelilingi Gunung Uyelewun menyapa para penari yang berlengangan tangan sambil menari mengitari Gunung Uyelewun.

Kapung Ili menurut Bupati Sunur merupakan ungkapan syukur dan terima kasih atas keberadaan turunan Uyelewun yang saat ini mendiami.lereng Gunung Uyelewun.

“Soka hamang Kapung Ili karena syukur dan hormat kepada Uyelewun. Kalau sudah beri hormat saya minta jangan berdiri sendiri-sendiri lagi. Alasan politik apapun kita tetap Uyelewun raya,” tegas Bupati Sunur.

Warga peserta tarian Kapung Ili begitu antusias menyambut Bupati dan rombongan. Bahkan beberapa tempat para penari berupaya menahan rombongan dengan menari di depan mobil sambil berupaya mengajak bupati turun dan ikut menari. Hanya saja, baru di Walangsawa dan Panama saja Bupati Sunur turun dan berjalan kaki. Bahkan di Desa Panama, warga memaksa Bupati Sunur berjalan kaki sekitar satu kilometer menuju lokasi Expo Budaya Uyelewun Raya 2019.

Setibanya di arena expo dilanjutkan dengan seremonial.penutupan.

Hasrul Edyar,  Direktur Penanganan Daerah Pasca Konflik dalam sambutannya memuji contoh kesetiaan yang ditunjukkan  masyarakat Lembata. Dikatakannya, contoh teladan telah ditunjukkan masyarakat Lembata. Walau jauh dari Jakarta tapi sikap dan perilakunya harus mengedepankan persatuan  dan kesatuan nasional.

“Saya belum pernah melihat satu kesetiaan masyakat menunggu acara empat jam seperti di Lembata ini. Ini jadi salah satu pendukung daya tarik wisata desa, pendukung kemajuan Lembata untuk mudah dikunjungi,” tegas Hasrul.

Ia berpesan agar kearifan lokal yang ada tetap dijaga.

“Luar biasa saya tidak pandai ungkapkan dengan kata-kata tapi Lembata luar biasa, Lembata luar biasa,” katanya disambut tepuk tangan hadirin.

Bupati Eliaser Yentji Sunur dalam sambutannya saat menutup expo mengatakan, arkeolog nasional sudah melakukan penelitian dan menemukan situs peradaban Kedang di Desa Hingalamamengi menggambarkan orang Uyelewun Raya sudah mendiami tanah Kedang lebih dari 3.000 tahun.

“Kita menunggu hasil pemaparan laporan arkeolog sudah bisa membuka tabir sebenarnya, kita sebenarnya datang dari atas, dari puncak Uyelewun dan sudah buktikan dengan membangun kekuatan budaya yang mencerminkan peradaban masyarakat  kita. Kalau budaya kita tidak kita jaga maka peradabannya juga pelan-pelan terkikis,” tegas Bupati Sunur.

Dikatakannya, expo sudah digelar  dua kali dan terus eksplorasi budaya. Menampilkan adat dan budaya masing-masing tanpa harus didiskusikan. Sebab, jika didiskusikan  akan jadi persoalan. “Karena itu pemerintah laksanakan expo budaya. Silakan pamerkan seluruh potensi budaya di Uyelewun ini. Saling melengkapi dengan satu tutur kata,” katanya.

Rangkaian acara penutupan juga diisi dengan penampilan aneka busana tradisional dalam fashion show carnival etnic yang dibawakan Sanggar Nubagere asuhan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata.  (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *