Penyebab Erupsi Gunung Berapi, Mulai dari Kenaikan Suhu Kawah Hingga Tekanan Tinggi

Penyebab Erupsi Gunung Berapi, Mulai dari Kenaikan Suhu Kawah Hingga Tekanan Tinggi
Gunung Api Ile Lewotolok saat erupsi pada Minggu, 29 November 2020.

 

Lembatanews.com – Gunung berapi atau biasa juga disebut gunung api adalah sistem saluran fluida panas yang biasanya berbentuk batuan cair yang kita kenal dengan magma.

Gunung berapi terbentuk karena adanya pertemuan antara dua lempeng Bumi.

Bagian lempeng Bumi yang tenggelam akan masuk ke dalam lapisan astenosfer. Lempengan ini akan mencair karena suhu bawah lempeng Bumi yang sangat panas.

Erupsi gunung berapi adalah peristiwa yang terjadi saat adanya pergerakan magma dari dalam perut bumi yang berusaha keluar ke permukaan bumi.

Saat erupsi terjadi, biasanya juga menimbulkan getaran-getaran di permukaan Bumi yang biasa kita kenal dengan gempa bumi.

Erupsi gunung berapi terbagi menjadi dua jenis, yaitu erupsi eksplosif dan erupsi efusif.

Erupsi eksplosif adalah erupsi gunung berapi yang berupa ledakan atau letusan yang cukup keras karena tekanan yang sangat kuat. Selain itu erupsi jenis ini juga mengeluarkan magma serta material lainnya dari dalam perut Bumi.

Erupsi efusif adalah erupsi gunung berapi yang terjadi akibat adanya tekanan gas yang tidak begitu kuat sehingga magma kental dan lava pijar tumpah dan kemudian mengalir ke lereng puncak gunung.

Baca Juga: Lava Gunung Berapi Sangat Panas, Mengapa Bagian Gunung yang Dilewati Lava Tidak Meleleh?

Penyebab Erupsi Gunung Berapi

Dilansir dari ilmugeografi.com, inilah lima penyebab terjadinya erupsi gunung berapi:

1. Peningkatan Gempa Vulkanik
Erupsi gunung berapi bisa terjadi karena frekuensi gempa bumi meningkat yang mana dalam sehari bisa terjadi puluhan kali gempa tremor (getaran) yang tercatat di alat Seismograf.

Selain itu biasanya juga terjadi peningkatan aktivitas Seismik dan kejadian vulkanis lainnya hal ini disebabkan oleh pergerakan magma yang berlangsung di dalam perut bumi.

2. Suhu Kawah Meningkat Drastis
Salah satu tanda magma telah naik dan mencapai lapisan kawah paling bawah adakah kenaikan suhu kawah yang cukup drastis.

Pada gunung dengan status normal, volume magma tidak terlalu banyak terkumpul di daerah kawah sehingga menyebabkan suhu di sekitar normal.

Naiknya magma bisa disebabkan karena adanya pergerakan tektonik pada lapisan bumi dibawah gunung seperti gerakan lempeng.

Hal itu bisa meningkatkan tekanan pada dapur magma dan pada akhirnya membuat magma terdorong ke atas hingga berada tepat dibawah kawah.

3. Terjadinya Deformasi Badan Gunung
Deformasi adalah perubahan bentuk atau ukuran suatu objek yang bisa disebabkan oleh dua hal, yaitu gaya (gaya tarik, tekan, geser, dll) dan perubahan suhu

Hal ini biasanya disebabkan oleh peningkatan gelombang magnet dan listrik sehingga menyebabkan perubahan struktur lapisan batuan gunung.

Ini juga bisa mempengaruhi bagian dalam seperti, mengecilnya volume dapur magma atau bisa juga saluran yang menghubungkan kawah dengan dapur magma menjadi tersumbat akibat deformasi batuan penyusun gunung.

4. Lempeng-lempeng Bumi yang Saling Berdesakan
Hal ini menyebabkan tekanan besar menekan dan mendorong permukaan bumi sehingga menimbulkan berbagai gejala tektonik, vulkanik dan meningkatkan aktivitas geologi gunung.

5. Tekanan yang Sangat Tinggi
Proses cairan magma yang bergerak ke atas masuk ke saluran kawah dan keluar bisa saja masuk ke saluran kawah yang tersumbat.

Hal ini bisa menimbulkan ledakan yang dikenal dengan letusan gunung berapi. Semakin besar tekanan dan volume magma maka semakin kuat ledakan yang akan terjadi. (dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *