Plt Bupati Thomas Ola: Siapa yang Melawan Regulasi Dia akan Dihukum oleh Regulasi

Plt Bupati Thomas Ola: Siapa yang Melawan Regulasi Dia akan Dihukum oleh Regulasi
Plt Bupati Thomas Ola Langodai  didampingi Sekda Lembata Paskalis Ola Tapobali dan Asisten II Sekda Kedang Paulus, memimpin rapat pamong praja terbatas di rumah jabatan bupati lama, Selasa, 3 Agustus 2021.

 

Lembatanews.com – Pelaksana tugas (Plt) Bupati Lembata Thomas Ola Langodai meminta semua elemen di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata untuk bekerja bahagia, dan tetap dalam koridor hukum dan regulasi.

“Sekali lagi, saya tekankan, siapa yang melawan regulasi, dia akan di hukum oleh regulasi. Tapi siapa yang menjunjung tinggi regulasi, ia akan dilindungi oleh regulasi. Jadi kalau ada sesuatu dan lain hal, jangan bilang bupati yang hukum, sekda yang hukum, asisten yang hukum. Tidak, regulasi yang berbicara di situ,” tegas Plt Bupati Lembata Thomas Ola Langodai saat memimpin rapat terbatas Pamong Praja terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan di lereng Gunung Ile Lewotolok di rumah jabatan Bupati Lembata kompleks eks kantor bupati, Selasa, 3 Agustus 2021.

Ia didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Lembata Paskalis Ola Tapobali, Asisten II Sekda Kedang Paulus Plt Kepala Dinas PMD Pace Punang, dan dihadiri Camat Ile Ape Simon Emi Langodai, Camat Ile Ape Timur Nikolaus Ola Watun, serta para kepala desa dari dua kecamatan.

Pada kesempatan itu, Thomas Ola juga mengajak para kepala OPD, camat dan kepala desa untuk mengabdi kepada sistem bukan mengabdi kepada orang. Karena jika mengabdi pada orang, akan ada masanya selesai.

“Jangan mengabdi kepada saya. Saya ada waktunya untuk selesai. Mengabdilah kepada sistem. Karena itu tugas saya, sekda dan para asisten ini sedang membangun sebuah sistem supaya ke depan semua membangun di dalam sistem,” tegas Thomas Ola.

Ia menegaskan bahwa setiap orang ada masa kepemimpinannya, setiap orang ada waktunya, setiap waktu ada orangnya. Jabatan tak dipegang selamanya, karena itu ia mengimbau untuk tidak sombong dengan jabatan karena suatu saat akan berakhir dan digantikan oleh orang lain.

Pada kesempatan yang sama ia juga mengatakan, mengurus erupsi dan kebakaran di puncak dan lereng Ile Lewotolok, tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu orang karena tidak ada satu orang yang bisa menyelesaikan semua masalah.

Bupati sendiri, lanjutnya, tidak bisa mampu menyelesaikan semua soal. Karena itu membutuhkan sekda, dan para asisten menjadi tim kerja yang baik. Tim kerja yang saling mensupport dan saling percaya karena ketika hilang kepercayaan maka selesai.

“Saya minta teman-teman di OPD, teman-teman di kecamatan dan desa bangun rasa saling percaya, tanggung jawab penuh terhadap pekerjaan di sana. Tidak ada kepala desa yang super hebat . One Man Show untuk bisa menyelesaikan semua soal yang ada di desa. Jangan takut dengan bupati, sekda, kadis. Hentikan semua tindakan yang mengintimidasi masyarakat dan mengintimidasi staf di kantor, karena ini semua anak Lewotana,” tegasnya.

Thomas Ola juga harapkan semangat Statement 7 Maret menjadi bagian dari kehidupan warga Lembata. Karenanya, semua hadir untuk “taan to’u” (satu hati) dan bukan terpecah belah. Statment 7 Maret 1954 harus terus digaungkan.

“Jangan ada perbedaan lagi. Demong dan Paji sudah selesai. Terakhir ini muncul Uyelewun Raya, Titen, kemudian ada lagi Tite Ata Ile Ape,” katanya.

Jika seperti itu, lanjutnya, maka akan terus terkotak-kotak. Jika demikian, maka tidak akan pernah bisa membangun Lembata dengan baik dan telah menghianati Statement 7 Maret.

Sebelum memulai rapat, terlebih dahulu digelar seremonial di tugu batu di bawah pohon beringin yang terletak di bagian sisi timur halaman eks rumah jabatan bupati.

Terkait seremonial itu, Thomas Ola menjelaskan bahwa untuk memasuki rumah besar harus ‘amet prat untuk meminta izin.

“Karena itu tadi kita ‘amet prat‘. Pak sekda sudah minta maaf dan saya juga sudah minta maaf. Adat dan tradisi mengajarkan kita kalau masuk rumah besar harus ‘amet prat‘. Saya tahu ada yang tidak suka tapi tidak jadi soal karena ini bukan soal suka atau tidak suka tapi ini soal keyakinan,” katanya.

Ia beralasan, ada tangan yang tidak kelihatan yang sedang menuntun meskipun tidak disadari. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *