Relokasi Warga Pengungsi Harus atas Kemauan Sendiri

Relokasi Warga Pengungsi Harus atas Kemauan Sendiri
Aktivitas pembangunan rumah instan sehat layak huni (Risha) di Kawasan Waesesa, Kecamatan Ile Ape.

 

Lembatanews.com – Rencana relokasi warga dari 15 desa yang terdampak banjir bandang di Ile Ape dan Ile Ape Timur harus dilakukan atas kemauan dan kesadaran sendiri dari warga. Relokasi yang dilakukan tidak saja orangnya. Karena itu, perlu kecermatan dan kerja sama seluruh sektor agar masyarakat pindah atas kemauan baiknya sendiri.

Hal itu ditegaskan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur saat berbicara di hadapan warga usai melantik empat penjabat kepala desa se-Kecamatan Ile Ape Timur di Desa Todanara, Rabu, 9 Juni 2021.

Untuk tahap pertama ini, Pemerintah Pusat membangun sebanyak 700 rumah. Dalam rencana awal, 700 rumah itu tidak saja untuk warga korban dari Ile Ape dan Ile Ape Timur, tetapi juga untuk warga dari enam kecamatan yang rumahnya hilang, dan rusak berat.

Hanya saja, ia sudah berbicara dengan Kementerian PU agar untuk tahap awal ini dikhususkan terlebih dahulu untuk warga korban dari Ile Ape dan Ile Ape Timur. Sedangkan untuk warga dari kecamatan lain akan dibantu oleh BNPB.

“Rumah yang masih dibangun di area yang sudah dilarang tidak boleh bangun lagi maka harus direlokasi, sedangkan rumah rusak parah dan rumah hilang langsung direlokasi,” tegas Bupati Sunur dan menambahkan bahwa ada 15 desa yang direlokasi dan yang diprioritaskan adalah Waimatan dan Lamawolo.

Terdapat sebanyak 2.800 rumah lebih yang harus direlokasi. Sementara untuk Desa Lamawolo akan diupayakan apakah bisa semua di satu lokasi, dan administrasi desanya diatur seperti apa, termasuk dana desanya apakah bisa dipakai untuk kegiatan di lokasi baru atau tidak mengingat sudah tak bisa lagi membangun di lokasi lama, lagipula di lokasi baru sudah dibangun oleh pemerintah.

“Nanti di lokasi relokasi sudah tidak bisa masak pakai kayu. Dapurnya didesain bukan untuk kayu bakar tapi kompor gas, paling kurang bisa pakai kompor minyak dan pelan-pelan baru ke kompor gas. Ke depan mau agar ditata menjadi kota di dalam desa. Pola hidup masyarakat mulai berubah,” kata Bupati Sunur.

Camat Ile Ape Timur Nikolaus Watun menyampaikan terima kasih kepada Bupati dan jajaran Pemerintah Lembata yang telah memberikan perhatian selama warga Ile Ape tertimpa bencana.

“Bencana yang menelan korban 28 jiwa, semua berharap kepada siapa lagi dan selama ini gantungkan segalanya kepada Bupati dan perhatian sudah dirasakan. Serahkan kepada Tuhan dan leluhur, agar merestui dan membimbing bupati dalam memimpin Lembata,” kata Watun.

Pasca bencana, katanya, sembilan desa di Ile Ape Timur mengungsi. Saat ini, masih ada warga dari dua desa yang belum bisa pulang karena kondisi desanya parah yakni Lamawolo dan Waimatan. Warga yang masih mengungsi terdapat di posko pemerintah dan di rumah keluarga di Lewoleba. Sedangkan warga tujuh desa lainnya sudah berada di desa masing-masing sambil menunggu relokasi untuk ditempatkan dalam jangka panjang. (lia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *