Rentang Kendali Jauh, Pemprov Diminta Kembalikan Urusan Kelautan ke Kabupaten

Rentang Kendali Jauh, Pemprov Diminta Kembalikan Urusan Kelautan ke Kabupaten

Lembatanewa.com – Peristiwa ilegal fishing dan pemboman ikan di perairan selatan Pulau Lembata tepatnya di wilayah perairan Banitobo dan Waiteba yang marak terjadi dalam sebulan terakhir mendapat perhatian seriuss kalangan DPRD Lembata.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Lembata Petrus Bala Wukak menyikapi serius persoalan itu karena sudah sangat meresahkan warga dan dapat merusak biota dan ekosistem laut.

Menurut dia, peristiwa ilegal fishing dan pengeboman ikan yang merusak biota laut hampir setiap hari terjadi di sepanjang pantai selatan Lembata yang kaya ikan karena rentang kendali yang terlalu jauh antara Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT sebagai akibat pengalihan kewenangan urusan kelautan ke tangan Pemprov.

Apalagi, pengambilalihan itu tak ditunjang kesiapan personel yang memadai untuk melakukan kontrol terhadap perairan laut NTT yang demikian luas ini.

Dikataknnya,  UPT Dinas Kelautan dan Perikanan di Flores Timur yang membawahi tiga kabupaten yakni Flotim, Lembata, dan Alor hanya dibackup oleh tiga personel. Dngan jumlah personel yang begitu terbatas, ia yakin mereka jelasjtaj bisa mengawasi seluruh perairan yang begitu luas.

“Seharusnya, jika kewenangan itu sudah di provinsi, selayaknya diikuti jumlah personel yang memadai untuk melakukan patroli rutin mengawal laut agar tak terjadi ilegal fishing seperti ini,” katanya.

Rentang kendali yang jauh ditambah provinsi yang tak memiliki wilayah laut, maka ia menyarankan agar kewenangan kelautan sebaiknya dikembalikan ke kabupaten. Agar, kabupaten sebagai pemilik laut memiliki kewenangan bertindak baik untuk mencegah maupun tindakan represif terhadap aksi-aksi pencurian ikan apalagi menggunakan bom seperti itu.

Jika tidak, maka kabupaten dengan kewenangan yang terbatas tak bisa bertindak melebihi kewenangannya dan berakibat pada kian maraknya aksi ilegal fishing di perairan laut yang berdampak pada kerusakan ekosistem dan biota laut. (tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *