Respons Cepat Skandal Kamar WC, KPU Serahkan Hasil Pleno ke DPRD Lembata

Respons Cepat Skandal Kamar WC, KPU Serahkan Hasil Pleno ke DPRD Lembata
Komisioner KPU Lembata berfoto bersama pimpinan DPRD Lembata usai menyerahkan berkas hasil pleno penetapan perolehan suara pemilu legislatif 2019 di ruang kerja Ketua DPRD Lembata, Selasa, 28 Desember 2021.

 

Lembatanews.com – Kasus perzinahan oknum anggota DPRD Lembata bersama perempuan bersuami di dalam kamar WC ternyata direspons cepat pihak-pihak terkait.

Setelah DPP PDIP merespons cepat mengeluarkan SK pemecatan terhadap Marianus Gabriel Pole Raring pada 13 Desember 2021, dan SK pemecatan diterima DPC PDIP pada 23 Desember 2021, di hari itu juga langsung ditindaklanjuti DPC PDIP Lembata dengan mengajukan permohonan pergantian antar waktu ke pimpinan DPRD.

Selanjutnya, pada 24 Desember 2021, langsung direspons cepat pimpinan DPRD Lembata dengan menyurati KPU Lembata perihal permohonan nama calon anggota DPRD pergantian antar waktu.

Oleh KPU, membutuhkan waktu empat hari untuk merespons surat pimpinan DPRD Lembata dan pada Selasa, 28 Desember 2021, Komisioner KPU Lembata dipimpin langsung Ketua KPU Kabupaten Lembata Elias Kaluli Making menyerahkan hasil pleno penetapan perolehan suara hasil pemilu legislatif 2019 lalu kepada pimpinan DPRD Lembata.

Ini merupakan alur proses pergantian antar waktu (PAW) anggota Dewan terhormat Gabriel Raring yang terlibat skandal seks dengan perempuan bersuami di dalam kamar WC pada Kamis, 24 November 2021 malam lalu yang berujung ia sempat dihajar babak belur oleh suami korban.

“Jadi tanggal 24 Desember 2021, kami dapat surat dari Ketua DPRD Lembata, perihal permohonan nama calon anggota DPRD pergantian antar waktu. Dan sesuai PKPU Nomor 6 Tahun 2019 tentang Mekanisme Pergantian Antar Waktu, KPU diberikan watu lima hari sejak menerima surat permintaan dari DPRD, melakukan verifikasi termasuk klarifikasi terhadap calon anggota DPRD PAW termasuk anggota DPRD yang akan di PAW,” terang Elias Kaluli Making, Ketua KPU Kabupaten Lembata kepada wartawan di gedung Peten Ina, DPRD Lembata, Selasa 28 Desember 2021 usai menyerahkan dokumen kepada pimpinan DPRD Lembata.

Menurut Elias Kaluli Making, tanggal 27 Desember 2021, KPU telah menggelar rapat pleno penetapan hasil verifikasi dokumen pendukung usulan PAW. Sehingga, setelah ditetapkan dalam rapat pleno, diserahkan ke pimpinan DPRD untuk selanjutnya diproses oleh DPRD, sesuai UU MD3.

Di dalam Berkas yang diajukan oleh KPU Kabupaten Lembata, Sebastianus Muri, memperoleh suara terbanyak kedua dalam pemilu legislatif 2019 lalu dan ia berhak menggantikan antar waktu Marianus Gabriel Pole Raring yang dipecat DPP PDIP karena tersandung kasus asusila.

Berkas Pleno penetapan hasil verifikasi dokumen pendukung usulan PAW terhadap Marianus Gabriel Pole Raring diserahkan Ketua KPU Kabupaten Lembata, Elias Kaluli Making kepada Ketua DPRD Petrus Gero di ruang kerjanya.

Selanjutnya, lembaga DPRD mengajukan proses PAW tersebut kepada Gubernur NTT melalui Bupati Lembata.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Lembata Petrus Gero menjelaskan, berdasarkan surat yang diperoleh dari PDIP terkait dengan proses PAW atas nama anggota terhormat Gabriel Pole Raring, maka tanggal 24 Desember pagi pihaknya menggelar rapat pimpinan.

Dewan, lanjutnya, meminta kepada KPU untuk menyerahkan berkas dan syarat yang perlu dipersiapkan untuk nantinya dilampirkan dalam usulan pergantian antar waktu ke Gubernur NTT melalui Bupati Lembata.

Ia mengatakan, berkas yang telah diterima dari KPU itu akan segera dikirim dalam beberapa hari ke depan.

Sebelumnya Ketua DPC PDIP Kabupaten Lembata Gewura Fransiskus saat menggelar jumpa pers mengumumkan pemecatan terhadap Marianus Gabriel Pole Raring pada Senin, 27 Desember 2021 di kediamannya, mengatakan, proses pemecatan yang dilakukan bukan dilatari kebencian atau suka dan tidak suka secara pribadi. Tetapi, semata karena berjalan berdasarkan ketentuan partai dan demi menjaga marwah partai.

Gewura Fransiskus didampingi Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Lembata Yeremias Huraq, Bendahara Rafael Miku Bediona, Wakil Ketua Bidang Idioogi, Kaderisasi, Keangotaan Dan Organisasi Rafael Ratu, dan Wakil Sekretaris Internal Yohanes Berchamans Brino Tolok juga menyampaikan permohonan maaf kepada Gabriel Raring dan seluruh keluarga atas pemecatan tersebut.

Ia juga menyampaikan terima.kasih kepada Gabriel Raring atas kinerjanya selama bersama PDIP.

Selain itu, Gewura Fransiskus juga menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan suaminya beserta keluarga besar, masyarakat dan simpatisan PDIP atas peristiwa yang telah mencoreng nama partai itu.

“Mari semua simpatisan PDI Perjuangan Lembata tetap bersatu dan bersinergi dalam semangat Perjuangan untuk membangun daerah ini, jangan jadikan masalah ini untuk menghambat kerja-kerja perjuangan Politik. Mari tetap melangkah dalam kepastian memenangkan PDIP,” tegas Gewura Fransiskus.

Dengan pemecatan itu, katanya, yang bersangkutan selama belum ada keputusan pemberhentiannya dari keanggotaannya di lembaga DPRD, dia tidak boleh berbicara untuk dan atas nama partai.

Flashback Skandal Kamar WC
Aksi tak terpuji dilakukan oknum anggota DPRD Lembata dari Fraksi PDIP Marianus Gabriel Pole Raring. Gabriel Raring memaksa seorang perempuan bersuami melakukan hubungan intim layaknya suami istri di dalam kamar mandi di kediaman korban pada Rabu, 24 November 2021 malam sekitar pukul 12.00.

Saat kejadian tak senonoh itu terjadi, suami korban sedang berada di dalam rumah. Korban yang mengaku kepada suaminya sedang sakit perut lalu keluar menuju kamar WC yang berjarak kira-kira 2 meter dari rumah.

Setelah korban keluar dari kamar WC, suami korban langsung menerjang masuk ke kamar WC dan menghajar Gabriel Raring. Pelaku kemudian melarikan diri dan bersembunyi.

Suami korban yang kesal, mencoba mencari pelaku ke rumah orangtuanya. Karena tak menemui Gabriel Raring di sana, ia hanya berteriak mencaci maki anggota Dewan terhormat itu di rumah orangtuanya.

Suami korban kemudian ke rumah kediaman Gabriel Raring. Di sana ia pun lagi-lagi tak menjumpai pelaku. Ia menumpahkan kekesalannya pada mobil yang diparkir di halaman rumah. Ia memukul kaca spion sebelah kanan hingga hancur. Ia juga sempat mencaci maki pelaku hingga istrinya terbangun.

Setelah menumpahkan kekesalannya, suami korban kemudian kembali ke rumah.

Di rumah, ia mencoba menanyai istrinya apa saja yang dilakukan bersama Gabriel Raring di dalam kamar WC. Karena kesal, ia lalu memukul istrinya. Ia baru berhenti setelah anak perempuannya dan anak bungsunya memeluk sambil menangis.

Suami korban kepada wartawan yang minta namanya dan nama istrinya tak diungkap ke media menceritakan kronologi malam itu hingga ia mendapati istrinya bersama Gabriel Raring di dalam kamar WC.
Dikisahkannya, sekitar pukul 12.00, ia pulang dari melayat orang meninggal. Saat melewati Rayuan Kelapa, ia sempat diajak minum oleh kawan-kawan dan sempat duduk di sana. Saat itu, istrinya menelepon mengatakan hatinya kurang tenang, mungkin karena mamanya sedang sakit dan minta suaminya ke rumah mamanya. Namun sesampainya di rumah, ia melihat mamanya sedang menonton TV dan tidak apa-apa. Setelah memanggil beberapa kali dan tidak ada jawaban, ia akhirnya kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, ia melihat lampu di dalam rumah masih menyala. Ia lalu dibukakan pintu oleh anaknya.

Setelah masuk rumah, ia duduk bersama istrinya. Istrinya mengeluh sakit perut. “Saya tanya perut sakit kenapa maka. Istri bilang tadi makan telur, nona masak pake lombok banyak jadi buat perut sakit,” katanya.

Setelah itu, istrinya pamit ke kamar mandi untuk buang air besar karena perutnya terus terasa sakit. Saat istrinya ke kamar mandi, ia juga mengantuk dan hendak tidur.

Akan tetapi, setelah beberapa saat istrinya tak kunjung kembali, ia pun mulai berfirasat kurang enak. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan memanggil istrinya. Saat itu istrinya mengaku perutnya masih sakit.

Ia juga sengaja mengaku perut sakit dan minta istrinya cepat keluar. Namun, istrinya masih beralasan perutnya masih sakit, bahkan memintanya menggunakan WC tetangga yang jaraknya tak jauh dari rumah.

Namun, ketika terlalu lama, ia pun mulai curiga. Apalagi, posisi kaki istrinya tidak seperti biasa seperti orang sedang BAB. Karena WC yang digunakan jongkok, namun posisi kaki istrinya seperti orang lagi berdiri.

“Pintu kamar mandi kan pakai seng, dan bagian bawahnya agak bokong, sehingga bisa lihat kaki dari luar,” katanya.

Ia juga sempat mendengar suara seperti percakapan di dalam kamar WC. Sehingga ia semakin curiga. Apalagi, ia juga melihat ada kaki lain di dalam kamar WC selain kaki istrinya.

Hampir kurang lebih 30 menit, baru istrinya keluar, dan saat keluar ia sempat mengatakan kepada lelaki di dalam WC. “Nanti baru kau tanggung jawab langsung dengan suami saya,” kata suaminya menirukan istrinya.

Saat istrinya keluar, ia langsung mendobrak masuk ke dalam kamar WC dan mendapati Gabriel Raring di dalam dan langsung menghajarnya. Ia sempat membanting tubuh Gabriel Raring ke dinding kamar WC. Saat ia menunduk hendak mengambil besi yang menutupi selang air, digunakan Gabriel Raring untuk melarikan diri.

Sepeninggal Gabriel Raring, ia langsung mengambil parang (Kelewang) dan mengejarnya. Sayangnya ia tak menjumpai Gabriel Raring.

Karena emosi, ia lalu mengejar langsung ke rumah orangtua Gabriel Raring dan berteriak mencaci maki Gabriel di rumah orangtuanya.

Tak puas, ia lalu menuju ke rumah Gabriel Raring dan mencaci makinya di sana. Ia juga berteriak memanggil istri Gabriel dan menyampaikan kejengkelannya. Ia juga sempat memukul kaca spion mobil Gabriel yang diparkir di halaman rumah.

Ia sempat mau langsung melaporkan peristiwa itu ke polisi, namun karena memikirkan banyak hal akhirnya tak dilakukan.

Ia juga mengaku karena masih terbawa emosi, ia belum sempat tidur sejak semalam pasca kejadian itu.

Gabriel Raring yang didatangi di kantor DPRD Lembata tidak berada di sana. Saat didatangi dirumahnya, ia pun tidak ada.

Wartawan hanya menjumpai istri Gabriel Raring yang mengatakan suaminya Gabriel Raring sedang ke kampung.

Ia juga mengaku pada malam itu sekitar pukul 02.00, didatangi suami korban. Ia berteriak dalam kemarahan sambil memegang parang. Itu membuatnya ketakutan dan shock.

Setelah melihat tetangga berdatangan, baru ia pulang.

Sementara itu, Gabriel Raring yang dihubungi lewat pesan WA belum bersedia memberikan penjelasan dengan alasan ia masih butuh waktu untuk menenangkan diri, menyesali diri, dan menyiapkan diri untuk menghadapi permasalahan ini.

“Maaf bapak, saya butuh waktu tuk tenangkan diri, menyesali diri, menyiapkan diri tuk hadapi masalah ini. Makasi banyak sudah mau berkomunikasi bapak,” tulis Gabriel Raring melalui pesan WA.

Kasus yang menjadi viral di media sosial ini juga sempat dilaporkan suami korban ke Polres Lembata, namun berujung damai. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *