Ritual Sare Dame, Ibarat Ungkapan “Luka So Kering Engko Kube Darah Legi”

Ritual Sare Dame, Ibarat Ungkapan "Luka So Kering Engko Kube Darah Legi"
Petrus Bala Wukak, anggota DPRD Lembata

 

Lembatanews.com – Ritual Sare Dame, ramai digaungkan Bupati Lembata Thomas Ola Langodai akhir-akhir ini. Sare Dame menurut Thomas Ola adalah ritual mendamaikan manusia dengan Tuhan, manusia dengan leluhur, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Ritual Sare Dame yang rencananya dilaksanakan pada 7 Maret 2022 bertepatan dengan peringatan Statement 7 Maret 1954 saat adanya kesepakatan mengakhiri konflik Paji dan Demong.

Menggaungkan Sare Dame sebagai perdamaian manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, manusia dengan leluhur, dan manusia dengan alam ditentang keras kalangan DPRD Lembata. Mereka mengkhawatirkan, ritual Sare Dame justru akan membangkitkan kembali memori kolektif masyarakat Lembata akan politik adu domba pemerintah kolonial yang mengadu Paji dan Demong ibarat “luka so kering engko kube darah legi” (luka sudah kering engkau cubit berdarah lagi)

Anggota DPRD Lembata Petrus Bala Wukak menolak tegas pemilihan frasa ‘Sare Dame’ yang tidak kontekstual.

Menurut Petrus Bala Wukak, diksi Sare Dame seolah-olah ada konflik selama ini. Ia justru khawatir jika ritual Sare Dame justru akan menciptakan konflik baru di tengah masyarakat.

Rencananya, kata Bala Wukak, Sare Dame akan digelar pada saat peringatan 7 Maret 1954. Justru, menurutnya, peristiwa 7 Maret 1954 itu digelar oleh para sesepuh di Lembata untuk mengakhiri konflik Paji Demong yang diciptakan pemerintah kolonial dalam rangka politik pecah belah (devide et impera). Masyarakat sadar ada politik adu domba oleh pemerintah kolonial, maka diselenggarakan pertemuan yang kini dikenang sebagai Statement 7 Maret. Artinya, puncak perdamaian akibat konflik warisan kolonial itu sudah berakhir pada 7 Maret 1954. Ritual Sare Dame, katanya, bisa mengembalikan memori kolektif masyarakat Lembata akan politik adu domba pemerintah kolonial.

“Pemda jangan ciptakan diksi baru yang menghapuskan atau mengaburkan spirit Taan Tou yang sudah diwariskan,” tegasnya.

Dia menyarankan sebaiknya pemerintah memikirkan ulang pemilihan diksi ‘Sare Dame’ yang kental nuansa konfliknya.

“Kalau pemerintah beranggapan bahwa perlu ada seremonial adat untuk memulihkan permasalahan karena perbedaan pandangan dan pilihan politik, maka sebaiknya dilakukan ritual lain, dan bukan Sare Dame. Cari bahasa yang sejuk misalnya festival Taan Tou atau apa begitu. Jangan ciptakan konflik baru,” tegas Petrus Bala Wukak.

Informasi yang berhasil dihimpun lembatanews.com menyebutkan, untuk kepentingan ritual Sare Dame ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2 miliar lebih dan dititipkan di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.  (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *