Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri, Butuh Sentuhan

Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri, Butuh Sentuhan
Fransiskus Sida, warga Desa Watodiri berdiri di depan tulang belulang ikan paus biru di Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri.

 

Lembatanews.com – Lamalera dikenal sebagai kampung perburuan ikan paus tradisional yang diwariskan secara turun temurun. Jika memasuki kampung tradisional Lamalera, akan dijumpai begitu banyak tulang belulang ikan paus yang bahkan dijadikan pagar jalan dan tempat duduk di pinggir jalan.

Untuk ke Lamalera, tentunya membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Namun, jika hanya untuk melihat langsung tulang belulang ikan paus, tak perlu harus jauh-jauh lagi ke Lamalera.

Karena, di Rumah Fosil Ikan Paus, Desa Watodiri, Kecamatan Ile Ape pun, Anda bisa melihat kerangka lengkap ikan paus biru sepanjang 23 meter dan lebar 1,5 meter di sana.

 

Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri dapat menyajikan potret lengkap hewan laut raksasa ini. Tulang tulang yang tersusun dari kepala hingga ekor masih tampak lengkap, walau terkesan kurang perhatian.

Fransiskus Sida, warga Desa Watodiri kepada lembatanews.com di Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri menjelaskan, ikan paus biru itu terdampar di Teluk Waienga, Desa Watodiri, Kecamatan Ile Ape.

Waktu itu, cerita Fransiskus Sida, terdapat lima ekor paus biru yang terdampar. Empat ekor berhasil dihalau nelayan ke perairan, sedangkan satu ekor tak dapat diselamatkan.

Paus biru dengan panjang 23 meter itu kemudian diambil dagingnya oleh warga Watodiri, dan desa-desa tetangga, termasuk warga dari Kota Lewoleba.

“Waktu terdampar ditarik dengan lampara dan diambil dagingnya oleh warga dari Ile Ape, Lebatukan sampai Lewoleba. Sampai satu Minggu baru dagingnya habis,” cerita Fransiskus Sida.

Setelah dagingnya diambil semuanya oleh warga, waktu itu tulang belulang paus biru diletakan di satu pondok.

 

Baru pada tahun 2016, Pemerintah Desa Watodiri membangun rumah fosil tersebut dan meletakan tulang ikan paus di dalamnya.

Setelah dibangun dari dana APBDes Watodiri, baru pada 18 Juli 2016, diresmikan Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan RI kala itu.

Saat meresmikan Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri itu, Menteri Susi menjanjikan memberikan bantuan untuk pengembangan perikanan termasuk melestarikan rumah fosil. Sayangnya, janji itu belum direalisasikan.

“Rencananya mau disusun kembali secara baik, namun belum ada anggaran untuk itu,” katanya sembari menambahkan, rumah fosil itu dikelola oleh Pemerintah Desa Watodiri, hanya selama ini belum terlalu diperhatikan.

Pengunjung yang berkunjung pun masih kurang, dan tanpa dipungut biaya. Selain itu, tidak ada penjaga khusus yang bisa menjelaskan keberadaan fosil ikan paus biru itu bisa berada di tempat itu.

 

Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri masih butuh sentuhan agar bisa menjadi destinasi wisata dan juga laboratorium mini bagi siswa yang mau mengenal lebih dekat ikan paus biru ini.

Sentuhan harus dilakukan lebih awal, sebelum fosil ikan paus biru itu keburu rusak karena termakan usia. Apalagi, lokasinya yang terbuka, dapat menambah daya rusak fosil paus biru itu.

Beruntung keberadaannya yang tanpa penjagaan itu dipercayai tak akan dicuri. Warga mempercayai, jika ada yang mencuri, atau memindahkannya dengan sengaja, maka akan terjadi guntur kilat. Guntur kilat baru akan berhenti kalau tulang yang diambil itu dikembalikan pada tempatnya.

Di lokasi Rumah Fosil Ikan Paus Watodiri ini juga sering digelar seremoni jika hujan tak kunjung datang. Setelah seremoni hujan akan langsung turun.

“Kalau musim tanam hujan tidak turun turun juga maka dibuat seremoni adat dan hujan langsung turun. Yang buat seremoni dimulai dari gunung sampai di sini, dibuat oleh tetua dari Jontona dan Watodiri. Seremoni habis janji empat hari (hujan) turun.. seremoni dengan kerubaki. Seremoni selama empat hari rumput belum boleh cabut. Kadang tidak sampai empat hari. Seremoni habis hujan langsung turun,” cerita Fransiskus Sida.

Anda tertarik berkunjung ke rumah fosil ini, silakan. Anda dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat. Dari Kota Lewoleba, hanya butuh waktu 20-30 menit, Anda sudah bisa menjangkau rumah fosil paus biru ini. Tunggu apa lagi, datang dan saksikan langsung fosil makhluk raksasa laut ini dari dekat. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *