Satu Orang Klaster Gowa Positif Rapid Test dan NTT kembali ke Zona Merah, Pembatasan Aktivitas Masih Berlanjut

Satu Orang Klaster Gowa Positif Rapid Test dan NTT kembali ke Zona Merah, Pembatasan Aktivitas Masih Berlanjut
Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur saat memimpin pertemuan dengan tokoh agama di ruang rapat kantor Bupati Lembata didampingi Sekda Paskalis Ola Tapobali, Senin, 4 Mei 2020.

 

Lembatanews.com–  Menurut rencana pada pertengahan bulan Mei ini Pemerintah Kabupaten Lembata akan mulai membuka aktivitas ibadah dan aktivitas ekonomi di Lembata dengan tetap mematuhi ketentuan jaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan. Namun, rencana itu tak bisa direalisasikan karena setelah melakukan tracking (penelusuran) terhadap klaster Gowa atau para peserta Ijtima Ulama Dunia 2020 di Gowa, Sulawesi Selatan, satu dari empat orang klaster Gowa ternyata positif hasil rapid test. Apalagi, NTT sudah kembali ke zona merah setelah sepuluh orang dinyatakan positif corona hasil Swab.

Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur dalam dialog dengan tokoh agama di ruang rapat kantor Bupati Lembata, Senin, 4 Mei 2020 mengatakan, saat ini Provinsi sudah terdapat sebanyak sembilan orang (tambah satu orang menjadi sepuluh) positif hasil Swab dan NTT yang sebelumnya berada di zona hijau, kini meningkat menjadi zona merah d Ngan potensi penularan sangat tinggi.

Karena itu, lanjut Bupati Sunur, semua ia mengharapkan dalam satu dua Minggu ke depan sudah melakukan aktivitas setelah sudah bisa melakukan pencegahan. Hanya saja NTT sudah masuk zona merah dengan sepuluh sudah dilakukan swab dan beberapa rapid test positif.

Sehingga, ia tak bisa mengambil kebijakan secara parsial di daerah.

“Sangat dilematis dan sangat sulit. Tapi berkeinginan ibadat kembali berjalan baik dalam kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Jagan lagi berlama-lama dan akhirnya tidak bisa beraktivitas,” katanya

Dikatakannya, drngan melihat kondisi terkini, maka semua komponen diminta berpikir secara rasional dan dalam kondisi seperti ini, ia mengharapkan adanya kebesaran hati u tuk mengerem apa yang diinginkan demi kepentingan orang banyak. “Melihat satu-kesatuan masyarakat Lembata. Itu yang saya mau. Belum bisa lanjutkan hasil pembicaraan di Dekenat dan kumpulkan lagi untuk bicarakan. Surat pembatasan terdahulu belum dicabut, pembatasan ibadah masih tetap dilakukan,” tegas Bupati Sunur.

Deken Lembata Romo Sinyo da Gomes pada kesempatan itu mengatakan, sudah untuk kesekian kalinya bertemu untuk membicarakan hal yang sama. Mencermati wabah Covid-19 di Lembata dengan adanya penambahan satu positif rapid test sangat mengagetkan, bahkan ada yang marah dan jengkel. Beberapa reaksi yang muncul.

Karena itu, lanjutnya, mewakili Gereja Katolik ia ingin menyampaikan bahwa Gereja Katolik tetap berpegang pada surat Uskup Larantuka untuk menghentikan semua aktivitas keagamaan yang melibatkan banyak orang.

“Ini sebagai bentuk dukungan kami dalam membantu pemerintah mencegah Covid-19. Bapak Uskup.meminta srgenap umat Katolik untuk berdoa agar wabah ini segera berakhir dan tetap mengikuti petunjuk dan apa yang dilakukan pemerintah,” kata Romo Sinyo..

Dikatakannya, setelah rapat di Dekenat dan ada rencana membuka kembali aktivitas keagamaan, ia sudah berbicara dengan Uskup. Uskup pada pembicaraan itu menyampaikan bahwa suratnya terdahulu belum dicabut dan semua ibadah tetap dilakukan dari rumah masing-masing dan mendukung arahan pemerintah.

“Dan harapkan agar apa yang disampaikan Bupati perlu kebesaran hati menjaga kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi dan satu dua kelompok. Apa pun upaya dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk penanganan Covid-19 kami akan tetap selalu mendukung,” tandas Romo Sinyo.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lembata Abdurahman S Sarabiti mengatakan, pada dasarnya MUI berkomitmen mendukung semua program pemerintah dalam penanganan dan upaya bersama memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Umat Islam dalam situasi ini, lanjutnya, tetap mengacu pada fatwa MUI dalam kaitan dengan pelaksanaan ibadah di era wabah dan tetap komitmen pada maklumat untuk membatasi umat pada solat di masjid dan diganti denga solat di rumah.

“Kalau kondisi terkendali sudah bisa normal dan kembali tapi karena kondisinya berubah dengan penularan tinggi maka tetap komitmen drngan fatwa MUI,” kata Sarabiti. (tim lembatanews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *